Dalam hidup ini, kaya-miskin, senang-menderita, jelek-ganteng, pinter-tidak pinter, sukses-tidak sukses, pemimpin-rakyat, terkenal-tidak terkenal itu tidak penting. Itu semua sama saja. Itu semuanya hanyalah perbedaan peran, fungsi dan posisi kehidupan. Hidup ini kan hanya sandiwara. Semua bisa menyelamatkan atau mencelakakan diri tergantung kita melakoninya. Karena semua bisa menyelamatkan atau mencelakakan, menjadi tidak penting kita berada di peran dan posisi yang mana. Menjadi tidak penting menjadi orang kaya atau miskin, sukses atau tidak sukses, senang atau menderita. Intinya bukan di peran-peran itu, tapi apakah itu semua menjadi kebaikan atau tidak, menjadi penyelamat hidup atau tidak, menjadi sarana kedekatan kita pada Allah SWT atau tidak. Begitu banyak bukti orang kaya, sukses, senang, ganteng dan terkenal, jangankan di akhirat, di dunia saja sudah celaka dan menderita karena lupa diri, tidak bersyukur, akhlaknya buruk, atau tidak mau beribadah. Yang miskin, jelek, tidak pinter, rakyat, tidak terkenal juga sama. Tidak ada jaminannya bila kita kaya, sukses dan senang akan lebih banyak beramal, banyak beribadah dan akan selamat. Ada beberapa sahabat Nabi, yang meminta dido’akan oleh Nabi agar menjadi orang kaya, tapi Nabi tidak mendo’akannya karena tahu, dengan kekayaannya ia malah akan celaka. Karena itulah, dalam berdo’a kita tidak dianjurkan meminta itu semua, tapi minta selamat dunia dan akhirat. Makanya, janganlah silau dengan bunga-bunga kehidupan, jangan takjub dengan pesona-pesona dunia. Yang akan menyelamatkan kita adalah keikhlasan menerima peran-peran itu, kemudian mensyukurinya dan mengisinya dengan banyak beribadah kepada Allah SWT. Kita ingin bahagia atau celaka semuanya sudah jelas, kita lah yang menentukannya sendiri!!
(Bandung, Sabtu 7 Maret 2009, 11.44)

Kalau bahagia dan celaka itu yang menentukan diri kita sendiri tanpa ada ketelihatan Tuhan sema sekali maka itu paham Qodariyyah/Mu’tazilah : memang msalah ini perlu pembahasan secara Khusus dan sulit secara akal karena Din bukan prodak akal … tetapi yang jelas Islam ahlussunnah cara memahaminya tidak demikian (yakni wasathoh) jalan tengan berdasarkan dalilyang kuat) diantara dua Paham Qodariyah dan Jabariyah, Allahu A’lam bhishoab