Menjadi Caleg? Sungguh Kasihan!!

Sekarang ini musim pemilu. Para calon anggota legislatif ramai dimana-mana. Karena sekarang menganut sistem pemilihan langsung, pameran massal baliho memenuhi pojok-pojok penjuru negeri dengan memasang ekspresi wajah sebagus-bagusnya. Mereka berlomba-lomba menjadi anggota DPRD dan DPR Pusat sebagai “lembaga terhormat.” Mereka akan menjadi terhormat, terkenal dan sejahtera dengan menjadi pejabat wakil rakyat itu.

Saya bergumam. Saya kok memandangnya lain. Rasa amat kasihan justru mengalir pada mereka. Mengajukan dan menawar-nawarkan diri menjadi caleg (atau pejabat) adalah bermain-main dengan sesuatu yang amat berat yang akan mereka hadapi kelak. Menjadi anggota DPR/DPRD adalah amanat. Ketika jadi, mereka harus mengemban amanat rakyat. Bayangkan, amanat rakyat, bukan main-main. Bila amanat hanya satu-dua orang tidak terlalu berat, ini amanat rakyat, amanat ribuan dan jutaan orang. Bagaimana kelak akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah bila ada satu saja amanat yng tidak ditunaikan? Allah sudah memperingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfal: 27). Perebutan menjadi caleg persis seperti digambarkan Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72).
Begitu beratnya amanat, bagaimana para caleg itu bisa berlomba-lomba memperebutkannya? Saat langit, bumi dan gunung-gunung tidak sanggup memikulnya, bagaimana manusia menginginkannya bahkan dengan membayar dan mengeluarkan modal? Keamatbodohan yang dinyatakan Allah itu kini sedang dibuktikan dan dipertontonkan oleh manusia-manusia sekarang di depan mata kita!!

Bagaimana seharusnya menjadi caleg yang benar? Menjadi caleg seharusnya benar-benar karena dorongan orang lain dan benar-benar merupakan kepercayaan masyarakat tanpa kita sendiri menginginkannya sedikitpun!! Tanpa mengiklankan diri!! Tanpa ingin jadi dan menang!! Ketika diajukan, kita harus menolaknya. Bila masyarakat tetap memaksanya karena kita benar-benar secara moral dipercaya, barulah kita maju dengan penuh tangguh jawab!! Seharusnya begitu. Sekarang ini?? Na’udzubillahi min dzalik! Sungguh kasihan para caleg itu, bermain-main dengan sesuatu yang amat berat: ancaman Allah kelak!!

(Bandung, 9 Maret 2009, 20.38)

One Response to Menjadi Caleg? Sungguh Kasihan!!

  1. Saharso says:

    Aduh Kang Moeflich….Kata Caleg:”meminta-minta itu inisiatif, sedang didorong-dorong itu malu-malu kucing”.
    Dan mungkin dalam anggapan para caleg itu, menjadi penjabat itu adalah ANUGERAH, bukan AMANAH. Oleh karena itu mereka berSUJUDSYUKUR, bukan MENANGIS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: