Indonesia: “Kalian Tidak Lulus!”

Kafil Yamin


Masih juga kalian panggil namaku – Indonesia. Tapi cukuplah itu. Tak usah kau bungai dengan ‘tanah air tercinta’, ‘ibu pertiwi’, ‘negeri pusaka’.

Jangan bawa aku ke citarasa sinetron.

Engkau jadikan kata bertuah itu kemasan keserakahan dan kelancungan jiwamu. Engkau sendiri tahu bahwa engkau tak sungguh-sungguh dengan kata-kata itu. Kalian jauh dari mencintaiku. Kalian mengisap darahku pelan-pelan, sembil tertawa girang. Kalian menarik urat syaraf dan nadiku dengan begitu tenang, sementara menjerit pun aku sudah tak mampu. Kalian terlihat begitu nikmat melihatku terkikis, terkelupas, teriris oleh berbagai jelmaan syahwatmu sendiri.

Kau tuliskan di plakat-plakat, layar televisi, di papan reklame, ‘Indonesia tercinta’, Kau ucapkan di pidato usangmu, di editorial norakmu, ‘Doa bagi negeri’, ‘satu untuk Indonesia’, dan entah apa lagi’.

Bah!

Tak perlu kukatakan bahwa aku tak pernah mengucapkan dan menuliskan kata cinta. Tapi cintaku tak pernah kering meski kau reguk tanpa henti.

Kubasuh dahagamu dengan air bening kehidupan yang kupancarkan di tiap hulu sungai, kaki bukit dan gunung. Tapi hulu sungai itu kau rambah, kau jadikan proyek penghisapan air bumi, yang mengambil air berjuta kali lipat dari kebutuhanmu. Kualirkan sungai-sungai ke perkampungan-perkampungamu agar sejahteralah kalian — dapat mandi, mencuci, pelesir dan makan ikan. Tapi kau jadikan sungai-sungaiku jamban raksasa tempat buangan berbagai racun yang menyayat penciumanmu sendiri, menyebar penyakit jiwa dan raga. Kalian persilahkan pabrik-pabrik berbahan kimia berdiri di sepanjang pinggirnya agar mereka mudah buang hajat di sana. Aku memang sudah faham watak dasarmu: ramah dan pemurah kepada para pemilik uang. Tapi angkuh dan keras kepada orang-orang berkekurangan.

Dan kalian tetap mengatakan ‘Indonesia kita tercinta’.

Kalian bilang kalian ‘melindungi kekayaan tanah air dan segenap tumpah darah’. Sayang sekali kata-kata itu kau abadikan dalam undang-undang. Sebab nyatanya kalian menyerahkanku ke tangan para penghancur demi imbalan kekayaan semu yang kalian pikir bisa memoles tampilan kalian jadi manusia terhormat.

Kusediakan hutan-hutan yang sangat kaya agar engkau bisa mengambil berbagai manfaat darinya, menjaga udaramu tetap segar, tapi engkau serahkan hutan-hutanku itu ke tuan-tuan penggemar syahwat, yang mampu menghabiskan puluhan hektar hutan dalam hitungan menit. Lagi-lagi, demi imbalan yang sangat engkau dambakan sembagai orang hina. Kini, bagaimana kata-katamu ‘melindungi kekayaan tanah ari dan segenap tumpah darah’ itu terdengar?

Kulit perutku kini tak mampu menyerap hujan, yang semestinya menjadi anugrah tak ternilai buatmu, karena pepohonan kalian babat jauh melebihi kebutuhanmu. Di bawahnya kusimpan berbagai kekayaan yang bisa membuatmu jadi manusia unggul di atas bumi: emas, minyak, batubara, alumunium, tembaga., tapi kalian malah menyerahkan itu semua  ke tangan-tangan para pemburu harta internasional yang menguras semua kekayaan itu jauh melampau kebutuhan seluruh manusia di bumi sekalipun!

Kalian terlalu malas untuk belajar; untuk mampu memanfaatkan kekayaanmu sendiri secara bijaksana.

Dan ketika, hujan deras penuh rahmat itu berubah menjadi air bah yang menerjang kampung-kampungmu, menenggelamkan rumah-rumahmu, kebun-kebunmu dan hewan ternakmu, engkau bilang itu musibah. Engkau bilang itu bencana alam. Lalu Engkau menghiba-hiba, meminta kedermawanan para hartawan. Padahal, kusediakan semua itu untuk membuatmu tangguh, pantang meminta belas kasihan.

Kau balas setiap jengkal cintaku dengan sikap khianat!  Akulah yang semestinya menangis!

Pohon-pohon dan anak-anaku yang bukan sejenismu, satwa-satwa elokku yang menarik rasa cinta orang-orang dari tempat jauh, yang setia menjaga keselerasan dan kemewahan belantara tropis, juga kena terjang air bah dan musnah. Kalian tak pernah hitung mereka dalam kalkulsi kerugian bencanamu; tak pernah masuk dalam agenda pemulihan dan rekonstruksi.

Begitu cepat kalian membangun rumah-rumah kembali, tapi nyaris tak ada yang menegakkan pohon-pohon; menutup perusahaanp-perusahaan penjagal kekayaan hayati karena sogokannya terus melenakanmu dan mengeraskan hatimu.

Kukelilingi kalian dengan laut bertabur harta karun! Agar kalian jadi bangsa sejahtera, unggul di darat dan di samudra. Di sana kusediakan ikan–ikan segar yang tak akan habis kalian makan tiap hari pun! Kutaburkan mutiara dan intan berlian di sana untuk membuatkanmu tampak  megah! Tapi kalian biarkan kapal-kapal penggerus asing mengambil itu semua, lagi-lagi, demi imbalan yang biasa diberikan kepada para budak, padahal kalian tuan pemilik! Nelayan-nelayan kalian melarat di tengah kelimpahan sumberdaya.

Culas kalian! Tapi cintaku tak pernah kering mesti kalian reguk tanpa henti.

Kegular surga. Dan kalian menjadikannya neraka.

Kulapisi tanah tempat kalian tinggal dengan dengan zat kesuburan azali. Apa pun yang kau tanam, tumbuhlah dia. Kuhamparkan itu untuk menghasilkan buah dan sayuran yang menyehatkan kalian. Tapi kalian ubah itu semua menjadi tembok-tembok pameran kemewahan kosong, dan kalian lebih memilih membeli buah-buahan dan sayuran asing. Sementara, tembok-tembok itu tak memberi manfaat bagi kalian.

Kuhamparkan tanah itu luas. Sangat luas. Sehingga tak perlu kalian tinggal di tempat-tempat yang bukan untuk kalian tinggali, melainkan untuk jalan keluar nafas bumi: asap vulkanik, lahar dan larfa. Tak di sembarang tempat zat-zat itu kusemburkan, tak pernah kusemburkan di tengah kota atau pemukiman, melainkan di tempat-tempat khusus yang kutandai dengan sangat jelas: Gunung Berapi. Kutandai dengan kawah bergejolak dan berasap agar kalian kenali. Mestinya kalian faham bahwa itu tempat untuk mengeluarkan zat-zat tadi secara alami. Tapi kalian lebih memilih tinggal di lereng-lerengnya. Di kakinya. Lereng Merapi, Papandayan, Bromo, kalian keruk pasir dan batunya tanpa henti. Kalian rusak daya tahan, daya lindung, dan keindahannya. Dan ketika gunung-gunung berapi itu menunaikan kewajibannya, lagi-lagi kalian bilang itu bencana, musibah.

Lalu kalian menghiba-hiba lagi, memelas, dan mendesahkan kalimat “Ini ujian.”

Kutegaskan pada kalian: Ini bukan ujian. Ini pengumuman hasil ujian. Isinya: Kalian tidak lulus.

Minus D.

Kafil Yamin, aktifis konservasi hutan, wartawan freelance harian berbahasa Inggris, kontributor untuk International Press Service (IPS), Manila, Filipina dan The Nation, Bangkok. Pernah menjadi Redaktur Politik The Indonesian Observer dan Redaktur The Jakarta Globe. Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: