Haji Mukhtar Desa Rancapanggung dan Sejarah Islam di Cililin Bandung

30/11/2019

 

Uyut Haji Muhtar - Copy

Menemukan foto keluarga di zaman kolonial, foto Jajaran Pengurus Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin Bandung tahun 1930. Yang dilingkari merah adalah Kepala Desa Rancapanggung, Rd. Haji Mukhtar dari tahun 1930 sampai 1942, ketika pendudukan Jepang baru mulai. Keterangan foto ditemukan di website Pemerintahan Desa Rancapanggung – Cililin.

Menurut situs desa itu, pada tahun 1930, di Jakarta terbentuk Fraksi Nasional dalam Dewan Rakyat yang beranggotakan sepuluh orang dan diketuai oleh M.Husni Thamrin dengan tujuan menjamin tercapainya kemerdekaan nasional dalam waktu yang sesingkat mungkin. Keterangan tentang Bersamaan dengan peristiwa itu, Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin Bandung, telah mempunyai seorang Kepala Desa bernama Rd. H. Mukhtar tanpa ada pemilihan namun diangkat langsung oleh masyarakat dengan pertimbangan dilihat dari wibawa dan pengarunya yang kuat di mata kolonial Belanda.

Rancapanggung tahun 1930an, belum memiliki kantor pemerintahan desa dan pasar desa. Rd. H. Mukhtar diangkat menjadi Kepala Desa Rancapanggung yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Rancapanggung seluas kurang lebih 4.000 M demi untuk kepentingan masyarakat umum Desa Rancapanggung khususnya pada umum nya se-kecamatan Cililin, maupun di luar kecamatan Cililin. Bupati Bandung saat itu adalah R.A.A. Wirantakusumah V (Dalem Haji), masa pemerintahan 1920-1921 dan 1935-1942. Masa pemerintahan Kades Haji Mukhtar tahun 1930 – 1942 ini persis sama dengan masa kepemimpinan R. Oto Iskandar Dinata sebagai Ketua Umum Paguyuban Pasundan (1930-1942).

Menurut sejarah lisan dari anak keturunannya, Rd. Haji Mukhtar beristri empat dengan kekayaan tanah yang sangat luas. Dari salah satu istrinya, Rd. Haji Mukhtar meninggalkan anak yang menjadi ulama/ajengan ahli ilmu Falak di Rancapanggung, bernama Haji Arifin (1907 – 1997). Haji Arifin adalah kakek saya sendiri dari garis ibu. Menatap foto itu, Kades Rancapanggung yang seorang haji, kemudian mengembangkan imajinasi sejarah saya lebih jauh tentang peranan haji zaman kolonial dan islamisasi di daerah Cililin. Yang tadinya hanya menikmati foto jadi tulisan panjang tentang islamisasi di kampung halaman uyut saya sendiri.

Kepala Desa Rancapanggung pada masa kolonial adalah seorang haji sesungguhnya merupakan kekecualian sejarah karena umumnya haji-haji zaman kolonial tidak jadi bawahan Belanda, melainkan mengurus pesantren, menjadi kyai dan mengajar ngaji. Yang menjadi bawahan langsung pemerintah Belanda adalah para bupati, pangreh praja dan uleebalang di Aceh. Tetapi, situs Desa Rancapanggung menyebutkan Rd. Haji Mukhtar “dilihat dari wibawa dan pengaruhnya yang kuat di mata kolonial Belanda,” menjadi sangat mungkin. Selebihnya, karena Cililin sejak lama dikenal sebagai kota santri, dimana Rd. Haji Mukhtar adalah salah satu produknya yang konon beliau nyantri ke beberapa pesantren hingga ke wilayah Banten dan kemudian menjadi haji. Cililin memang sudah lama mendapat julukan “gudang santri dan pabrik haji.” Kota Santri adalah istilah yang diberikan kepada kota-kota yang memiliki banyak pondok pesantren, termasuk wilayah Bandung bagian barat. Menurut data Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat, terdapat lebih dari 450 pesantren yang ada di Bandung Barat yang kebanyakan tersebar di wilayah bagian selatan.

Banyaknya jumlah pesantren tak terlepas dari nilai historis dakwah Islam abad ke-17 yang dibawa ke wilayah Cililin yang dikembangkan oleh salah ulama sufi asal Banten yang ada garis keturunan ke Cirebon dan Demak, bernama Muhammad Safi’i dan Syekh Abdul Manaf. Muhammad Safi’i dikenal dengan sebutan Pangeran Atas Angin yang makam ziarahya terdapat di Pesantren Dawuan, Cijenuk, Cililin hingga sekarang. Kemudian, Syekh Abdul Manaf adalah ulama yang meninggalkan situs ziarah, Makam Mahmud di Cigondewah. Kedua ulama ini bertugas menyebarkan Islam di wilayah Bandung selatan ketika Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Maulana Yusuf abad ke-16 (1568-1580) dan Kesultanan Cirebon diperintahkan oleh Panembahan Ratu.

Tulisan Rifkiyal Robani dalam situs Santripedia, tampaknya bersumber tradisi lisan, menjelaskan bahwa nama-nama desa di wilayah Kawedanaan Cililin semuanya berasal dari suasana-suasana persinggahan islamisasi yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Syafi’i. Menurutnya, utusan dari Keraton Banten yang pertama kali bermukim di daerah Cililin adalah ulama sufi pengembara yang bernama Muhammad Safi’i dan Syekh Abdul Manaf. Kedua orang itu semula singgah di tempat yang nyaman sambil mengajarkan ajaran Islam. Nama tempat tersebut sampai sekarang diberi nama Sindangkerta. Sindang berarti berhenti, Kerta berarti nyaman atau aman yang sekarang telah menjadi Kecamatan Sindangkerta.

Dari Singdangkerta, pindah ke sebelah utara untuk meneruskan ajaran agama Islam dan singgah di suatu tempat. Nama tempat yang baru ini diberi nama Kampung Panaruban. Panaruban berasal dari takharub berarti mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Di Panaruban dimulailah mengajarkan agama Islam dengan melalui dzikir. Suara dzikir tersebut oleh masyarakat sekitarnya terdengar bergema yang dalam bahasa Sunda disebut “ngagerendung”. Lama kelamaan kampung Panaruban berubah menjadi kampung Gerendung. Kata Gerendung ini bisa juga dari kata gerendeng dalam bahasa Sunda, yang berarti suara yang halus.

Kampung Gerendung makin lama makin ramai didatangi oleh para santri yang akan menuntut ilmu agama. Akhirnya berkumpullah para santri di kampung itu. Tempat berkumpulnya para santri tersebut dinamakan “Jenuk”. Jenuk berarti kumpul, yang dikenal dengan istilah Batur Jenuk Balarea artinya semuanya orang disini saudara. Sekarang nama kampung itu berubah menjadi Cijenuk hingga kini.

Perkembangan pesantren Cijenuk makin semarak terutama bila mengadakan peringatan Maulid Nabi. Macam-macam jenis makanan dihidangkan termasuk kue basah. Pembuatan kue basah berasal dari kampung sebelah utara Cijenuk sampai sekarang kampung tersebut diberi nama Citalem (Talem berarti wadah kue basah). Citalem sekarang menjadi sebuah desa. Pada waktu itu belum menggunakan peralatan hidangan makanan dari bahan-bahan hasil dari teknik industri seperti rantang, gelas kaca, dan cerek. Untuk mewadahi air minum, sayur daging, tuak enau (teres berarti lahang). Panerasan berarti tukang “nyadap”. Selalu mempergunakan “katung” yaitu lodong pendek. Katung yang lebih pendek lagi diberi nama “mangkok” atau “bekong”. Pembuatan katung ini dari suatu kampung yang terletak sebelah barat Cijenuk. Nama kampung ini sampai sekarang diberi nama “Cipongkor.” Pongkor artinya lodong pendek atau katung. Sekarang Cipongkor menjadi Kecamatan.

Setelah berlangsung lama, datang lagi seorang ulama Sufi dari Cikundul Cianjur. Orang ini berpangkat Wedana Dalem (Wedana Keraton). Sehingga kepada orang ini diberi julukan Eyang Sangga Wadana hingga kini. Yang akhirnya sangga wedana ikut bermukim di Cijenuk sampai orang tersebut mengakhiri hayatnya, dan dimakamkan di makam Cijenuk bersama atau berdekatan dengan makam Mohammad Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf tersebut diatas. Para santri Cijenuk yang mandiri menyebarkan Ajaran Islam diantaranya Nayaganta mendirikan Pesantren di pinggiran Sungai Cipatik. Sampai sekarang tempat tersebut diberi nama Nunuk yang berarti berkumpul. Kemudian yang kedua adalah Nayaguna mendirikan pesantren di pinggiran Sungai Citarum. Tempat itu sekarang diberi nama Kampung Depok. Depok berarti pemukiman atau Padepokan. Adapun kampung pinggiran sungai tersebut berkembang menjadi sebuah desa yang diberi nama Desa Citapen yang berasal dari kata Citepian. Yang ketiga adalah Nurasidi seorang penulis Al Quran. Orang tersebut mendirikan Pesantren Bongas terkenal dengan julukan “Ulama Bongas”. Setelah berakhir hayatnya dimakamkan di puncak bukit “Pasirpogor Cililin”. Yang ke empat dengan Julukan Dalem Kemuludan mendirikan Pesantren di Cinengah Gununghalu, dan seterusnya. Demikian penelusuran Rifkiyal Robani. Walaupun masuk akal, untuk membenarkannya diperlukan sumber-sumber penguat berupa naskah-naskah.

Kaitan antara Cililin sebagai kota santri, banyaknya haji dan pesantren hingga ke sejarah islamisasi yang dikembangkan Syekh Muhammaf Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf sejak abad ke-17 memerlukan penelusuran sejarah yang lebih mendalam lagi dengan sumber-sumber naskah yang dapat dipercaya. Mudah-mudahan ke depan semakin tergali oleh generasi berikutnya para pecinta sejarah. Aamiin.***


Inilah Ciri-ciri Agama yang Benar

13/07/2015

APAKAH AGAMA ANDA AGAMA YANG BENAR? SUDAHKAH ANDA MEMERIKSA KEBENARAN AGAMA ANDA? PERLU DIBACA OLEH SEMUA ORANG YANG MENGANUT AGAMA!!

______________________

Semua penganut agama meyakini bahwa agamanya paling benar diantara yang lainnya. Sah dan wajar. Kalau tidak diyakini kebenarannya, mana mungkin agama itu diikuti pemeluknya. Tapi, klaim agama yang benar bila hanya berdasarkan doktrin agamanya masing-masing adalah ranah keyakinan yang “tak bisa didialogkan.” Bisakah kebenaran agama didialogkan? Sangat bisa!! Selama ini, “semua orang” menganggap tidak bisa. Caranya, jangan bicara keyakinan tapi bicara kelogisan, pemahaman dan akal sehat. Di bawah ini adalah lima ciri agama yang benar dalam kehidupan yang bisa dimengerti dan diterima oleh semua orang dan semua penganut agama. Read the rest of this entry »


Keren!! Debat di kelas tentang Islam dan Terorisme

29/06/2015

Seorang dosen asal India, kemungkinan besar Muslim, menjelaskan kuliah tentang Islam di sebuah kelas ruang kuliah di perguruan tinggi di Amerika. Mahasiswanya tampak dari berbagai negara, jumahnya sekitar 25 orang. Saya tuliskan dan terjemahkan dialog dalam video itu. Read the rest of this entry »


Lauren Booth: “Jika ini Islam, saya ingin menjadi Muslim!”

28/06/2015

image

Oleh Kafil Yamin

Ramadhan 1429 H. (2008), wartawan cantik BBC Lauren Booth pergi ke Gaza. Setelah melalui berbagai pemeriksaan dan hambatan oleh pasukan Israel, sampai juga ia di sebuah perkampungan Palestina. Read the rest of this entry »


Perempuan Luar Biasa. Dr. Gina Puspita : Anak Saya Senang Punya Banyak Ibu

07/06/2015

“Perempuan biasa” dimadu atau dipoligami itu biasa. Tapi, perempuan terdidik sekelas Gina Puspita Ph.D, ahli pesawat yang meraih doktornya di  Ecole National Superieure de l’Aeronautique et de l’Espace (Ensae) Prancis, sungguh luar biasa. Lebih dari itu, bukan dia yang dipoligami tapi mempoligami diri dengan mencarikan sendiri calon istri kedua, ketiga dan empat buat suaminya. Menyandarkan dan mengembalikannya segalanya kepada Allah adalah kuncinya dalam segala urusan sehingga ia merasa nyaman dan tenang. Dr. Gina adalah sebuah cermin.


Dr. Gina PuspitaHidayatullah.com, Senin, 11 Desember 2006

Dr. Gina Puspita mencarikan sendiri madu istri kedua sampai keempat) untuk sang suami. Tapi tak mengaku tertindas. “Poligami itu enak dan perlu, ” katanya Read the rest of this entry »