Perlukah Kritis dalam Kebenaran?

Moeflich Hasbullah

a

Ketika sedang berdiskusi soal sikap kritis hubungannya dengan kebenaran yang ditemukan, saya jadi teringat pada apa yang saya alami. Ada sebuah episode dalam lembaran hidup saya yang saya rasa perlu berbagi kepada siapa saja karena bisa dialami oleh semua orang, yaitu soal truth quest, pencarian kebenaran. Ceritanya, dulu saya punya teman. Dia sahabat biasa saya sejak mahasiswa sampai menjadi staf pengajar di kampus tempat asal kuliah. Tapi, “secara tiba-tiba” saya menunjukkan diri menjadi muridnya, sangat hormat dan taat kepadanya. Ini tentu mengagetkan sebagian orang. Sebuah keganjilan. Bagaimana mungkin seseorang menjadi menjadi murid kawannya? Soal jadi murid mungkin masih wajar, tapi ini dengan begitu hormat dan taat padahal sebagai sahabat kemampuannya satu level. Apalagi, yang lebih membuat kaget, sebagai orang yang pernah menempuh studi di negara maju, saya semestinya menunjukkan daya kritis, bukan taat. Dalam pandangan orang-orang, mempercayai apalagi menjadi murid orang yang selevel, itu jelas kehilangan daya kritis, melemah menjadi pentaat dan pengagum. Komentar-komentar dan kesan merendahkan pun muncul. Saya sendiri tidak pernah meresponnya, membiarkan segalanya berlalu sesuai berjalannya waktu sebab ini menyangkut pengalaman subyektif. Dengan pede, sikap saya seperti Nabi:  “Allahummaghfir lahum, fainnahum la ya’lamun” (Ya Allah, ampunilah mereka karena mereka sesungguhnya tidak tahu!) Itu saja.

Apa yang mereka tidak tahu? (atau yang mereka tidak mau tahu?) Tentu saja ketaatan saya ada alasannya dan bukan tiba-tiba. Yang saya lihat dan alami sendiri adalah, setelah mengalami sakit parah selama 7 tahun, teman saya ini badannya kurus, lumpuh dan matanya menjadi buta karena penyakit diabetes yang menerjangnya bertahun-tahun. Tapi, dalam kelumpuhan dan kebutaannya itu, ini yang mengagetkan saya dan ini yang tidak diketahui orang, tiba-tiba ia selalu hanya bicara kebenaran, dzauq-nya menjadi peka dan pembacaan spiritualnya tajam, berusaha membersihkan diri dan memelihara diri dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kecil, kemudian mengajarkan ilmu luar biasa yang diterimanya dalam keadaan buta, yang tidak dimiliki sebelumnya dan tidak pernah dimiliki orang lain dan belum pernah saya dengar dan temukan dari orang bahkan ulama-ulama besar. Singkat kata, ia menjadi guru spiritual yang penuh wibawa. Bagi saya, sungguh ini anugrah besar. Saya merasa menemukan apa yang saya cari.

Sahabat saya itu, “tiba-tiba” bicaranya selalu tentang Allah, Al-Qu’ran, kebenaran, nasihat dan bimbingan kehidupan. Pengalaman spiritualnya, ilmu, nasehat dan ajarannya tidak ada yang menyimpang dari syari’at agama. Kecerdasannya pun menjadi berlipat ganda. “Daya kritis” yang saya miliki, yang pernah saya lontarkan, semuanya tumbang dihadapannya. Dan tidak hanya saya, teman lain yang menjadi muridnya juga sama. Kita yang sering berkumpul dan bertanya, menggugat, kritis, semua tumbang dihadapannya. Dan ini, tidak ada yang tahu dan mengalami, kecuali yang sering kumpul dan merasakannya sendiri.

Tapi, terus terang, saya agak terpengaruh juga. Sedikit. Ketika saya keluhkan komentar orang-orang kepada guru baru saya ini, bahwa saya melemah dan tidak memiliki daya kritis lagi, beliau menjawab dengan jawaban yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup. “Jawab pertanyaan ini Muf. Apakah Umar bin Khattab yang dikenal cerdas itu kritis kepada Rasulullah? Apakah ketika Rasulullah menerangkan wahyu, memberikan nasihat dan bimbingan agama kepada Umar yang garang itu, Umar bersikap kritis? Apakah Umar membantah Muhammad dengan argumen-argumen?” Saya menemukan lagi kebenaran dari guru saya ini. Semakin kuat kesetiaan saya.

“Tidak kan? Yang terjadi setelah Umar masuk Islam adalah menjadi sangat taat pada Muhammad bahkan menyerahkan jiwa raganya untuk membela Muhammad, untuk keyakinan yang dianutnya. Ingat tidak, apa yang dikatakan Umar yang rasional dan cerdas itu, saat ia mendengar Muhammad wafat? “Barangsiapa siapa mengatakan Muhammad telah mati akan kutebas batang lehernya!” Apa artinya ini? Kecintaannya pada Muhammad telah mengalahkan rasionalitasnya. Apa ini salah? Bukan soal salah dan benar, tapi begitulah kalau cinta sudah memenuhi hati seseorang. Seperti kita, Umar menemukan dan merasakan kebenaran pada diri Muhammad. Kecerdasan Umar itu takluk dihadapan kebenaran, kelurusan hati dan kemuliaan akhlak Muhammad.

Begitu juga ente. Ente menemukan kebenaran pada apa yang saya katakan, pada apa yang saya jelaskan. Apa masalahnya? Pada sesuatu yang dirasakan benar oleh hati kita, atau ketika kebenaran menyentuh hati kita, justru sikap yang harus dimunculkan adalah hormat dan taat. Siapapun dia. Justru sikap ente sudah benar. Orang menganggap ente aneh dengan alasan tidak kritis, karena dia tidak merasakannya. Itu saja. Orang yang masih membantah dengan sikap, dengan argumen-argumen pada sesuatu yang dirasakannya benar, adalah orang yang hatinya mati. Itulah qalbun mayit!”

Penjelasan itu sangat berbekas, tidak sanggup saya lupakan. Benar, kalau “kehebatan kita, kegagahan kita, kebenaran kita” dibuktikan oleh daya kritis, argumen-argumen otak dan fikiran rasional, kenapa kita semua tidak pernah mengkritisi Muhammad? Apakah benar ia seorang Nabi? Jangan-jangan bukan. Mengapa kita harus percaya perkataan ulama dan guru-guru kita bahwa Muhammad seorang Nabi padahal kita tidak pernah melihatnya? Mengapa kita tidak pernah meragukannya? Mengapa kita tidak pernah membantah ajaran-ajaran Muhammad, malah selalu mengutipnya tanpa daya kritis? Bukankah mudah percaya, nurut dan taat itu menunjukkan kelemahan diri? Mengapa kita yang pinter, cerdas, rasional, orang sekolahan, kuliah di perguruan tinggi, harus taat bahkan membela dengan jiwa dan raga seseorang yang kita tidak pernah kenal dan bertemu?

Adalah sudah sifat manusia, tidak akan bersikap kritis pada seseorang yang sangat kita hormati, yang telah mengajarkan kebenaran pada kita, yang telah membimbing hidup kita, apalagi ia sangat berwibawa karena kebersihan hatinya, kejujurannya, kelurusan akhlaknya dan sebagainya. Seperti santri pada kiayinya, yang ada adalah sikap hormat dan taat, dan seharusnya memang begitu. Sederhananya, orang bersih dan lurus itu, apalagi ilmunya luas, bukan untuk diajak berbantah-bantahan, tapi untuk diikuti dan ditaati.

Jadi, apanya yang aneh? Siapa yang tidak kritis? Dengan guru saya itu, saya bertemu setiap hari, berdialog setiap hari, berguru setiap malam, mendengarkan uraian ilmunya setiap hari. Ia selalu menegur dan meluruskan kesalahan-kesalahan saya setiap hari. Ketika saya menghormati dan mentaatinya dikatakan aneh, tidak kritis. Kita tidak pernah berfikir bahwa kita yang tidak pernah bertemu Muhammad, jaraknya 1400 tahun, selalu membenarkan, hormat dan tidak sedikitpun meragukan kenabiannya. Kita tidak pernah merasa aneh dengan diri kita. Kita tidak pernah sadar diri kita “kehilangan daya kritis.” Jawaban sederhananya pasti adalah: “Jangan disamakan dong. Muhammad itu kan Nabi, kita tidak meragukannya sedikitpun, kita meyakininya 100%. Dia itu utusan Allah.” Lho? “Mengapa kita percaya dia itu Nabi? Apa dasarnya? Kita tahu Muhammad ada, pernah hidup dan katanya seorang Nabi, semuanya dari orang lain. Mengapa tidak pernah meragukannya? Bukankah bertemu dan melihat pun tidak pernah? Mengapa kita kehilangan daya kritis?”

Mungkin seseorang masih menjawab: “Karena Muhammad itu kenabiannya disebutkan dalam Al-Qur’an, diakui Tuhan.” Lho? Mengapa kita percaya pada kitab suci yang bukan kitab ilmiah? Al-Qur’an itu firman Tuhan, itukan kata orang. Kita tidak pernah mendengar dan menyaksikannya langsung ayat Qur’an turun kepada Muhammad. Akhirnya, jawabannya pasti akan mentok pada soal keimanan. Nah, seperti yang saya alami, itulah soal keimanan. Itulah wilayah subyektif yang sulit di-share pada orang kecuali sama-sama menyaksikannya, atau kita bisa meyakinkannya pada orang.

Menjawab keimanan dengan argumen adalah mismatch, tidak nyambung, salah kaprah. Iman itu soal hati. Selama wilayahnya adalah argumen, kita masih sangat mudah untuk terus mengejarnya dengan pertanyaan mengapa dan mengapa. Para sahabat sebenarnya bukan tidak kritis pada Nabi, tapi kritisitas mereka tumbang di depan Muhammad. Selain tidak ada yang bisa mengalahkan kecerdasan Muhammad, orang akan takluk oleh kebenaran yang dibawa dan ditunjukkannya. Dihadapan beliau tidak ruang untuk kritis, yang ada adalah ketaatan (sami’na wa atha’na). Kritis kepada Muhammad adalah salah (misplace). Ia mengajarkan kebenaran yang mengalahkan kecerdasan.

Tentang Kritis
Kritis adalah daya fikir yang selalu menemukan kelemahan atau kekurangan pada sesuatu kemudian mempertanyakannya. Semakin kritis seseorang semakin banyak ia menemukan kelemahan dan kekurangan pada sesuatu (orang, realitas, ilmu, teori dsb). Apa tujuan kritis? Kritisitas diperlukan untuk melengkapi dan menyempurnakan kekurangan sampai menemukan kebenaran sejati. Selama kebenaran puncak belum ditemukan, kritis terus diperlukan. Tetapi, ketika seseorang sudah menemukan kebenaran yang dirasakannya pasti, yang diyakini bulat, selesailah tugas kritis. Kritis tidak diperlukan lagi. Berganti ia menjadi hormat dan ketaatan. Adalah salah, saat merasakan dan menemukan kebenaran, kita masih bersikap kritis. Buktinya, ketika seorang non-Muslim yang tadinya kritis pada Muhammad lalu masuk Islam karena kesadarannya, masihkan ia kritis pada keyakinan yang telah ditemukan? Adakah ia mengkritisi Allah, Muhammad dan Al-Qur’an? Tidak pernah terjadi. Yang terjadi adalah hatinya luluhtantak menyerahkan segala kepasrahan dan ketaatannya kepada kebenaran puncak yang ditemukannya.

Kesimpulannya, kritis diperlukan dalam wacana keilmuan dan dalam pencarian kebenaran yang belum selesai. Ketika kebenaran puncak sudah ditemukan dan dirasakan oleh hati Anda, seperti merasakan benarnya Allah, Muhammad, Islam, Al-Qur’an, atau guru yang Anda imani, maka kritis sudah tamat dan berubahlah ia menjadi keyakinan dan keimanan. Seharusnya memang seperti itu. Tanpa disadari, kita semuanya sebetulnya seperti itu. Tidak ada lagi sikap kritis dalam kebenaran “puncak.” Bila kita masih kritis kepada apa saja yang kita temukan, itu bagus, tapi artinya kita masih belum menemukan kebenaran. Kita masih terlunta-lunta dalam ketidakyakinan dan ketiadaan pegangan. Wallahu’alam.[]

3 Responses to Perlukah Kritis dalam Kebenaran?

  1. Cipro says:

    Good luck getting people behind this one. Though you make some VERY fascinating points, youre going to have to do more than bring up a few things that may be different than what weve already heard. What are trying to say here? What do you want us to think? It seems like you cant really get behind a unique thought. Anyway, thats just my opinion.

  2. ito indio says:

    outstanding post…

  3. hcg nausea says:

    Hmm it seems like your blog ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog.
    I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to the whole thing. Do you have any tips and hints for first-time blog writers? I’d genuinely appreciate it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: