Bekerja Tanpa Pamrih

Cerita ini cukup populer di dunia sufistik. Dalam sebuah perjalan sebuah inspeksi ke beberapa daerah, seorang khalifah sebuah negri melihat seorang petani tua sedang menyirami tanaman anggur di kebunnya. Sang khalifah kemudian menghampiri si petani dan menegur, ” Tahukah bapak, bahwa jenis anggur yang bapak tanam adalah jenis anggur yang khas dan langka serta tidak akan berbuah sebelum usia di atas 6 tahun”. Si petani menjawab, ” Benar paduka. Jenis anggur ini memang lama berbuahnya, bahkan bisa sampai 7 tahun baru berbuah”. ” Dan kau tetap tanam?”, tanya khalifah heran. ” Ya paduka, karena jenis ini adalah jenis anggur terbaik”, jawab si petani.
Khalifah kemudian turun dari kuda menghampiri petani sambil menepuk pundaknya dan mengatakan, ” Temanku, Maha Besar Allah. Semoga Allah menganugerahimu usia panjang. Karena bagaimanapun, bisa jadi lusa kita tak pernah lagi bertemu. Jadi, apa sebenarnya yang membuat bapak tetap menanam anggur yang belum tentu bapak nikmati?”.
“Paduka, memang benar adanya. Mungkin saya tak akan menikmati hasil tanaman ini. Bisa jadi saat tanaman ini berbuah saya sudah meninggal. Namun kematian saya tidak berarti berakhirnya kehidupan dunia ini.. Anak cucu saya, tetangga dan teman-teman saya, diantara mereka pasti ada yang masih hidup. Kelak merekalah yang akan menikmati hasilnya”. Demikian penjelasan petani kepada sang khalifah.
Sang khalifah terharu.” Maha Besar Allah. Kau berhati mulia. Kau melakukan sesuatu tidak untuk dirimu sendiri. Kau bekerja tanpa pamrih. Teman, kelak jika tanaman ini berbuah dan kita masih hidup, bawakan saya sekeranjang hasil tanamanmu, sebagai saksi persahabatan kita ini”. Begitu khalifah menutup perjumpaannya dengan si petani tua itu dan pergi melanjutkan perjalanan.
Konon beberapa tahun kemudian, tanaman anggur itu berbuah. Petani itu kemudian menyiapkan sekeranjang anggur untuk sang khalifah, sebagaimana permintaannya dulu. Diceritakan oleh para ahli hikmah, khalifah sangat menghargai ketulusan jiwa petani itu. Ia sangat mengagumi kedermawanan dan perbuatannya yang tanpa pamrih. Setelah memindahkan anggur ke wadah yang terbuat dari emas, beliau memerintahkan kepada mentrinya untuk mengisi keranjang itu dengan emas permata dan memberikannya kepada si petani, sebagai imbalan atas kebaikannya yang memberi inspirasi bagi sebuah keteladanan yang patut ditiru.
Sementara itu, cerita ini tersebar ke seantero negri dengan berbagai macam versi. Bahkan beredar cerita bahwa khalifah sangat menyukai jenis anggur yang dihadiahkan kepadanya, hingga berani membayar mahal.
Seorang petani lain, yang kebetulan mendengar cerita versi terakhir, langsung menyiapkan sekeranjang anggur jenis yang sama untuk dihadiahkan kepada khalifah. Dan sudah tentu, dengan harapan ia akan mendapatkan seperti apa yang telah didapat petani tua itu. Sayang, ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Khalifah memahami kekecewaan si petani dan berkata,”Petani tua itu bekerja tanpa pamrih. Kedatangannya kemari juga tanpa harapan apapun. Ia menghadiahkan anggur itu kepada saya. Kamu lain. Kamu kesini dengan harapan. Kamu berdagang dengan saya. Itulah letak perbedaannya. Namun demikian, saya tetap hargai lebih apa yang kau bawa. Janganlah mengharap imbalan yang sama dengan petani tua itu. Kamu belum, memiliki jiwa dan semangat bekerja tanpa pamrih”. (Rusli Sudrajat, Facebook)

One Response to Bekerja Tanpa Pamrih

  1. Faza says:

    ga ada pengertiannya apa???!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: