Kearifan Sumber Lokal Sejarah Islam Sunda

Moeflich Hasbullah
(Pikiran Rakyat, 1 Desember 2009)

a

Masyarakat Islam Sunda mengenal nama Sunan Gunung Jati dan sangat menghormati sosoknya sebagai wali yang penuh kharisma spiritual. Dialah penyebar agama Islam di Jawa Barat yang menurunkan raja-raja Cirebon dan Banten. Pendiri Kesultanan Cirebon pada abad ke-15 dan leluhur para ulama Sunda. Nama aslinya Syarif Hidayatullah bergelar Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Jati. Ia bukan orang pertama penyebar Islam di Tatar Sunda, tapi melalui kesultanan Cirebonlah Islam tersebar luas ke seluruh wilayah Jawa Barat. Pengaruh penyebaran Islamnya sangat besar karena dilakukan melalui dua pendekatan: terhadap kerajaan-kerajaan melalui pendekatan struktural: seruan, perluasan pengaruh dan penaklukan politik (Galuh, Pajajaran dan Banten Girang). Dan terhadap rakyat melalui pendekatan kultural: pengislaman tokoh yang kemudian diikuti oleh masyarakatnya, perkawinan dengan penduduk setempat, seni terutama cerita-cerita wayang, dakwah dan pendidikan.

Para wali di Jawa menggunakan dua metode ini dalam proses Islamisasi abad ke- 15 dan 16. Pendekatan struktural dan kultural inilah yang membuat Islamisasi berlangsung efektif dan diterima secara luas hingga akhirnya Islam menjadi identitas kebudayaan Sunda. Metode dakwah parawali terkenal brilian karena menekankan fleksibilitas, akulturasi dan akomodasi. Sebagi wali yang mendapat bimbingan Tuhan, mereka tahu persis metode yang harus diterapkan pada penduduk pribumi yang kuat memeluk agama Hindu dan kepercayaan pra-Islam lainnya. Sunan Gunung Jati adalah salah seorang tokoh walisongo. Sosok kewaliannya sangat dihormati dan pengaruhnya sangat besar. Kharisma kewaliannya tetap terasa kuat hingga 400 tahun setelah wafatnya. Makamnya di Gunung Jati Cirebon tetap diziarahi masyarakat dari berbagai penjuru daerah, bahkan paling ramai diantara makam-makam walisongo yang lain. Ada yang karena menghormatinya, mendo’akannya dan yang mengharapkan barokahnya.

Kontroversi Riwayat
Karena pada abad ke-15 dan 16 di tanah Sunda, dan di Nusantara pada umumnya, belum ada tradisi menulis –apalagi dengan pendekatan ilmiah seperti yang “disyaratkan” para sarjana Barat– untuk menjadi sumber terpercaya, karenanya sulit ditemukan sumber primer ilmiah yang menjelaskan asal-usul Sunan Gunung Jati “secara pasti.” Yang harus difahami, ulama tidak pernah menuliskan aktifitas dakwahnya sendiri, atau menyuruh kepada sekretarisnya, untuk menjadi memoir, agar dikenal apalagi menjadi populer. Itu bukan tujuan ulama dan tidak menjadi perhatian mereka. Ulama tidak pernah peduli dengan pencatatan: daerah mana saja yang sudah masuk Islam, kapan tahun masuknya, berapa jumlahnya, apalagi penulisannya ilmiah atau tidak. Lain kata, itu urusan dunia yang tidak menjadi perhatian mereka.

Karenanya, kalau pun ada, hampir semua cerita, kisah atau sejarah dakwah penyebaran Islam oleh ulama pasti dituliskan oleh orang lain, segenerasi atau tidak. Menuliskannya adalah minat orang lain (biasanya para pembesar kerajaan atau sastrawan pada zamannya). Itupun, mereka menuliskannya dengan tidak menggunakan sumber. Penggunaan sumber adalah tradisi penulisan ilmiah modern ketika menulis sudah menjadi kultur masyarakat. Menulis sejarah lokal di Sunda pada abad ke-15-16, sumber apa yang mau dikutip? Mereka sendiri adalah penulis-penulis perintis, penulis generasi pertama. Begitulah pula dengan Marcopolo abad ke-13, Ibnu Batutah abad ke-14 dan Tome Pires yang menulis Suma Oriental pada abad ke-16, semuanya tidak menggunakan sumber. Mereka menuliskan catatan kesaksian. Menuliskannya secara ilmiah adalah tugas generasi kemudian, tugas ilmuwan modern yang mulai memberlakukan syarat-syarat ilmiah dalam penulisan sejarah.

Begitulah dengan riwayat ulama-ulama besar pada masa silam seperti Sunan Gunung Jati. Maka, adalah wajar sejarahnya diliputi kontroversi. Historiografi tradisional Islam Sunda baru bermunculan setelah lama tokoh sentral itu wafat. Sumber tertua tentang sejarah Sunan Gunung Jati yang menceritakan sejarahnya baru ditemukan 152 tahun setelah wafatnya yaitu naskah Carita Purwaka Caruban Nagari ditulis tahun 1720 oleh Pangeran Arya Cerbon. Para sejarawan berbeda pendapat tantang asal-usul pasti Sunan Gunung Jati karena berbagai catatan memberitakannya berbeda-beda. Ditambah masalah kepercayaan pada sumber: ada yang lebih beriman pada berita-berita asing yang ditulis oleh pengembara Purtugis dan Belanda, ada yang percaya pada sumber-sumber lokal yang ditulis oleh penulis pribumi. Tome Pires, pengembara Portugis memang hidup sezaman yaitu tahun 1512–1515 saat melancong ke Asia Tenggara. Ia menyebut-nyebut tentang pendiri Kesultanan Cirebon itu dalam catatan laporan perjalanannya.

Selama laporannya obyektif tentu sangat bagus sebagai bukti sejarah. Tetapi, sebagai orang asing yang sedang melintas ditambah pandangan superioritas ras dan kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan dari mentalitas bangsa Eropa, catatan orang asing ini pun tidak bisa dipercaya sepenuhnya: kesimpangsiuran, salah tulis ejaan, ketidakfahaman budaya setempat, belum unsur-unsur subyektifitas agama dan prasangka. Ketidakpercayaan ini bahkan muncul dari sesama orang asing sendiri seperti De Graaf dan Pigeaud, Denys Lombard dan Ricklefs dan lain-lain. Ketika mengutip sumber-sumber Portugis, para sejarawan asing itu sering mengiringinya dengan kalimat “yang tidak bisa dipercaya sepenuhnya.” Azyumardi menjelaskan secara gamblang tentang “bias historis” dari catatan-catatan asing ini.

“Bias historis Barat sejak dari waktu yang paling awal, melihat Islam di Timur Tengah tidak urung lagi juga sangat mewarnai pandangan Barat terhadap Islam dan kaum Muslimin secara keseluruhan di Asia Tenggara. Von Mehden baru-baru ini dalam sebuah studinya tentang agama dan modernisasi di Asia Tenggara, misalnya menyatakan bahwa bias para penulis Barat awal dalam melihat agama (Islam khususya yang merupakan agama yang dianut oleh sebagian terbesar penduduk kawasan ini) dilatarbelakangi oleh kebodohan, rasa superioritas rasial, perbedaan agama, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah kolonial. Para pengembara atau wartawan Barat yang menulis tentang Asia Tenggara khususnya, bukanlah para ahli, dan mereka umumnya membuat catatan-catatan berdasarkan kunjungan singkat dan kebanyakannya mengamati dari daerah perkotaan, sehingga mereka sebenarnya tidak banyak tahu tentang keadaan nyata penduduk pedesaan, pola-pola sosial mereka dan lain-lainnya. Di pihak lain, para misionaris Kristen pada umumnya menggambarkan agama-agama yang mereka temukan di Asia Tenggara sebagai kepercayaan sesat belaka, karena itu para penganutnya ialah orang-orang bodoh dan terkutuk. Meskipun terdapat penulis-penulis dari kalangan misionaris yang cukup “obyektif,” pada umumnya nada tulisan mereka adalah negatif, disebabkan perbedaan agama yang memang sulit disembunyikan. Sejauh menyangkut penggambaran Islam di Asia Tenggara, datangnya kekuasaan kolonial tidaklah membuat keadaan pengkajian Islam menjadi lebih baik. Pengkajian-pengkajian Islam dilihat dari sudut kepentingan pengukuhan status quo kolonialisme. Karenanya peneliti yang menggunakan sumber-sumber kolonial ini harus selalu mawas diri terhadap bias kolonial dalam sumber yang ia kaji, sehingga tidak tersesat pula mengikuti pandangan kolonialis.” (1989: viii)

Sangat jelas, sumber-sumber asing pun tidak dapat dipercaya begitu saja. Subyektifitas akan tetap menjadi unsur yang tak terhindarkan dalam penulisan sejarah. Namun, tentu, upaya tetap harus dilakukan untuk menemukan yang paling mendekati kebenaran.

Atas kenyataan ini, Denys Lombard, sejarawan senior Perancis yang sangat tekun dan puluhan tahun mengajar dan mendalami Sejarah Asia Tenggara menganjurkan: “Sejarah Sunan Gunung Jati harus disusun kembali berdasarkan dokumen-dokumen yang kadang kala saling bertentangan” (2005, Jilid II, hal. 394). Hingga tahun 2000, kontroversi ini tidak ada yang menekuni untuk mencari kepastian. Ulasan singkat namun cukup memadai baru dilakukan dalam studi terakhir oleh Dadan Wildan dalam disertasi di Universitas Pajajaran yang kemudian menjadi buku Sunan Gunung Jati: Antara Fiksi dan Fakta (2003). Pada Bab I desertasinya, ia mengulas pendapat-pendapat Hoesein Djajadiningrat tentang Sunan Gunung Jati yang dijadikan rujukan oleh para sarjana kemudian seperti oleh Kern, Barros, Hamka, Saksono Muhaimin dan Nina Lubis. Wildan sampai pada kesimpulannya bahwa studi Djajadiningrat mengandung kelemahan pokok: mengabaikan atau tidak menggunakan sumber-sumber lokal Cirebon yang sarat dengan nilai historis untuk mengungkap sosok Sunan Gunung Jati.

Ironisnya, kelemahan ini dianut oleh para sejarawan. Dr. De Graaf, Prof. Lombard, Prof. Ricklefs, juga Prof. Nina Lubis yang semuanya lebih mempercayai tesis Djajadiningrat tentang Sunan Gunung Djati. Mereka, mengikuti Hoesein, percaya bahwa Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah berasal dari Pasai dan nama-nama Fadhillah Khan, Feletehan, Falatehan dan Tagaril adalah sosok yang sama yaitu Sunan Gunung Jati, yang semua nama-nama itu tidak pernah disebut-sebut dalam sumber lokal Cirebon. Ini tentu saja ironis. Bagaimana sebuah studi dilakukan dengan mengabaikan suara sumber-sumber setempat? Orang-orang terkait? Tapi Nina Lubis mengatakan, “kedua interpretasi ini sah-sah saja dalam ilmu sejarah. Hanya untuk sementara ini, pendapat yang dikemukakan oleh Hoesein Djajadiningrat yang dianggap lebih kuat” (Wildan, 2005: 14). De Graaf pun (1985: 140-141), berusaha membuat sekian argumen untuk mendukung tesis Djajadiningrat dan lebih mempercayai babad-babad Jawa (Tengah dan Timur) daripada sumber-sumber Cirebon.

Pembicaraan tentang Sunan Gunung Jati sangat kental diwarnai “pertarungan” antara hegemoni tradisi ilmiah Barat dengan historiografi tradisional. Tradisi ilmiah Barat yang mengabaikan unsur-unsur dan budaya lokal sebenarnya sudah diingatkan oleh wisdom-nya Wilfred Cantwell Smith, penulis sejarah Islam, tentang sebuah keabsahan ilmiah: “Anything that I say about Islam as a living faith is valid only in so far as Muslims can say ‘amen’ to it. Sepakat dengan wejangan bijaksana Smith, dengan demikian, sejarah Sunan Gunung Jati justru harus ditulis berdasarkan historiografi tradisional yaitu naskah-naskah pribumi yang kita miliki, yang sarat nilai historis seperti Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, Sejarah Cirebon dan lain-lain. Walau pun “tidak memenuhi syarat ilmiah,” tentu saja Pangeran Arya, Pangeran Sulendraningrat dan Haji Mahmud Rais menulis sejarah Cirebon justru untuk memberikan informasi kepada kita sebagai generasi mendatang agar mengetahui dan menghargai sejarah masa silam Cirebon. Kita sangat yakin mereka menulis tidak untuk tujuan berdusta. Ungkapan “sebagai sumber tidak bisa dipercaya” yang banyak ditemukan dalam buku-buku sejarah ilmiah adalah ucapan yang menyakitkan bila orang-orang tua tulus yang justru telah berjasa itu masih hidup dan mendengarnya.

Kasus Haji Purwa
Kasus yang patut disesalkan tentang perlakuan pada sumber sejarah lokal juga terjadi pada pembahasan tentang Haji Purwa, orang Islam pertama yang masuk ke tatar Sunda. Ada problem sikap mental dalam penggunaan sumber sejarah oleh para sejarawan kita. Informasi tentang masuknya Islam pertama kali ke tatar Sunda sejauh ini hanya didapatkan dari dua sumber: sumber asing yang ditulis J. Hageman pada tahun 1867 (abad ke-19) dan sumber lokal yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Nina Lubis (2003, Jilid I: 165) menyebutkan dikenalnya Bratalegawa sebagai orang yang pertama masuk Islam dari Keraton Galuh dengan mengatakan “berdasarkan sumber sejarah lokal yang tidak bisa dipastikan kebenarannya” dengan memberikan catatan kakinya. Tetapi, ketika dicek, di catatan kakinya itu ditulis Hageman, bukan sumber lokal. Tampaknya Nina memposisikan diri sama dengan Hageman yang tidak mempercayai sumber lokal.

Pertanyaannya, Hageman hidup Abad ke-19, darimana ia mengetahui adanya Brategawa atau Haji Purwa yang hidup pada abad ke-14? Karena, seperti kata Edi S. Ekadjati (Pikiran Rakyat, 10 Januari 2003), dalam menyebutkan Haji Purwa ini, Hageman tidak menyebutkan sumbernya. Jelas, Hageman tidak mengutip Naskah Pangeran Wangsakerta –naskah yang banyak menceritakan kisah Haji Purwa tapi keasliannya diragukan– karena naskah itu baru ditemukan satu abad kemudian. Masalahnya, derajat kedua sumber itu sama. Hageman bercerita tanpa sumber dan Wangsakerta diragukan. Bila keduanya sama, mengapa Hageman yang tetap harus dikutip dan disebutkan? Mengapa kita tidak terdorong untuk lebih mengangkat sumber lokal, hasil jerih payah sejarawan kita, terutama pada kasus ketika derajat sumbernya sama?

Di sisi lain, bila diperdalam, masalah kedua sumber itu berbeda. Hageman orang asing, wajar kalau dia tidak memberikan kesaksian pasti. Andalannya hanyalah dokumen yang dia bisa baca. Tapi Pangeran Wangsakerta –terlepas keaslian fisik dokumennya– sebagai keluarga Keraton Cirebon tentu banyak tahu tentang sejarah pribumi: ada nilai-nilai, pengalaman, bacaan, catatan, ingatan, penjiwaan dan sebagainya yang dia miliki untuk menuliskan sejarah Sunda. Jadi, Pangeran Wangsakertalah dan sumber-sumber lokal lainnya, yang seharusnya lebih mendapat tempat di mata sejarawan pribumi bukannya sejarawan asing. Inilah yang saya sebut problem sikap mental.

Kasus kedua terjadi pada Prof. Dr. Edi S. Ekadjati. Ia menyebutkan, sesungguhnya informasi lebih lengkap tentang Haji Purwa terdapat dalam naskah Wangsakerta. Tapi, dalam tulisannya di Pikiran Rakyat itu, Edi tidak mau mengutipnya karena alasan “masih ada yang tidak menerima naskah ini sebagai sumber sejarah.” Tapi, ia mengutip Hageman yang ia katakan: “Tanpa menyebutkan identitas sumbernya, J. Hageman (1867) mengungkapkan bahwa Haji Purwa adalah orang Sunda pertama yang memeluk agama Islam.” Tidak menyebutkan atau tidak ada sumbernya, dalam sejarah adalah tidak ilmiah. Tapi Edi maupun Nina sama-sama mengutip (lebih memilih) Hageman dalam menjelaskan Haji Purwa. Mengapa? Mungkin, mengutip sumber asing nuansanya terasa lebih berbobot dan lebih ilmiah.

Bagi saya, ini menimbulkan pertanyaan: “Mengapa Naskah Wangsakerta yang isinya lebih lengkap dan karya orang Sunda sendiri tidak dikutip karena dipersoalkan sebagai sumber sejarah, tapi Hageman, orang asing yang tidak menyebutkan sumbernya alias tidak ilmiah tetap dikutip padahal tidak ada sumbernya sama sekali. Kalaupun Naskah Wangsakerta meragukan, minimal bermanfaat informasinya.” Memang, persoalan sejarah ilmiah bukan persoalan “daripada tidak ada,” tapi keukeuh pada sumber primer yang kuat akan membuat kita tidak konsisten. Satu sisi informasi itu ada, perlu dan terpaksa kita sering mengutipnya, sisi lain kita merasa itu tidak ilmiah. Dan itu banyak terjadi. Hampir semua sejarawan menggunakan sumber-sumber lokal yang diklaimnya meragukan dan tidak ilmiah itu. Mereka terpaksa melakukannya karena itu aturan ilmiah seperti yang disabdakan Charles Victor Langlois dan Charles Seignobon: “The historian works with documents… There is no substitute for documents: no documents, no history.” Saat sejarawan ilmiah mengutip sumber-sumber lokal yang dianggapnya tidak ilmiah, tanpa sadar mereka mengikuti prinsip “daripada tidak ada.”

Kemudian, pada kenyataannya, dibanding sumber asing, sumber-sumber lokal Cirebon yang ada sekarang, tidak ada yang mengalahkan dalam hal kelengkapan informasinya. Karena ketakberdayaan historis, terpaksa, akhirnya, semua sejarawan (yang meragukan dan tidak menerima) harus mengutip sumber lokal yang tidak ilmiah itu ketika membahas Cirebon atau sejarah Islam di Sunda termasuk para sejarawan asing seperti De Graaf, Denys Lombard, Ricklefs dll. Soal kekurangannya seperti tidak ada angka tahun, informasinya ada yang bertentangan, tanpa sumber, berisi mitos, legenda dan lain-lain yang sering disuarakan sejarawan asing non-Muslim, sebenarnya wajar saja. Dulu memang belum ada aturan menulis ilmiah dan tidak ada sumber-sumber untuk dikutip. Sumber-sumber asing juga banyak kekurangannya. Semuanya tidak ada yang sempurna. Akhirnya, disini, bukan soal ilmiah-tidaknya, tapi soal sikap menghargai. Menurut saya, sikap hormat, takzim dan menghargai lebih luhur dan mulia dari pada soal keketatan aturan ilmiah.[]

Penulis, Dosen Jurusan Sejarah Peradaban Islam
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: