Rindu yang Menghujat-hujat

Moeflich Hasbullah

a

Tersiksa sukmaku
dihantui dahsyatnya bayangan-Mu
rindu menghujat kalbu
gelisah mengoyak dada
cinta membakar jiwa

engkau datang dan datang lagi
melambai-lambai dalam kesunyian
menyapa dalam ketiadaan
menatap dalam kehampaan
mengelus dalam keheningan

Oh Terkasih…
mengapa Engkau lakukan semua ini?
kepedihan apapun yang Kau timpakan kepadaku
semuanya akan ku ubah menjadi bergelas-gelas minuman anggur
yang menyejukkan dahagaku!!

Bandung, 271207
di sebuah keheningan malam

One Response to Rindu yang Menghujat-hujat

  1. C! says:

    Wahh kang, saya senang dengan puisi ini. Terasa benar kecintaan yang mendalam pada Nya dan pencarian hikmah karena kecintaan itu. Memang benar…manusia itu dibatasi pemahaman yang terbatas berupa prasangka. Ketika ada suatu rasa bergejolak kita dengan mudah melabelinya sebagai “kepedihan”. Padahal menurut Nya itu adalah suatu sentuhan lembut untuk mengingatkan kita akan kasih Nya, untuk mengingatkan kita bahwa kita telah melenceng dari memaknai sesuatu yang seharusnya berdasarkan pada standarNya….
    Puisi ini membuat saya teringat kutipan bijak dari Rumi yang merupakan kalimat favorit saya ketika saya dahaga akan cinta Nya…
    “Listen to your essential self! when you feel longing, be patient…” Karena kita hanya bisa mendengar dan merasa cinta Nya ketika kita mendengarkan hati nurani kita yang fitrah. Wassalam. C!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: