Popularitas

Moeflich Hasbullah

a
imagesPOPULER. Emh.., sebuah kata yang mempesona. Ya, kata ini sangat menyihir kehidupan manusia. Kebanyakan manusia menginginkan dirinya populer. Jarang sekali orang di zaman kiwari yang tidak ingin populer apalagi saat kesempatan populer itu terbuka di depan mata. Karena pesonanya yang luar biasa, banyak sekali orang ingin populer dengan melakukan apa saja, dari cara-cara yang positif hingga yang negatif. Popularitas memang menjanjikan banyak hal: dikenal luas, namanya melambung, memudahkan perolehan uang, sering dijadikan ukuran kesuksesan dan dipuja-puji sebagai orang hebat.  Bayangkan, betapa kerennya menyandang sebutan artis populer, penyanyi populer, pengusaha populer, politikus populer, penulis populer, pemikir populer, olahragawan populer, da’i populer, ulama populer, pemimpin populer dan seterusnya.

Lalu, kalau sudah populer mau apa? Benarkah popularitas menguntungkan? Bagaimana sesungguhnya kehidupan yang dalami oleh orang-orang populer? Benarkah mengenakkan atau justru sebaliknya? Di zaman orang sudah dirasuki popularitas, kita perlu merenungkannya kembali untuk menemukan hakikat yang menjadi dambaan jutaan orang dalam hidup ini.

Hakikat Popularitas
Terbersit keinginan hidup populer tentu sah-sah saja, wajar dan manusiawi.  Tetapi yang harus diingat, popularitas bukanlah tujuan hidup dan tidak menunjukkan kualitas hidup. Banyak orang populer yang pola, kesadaran dan kualitas hidupnya buruk. Popularitas bukan ajaran hidup, ia hanya sebuah kembang kehidupan. Orang ingin populer karena pada dasarnya setiap orang senang dipuji dan popularitas berkaitan erat dengan pujian dan sanjungan. Memuji sewajarnya adalah positif bila motivasinya memberikan penghargaan. Tapi, menerima pujian harus hati-hati. Menurut agama dan kesehatan jiwa, sering menerima pujian itu buruk. Sebaliknya, yang harus banyak kita terima dalam hidup adalah masukan, teguran, kritik dan nasihat, bukan pujian apalagi sanjungan.

Pengaruhnya pada jiwa seratus persen berbeda. Pujian dan sanjungan bisa membuat seseorang terlena dan lupa diri. Teguran dan nasehat akan membentuk kesadaran dan meningkatkan kualitas diri. Karena itulah, sebagai simbol kesadaran moral, Nabi Muhammad SAW pernah menganjurkan untuk menyiramkan pasir pada wajah orang yang suka memuji-muji kita. Pada kesadaran umum, pujian justru kita terima dengan senang dan membuat bangga diri. Bangga diri bahasa agamanya adalah ‘ujub. ‘Ujub itu negatif karena akan membentuk sikap mental senang dipuji. Padahal manusia itu pada dasarnya lemah dan banyak kekurangan. Lain kata, manusia tidak layak dipuji dan menerima pujian. Karenanya, Islam mengajarkan, bila kita dipuji, kembalikan pujian itu kepada yang berhak menerimanya yaitu Tuhan Maha Pencipta dengan mengatakan: “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin!” (segala puji hanyalah milik Allah Tuhan Semesta alam).

Orang yang senang dipuji cirinya sering melebih-lebihkan diri agar mendapat pujian. Ia akan melakukan apa saja, termasuk yang merendahkan dirinya, agar pujian ia terima atau agar populer. Senang dipuji saja sudah salah, apalagi caranya salah. Dua kali keburukan dilakukan. Popularitas sesungguhnya adalah godaan hidup. Popularitas akan memalingkan orang dari niat-niat lurus dan tulus. Pujian, sanjungan, tepukan tangan, hormat orang dan kekaguman adalah hiasan yang melekat pada popularitas. Popularitas dan pujian adalah godaan besar dalam berbuat kebaikan sehingga jarang orang yang lulus. Misalnya, sebutan da’i populer akan mudah melencengkan niat-niat dakwahnya bukan karena Allah tapi karena pujian dan uang. Sesungguhnya, ketika seorang mubaligh mendapat sebutan “da’i populer,” ia harus segera melakukan introspeksi untuk meluruskan kembali niat-niatnya dalam berdakwah. Bila sebutan itu mendorongnya semakin semangat berdakwah, ia justru harus segera berhenti bila ingin memelihara niatnya yang tulus. Senang dipuji bahasa agamanya riya. Riya adalah kesadaran negatif yang harus dijauhkan apalagi oleh orang yang mengajarkan kesadaran agama. Itulah beratnya godaan popularitas.

Dampak Buruk Popularitas
Popularitas, dalam bentuk apapun, tanpa sadar, kebanyakan berdampak negatif bagi seseorang. Minimal mematrikan perasaan senang dipuji. Selebihnya adalah, kehidupannya bisa tidak lagi alami, tidak normal dan tidak wajar. Ini sudah banyak contoh. Banyak artis populer dan orang terkenal di Indonesia yang kehidupannya tersiksa oleh popularitasnya sendiri. Ia tidak lagi bebas, kehilangan ruang privasinya, kehilangan normalitas dan kewajaran hidupnya. Kemana-mana tidak tenang dan nyaman karena dikenal, didekati dan dikuntit orang, dari yang hanya memuji, mengagumi hingga yang mengganggu. Apalagi bila popularitas bertemu dengan spesies yang bernama wartawan. Bagi media massa, orang-orang populer adalah nutrisi yang akan membesarkan medianya. Apalagi media gosip atau media sensasi, menjual popularitas seseorang adalah periuk nasinya. Hasil wawancara seringkali dipelintir menjadi sensasional dan bercitra buruk untuk menarik perhatian. Pengelola media gosip mencari makan dan menghidupi keluarganya dari menjual sensasi dan menggosipkan orang, mengutak-atik, mempersoalkan dan mempublikasikannya. Akibat buruk untuk dirinya, Insya Allah, rizkinya tidak akan berkah. Akibat untuk subyek berita, banyak orang populer merasa tersiksa, stress, kehidupannya terganggu, kehilangan ketenangan dan kenyamanan hidup bahkan sakit oleh popularitas yang dimilikinya. Desi Ratnasari, Luna Maya termasuk Aa Gym adalah representasi dari ratusan contoh yang pernah resah dan terganggu oleh popularitasnya sendiri. Bila orang sudah tersiksa oleh popularitasnya sendiri, lalu apa artinya populer? Senangnya tentu saja banyak, tapi, menderita dan tersiksanya juga banyak, bahkan mungkin lebih banyak.

Buruknya popularitas juga sering muncul dari banyaknya ungkapan, stigma atau klaim negatif yang menempel pada kata “populer.” Misalnya, “Emh… dia dulu sederhana, mau menyapa kita, mau duduk dimana aja, mau ngobrol bersama kita, sekarang sudah populer jadi lupa, sombong.” Atau, “emh… itu mubaligh, dulu nerima honor berapa saja, diundang kemana aja mau, ke masyarakat kecil di kampung datang. Sekarang sudah populer, jadi pilih-pilih, pasang tarif, susah dihubungi. Ditemui pun jadi ribet, memakai sekretaris, diseleksi. Ekspresinya sudah berbeda, jaim, tidak lagi seperti dulu.” Ini adalah ungkapan-ungkapan umum yang sering dirasakan oleh masyarakat kepada orang yang menjadi terkenal dan sibuk dengan popularitasnya. Banyak orang yang setelah menjadi populer, tanpa sadar ada orang-orang tertentu yang kehilangan dirinya. Popularitasnya tidak bisa disalahkan, yang salah adalah perilakunya yang berubah.

Popularitas yang Benar

Bagaimanakah popularitas yang baik? Popularitas yang baik adalah popularitas yang tidak berdampak buruk atau tidak merubah sikap mentalnya menjadi negatif. Popularitas yang baik adalah popularitas yang tidak mendegradasikan nilai-nilai dan kesadaran dirinya sebagai manusia yang mulia. Popularitas yang baik hanya akan diraih dengan cara yang benar. Cara yang benar adalah, seharusya popularitasnya didapatkan sebagai akibat dari kerja keras, buah dari keikhlasan, hadiah dari dedikasi yang tulus dan murni, hasil dari mengekspresikan atau mengaktualisasikan potensi diri secara maksimal tanpa terbersit sedikit pun niat-niat dan keinginan menjadi populer. Dengan kata lain, popularitas yang benar adalah popularitas yang didapatkan bukan sebagai keinginan, tujuan, apalagi angan-angan.

“Popularitas prestasi” berbeda dengan “popularitas keinginan.” Dampaknya pun, secara psikologis sangat berbeda. Popularitas prestasi mendorong kerja keras, popularitas keinginan memproduksi khayalan dan angan-angan. Bagi popularitas yang benar atau diraih karena prestasi, dampak buruk pun tidak menjadi keburukan, tetap sebagai kebaikan bahkan menambah nilai dan bobot popularitasnya. Kita tahu Sokrates harus minum racun, Umar bin Khattab ditikam dari belakang, Utsman bin Affan dibunuh, Syekh Siti Jenar harus diadili dan mempercepat kematiannya, Galilio Galilei dipenjara seumur hidup, Al-Hallaj dihukum gantung, John F. Kennedy ditembak, John Lennon terkapar di ujung pistol penggemar fanatiknya. Kecuali Presiden Bush yang di akhir masa jabatannya wajahnya dilempar sepatu, kasus-kasus pembunuhan tersebut, bukan karena keburukan popularitasnya, tidak juga memperburuk citranya. Sejarah mengenang kematian mereka dengan kemulian. Kita menyandingkannya dengan gelar syahid, pahlawan, tokoh atau pejuang kemanusiaan. Kematiannya justru membentuk legenda kepahlawanan dan puja-puji atas popularitas mereka.

Apa artinya? Ini adalah pesan bahwa dalam hal apapun, misi dan tugas mulia kita sebagai manusia adalah membuat prestasi setinggi-tingginya, karya sebanyak-banyaknya, didasari niat lurus dan sikap tulus. Kemudian, biarkanlah kehidupan memberikan balasannya, menjadi populer atau tidak. Tuhan tidak akan menyia-nyiakan setiap kebaikan dan prestasi yang dilakukan seseorang. Popularitas hanyalah dampak. Selebihnya, adalah godaan yang sering memalingkan kita dari tujuan mulia dan melencengkan dari niat-niat tulus dan lurus! Wallahu’alam[]

13 Responses to Popularitas

  1. [[bondiebluesy]] says:

    salam kenal..

  2. I really liked reading your site many thanks. I most certainly will add your blog to my blog reader so from now on I’m able to study any more of your articles. zwsp2109ewr

  3. my page says:

    You are a very intelligent individual!

  4. Fernando says:

    Another 1 bites the dust , or at minimum another web log post stings the dust. Your weblog rocks my article network endure the terrifying causes.

  5. Dissemblers oftener deceive themselves than others. – German Proverb

  6. browsergames says:

    Have you thought about adding some videos to your article? I think it might enhance viewers’ understanding.

  7. Robert Frost~ Theres nothing Im afraid of like scared people.

  8. Hey there its just me back again simply said I should probably return back again and check out precisely how the talk seemed to be going.

  9. rather beneficial stuff, all in all I picture this is worthy of a bookmark, thanks

  10. Wanted to drop a comment and let you know your Rss feed isn’t working today. I tried adding it to my Google reader account but got nothing.

  11. Hi fellas! Im asking yourself if an individual could possibly assist me out! Really I desire to watch this particular page at my personal brand new iPad, nevertheless it does not exhibit up appropriately, So I was pondering if an individual can suggest me any optimal remedy? I dont know but really should I attempt and uncover out an update for my software program or anything else? I know this can be some thing kinda off the subject, but please replace me and many thanks upfront for the help! Sophie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: