Senang Bicara Istilah Asing: Kelainan Jiwa!

a

Senang menggunakan istilah -istilah asing sudah menjamur dimana-mana, mulai dari Presiden sebagai kepala negara hingga anak-anak gaul dan artis-selebiritis. Tentu maksudnya agar terdengar keren dan modern. Secara psikologis, ternyata sebaliknya, justru itu adalah sejenis kelainan mental atau penyakit jiwa!! Secara mental adalah sikap rendah diri dan kekaburan identitas, secara linguistik adalah bentuk kekacauan berbahasa, secara kejiwaan itu adalah penyakit. Jadi, tidak sedikitpun menunjukkan modernitas dan kemajuan, malah sejenenis kelainan yang perlu disembuhkan!! Tulisan Reza Sukma Nugraha di bawah ini mengulas kelainan tersebut. Selamat menyimak dan menjauhkan diri dari gejala-gejala kampungan!

___________________

“Gak tau deh, innocent banget tuh orang. Kenal juga nggak, sok-sok say hai segala…” kata seorang berpenampilan ala mahasiswi dalam bus Trans Metro Bandung. “Ya udah, kalau ngenganggu, di-remove aja,” kata temannya menimpali.

Percakapan sehari-hari seperti itu mungkin sudah biasa. Pakai istilah asing dalam komunikasi sehari-hari juga sudah jadi tren yang jarang dipermasalahkan. Tak sedikit orang bicara dengan mencampuradukkan Bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dirasa lebih populer. Namun, tak banyak yang tahu bahwa kecenderungan seperti itu merupakan sebuah kelainan bernama xenoglosofilia. Nah loh!

Xenoglosofilia merupakan suatu kelainan psikolinguistik dengan ciri-ciri apabila orang lebih senang menggunakan istilah asing secara tidak wajar. Yang dimaksud tidak wajar yaitu apabila orang Indonesia yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa daerah dan Bahasa Indonesia senang menggunakan bahasa asing dalam komunikasi yang memang tidak menuntut untuk berbicara bahasa asing.

Banyak motivasi dan alasan orang cenderung menggunakan istilah asing tersebut. Biar terkesan lebih berkelas tinggi, lebih keren, gaul, percaya diri, dan lain sebagainya. Gejala xenoglosofilia timbul apabila penutur yang menggunakan istilah asing, namun sebenarnya istilah tersebut sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Apalagi istilah asing tersebut digunakan tidak dalam rangka memperjelas komunikasi, namun sebaliknya.

Ironisnya, gejala ketakwajaran berbahasa ini kian hari semakin dikampanyekan oleh media, pejabat, figur publik, khususnya kaum selebritis. Dalam suatu acara gosip, seorang artis seksi yang dikabarkan akan segera menikah dengan santai menjawab, “Ya, doakan saja. Planning untuk itu memang ada. Kita sudah prepare semuanya., ”

Di Jakarta, istilah asing dikampanyekan dengan adanya bus way dan halte transit yang disebut Sky Walk Paid Area (SWPA). Di DPR, calon Kapolri dan Panglima TNI harus menjalani fit and proper test sebelum dipilih. Selain itu, salah satu televisi swasta senantiasa menyajikan breaking news setiap jamnya dan dialog hangat di Todays Dialogue. Bahkan di Bandung, sebuah halte yang dibuat promosi sebuah produk air mineral diberi nama Bus Service.

Belum lagi kemajuan teknologi ternyata ikut berperan membuat masyarakat gemar berbahasa asing yang sebetulnya masih ada padanannya dalam Bahasa Indonesia. Ingin kenalan, tinggal add saja akun situs jejaring sosialnya. Lagu-lagu dengan mudah dapat di-download. Punya video, foto, atau tulisan dengan cepat dapat di-upload.

Padahal, alangkah tidak sulit membiasakan diri “akrab” dengan bahasa sendiri, misalnya menambah teman di akun jejaring sosial, mengunduh lagu favorit, hingga mengunggah video sendiri. Bahkan, banyak istilah lainnya yang nampak kurang berdaya saing dengan istilah asing yang harus mulai dikampanyekan. Seperti daring (dalam jaringan) untuk online, luring (luar jaringan) untuk offline, dan tetikus untuk mouse.

Selain itu, banyak istilah yang tak disadari terlupakan akibat saking terbiasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti miss-called untuk panggilan tertunda, sms alias short message service untuk pesan pendek, charge untuk mengisi (batere telepon genggam), dan lain sebagainya.[] (http://networkedblogs.com/adTey)

3 Responses to Senang Bicara Istilah Asing: Kelainan Jiwa!

  1. fathu rahman says:

    Saya suka tulisan ini, malah saya sedang melakukan penelitian tentang xenoglosofilia

  2. elfarizi says:

    Terima kasih tulisan saya sudah di-reblog di sini, semoga bermanfaat. Kalau bisa, link-nya disertakan juga ya, Mas🙂

    Sukses🙂

  3. Moeflich says:

    Terima kasih Mas Rez, tulisan ini penting dan brmanfaat, Linknya kan sudah disertakan dibawahnya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: