Tingkatan-tingkatan Sikap Beragama

Sikap orang terhadap agamanya itu beragam, ada tingkatan-tingkatannya. Ada yang acuh tak perduli, menjaga jarak, setengah-setengah hingga yang menjadikan agamanya benar-benar sebagai pandangan hidupnya. Ada orang beragama tapi asing dengan agamanya sendiri, tidak mengenali ajarannya. Ia sengaja tidak mendekati agamanya karena takut banyak aturan yang akan mengaturnya. Ada juga yang sangat shaleh dan taat pada agamanya. Berikut ini lima tingkatan sikap orang dalam beragama.

___________________

1. Melambai
Pertama, ada orang beragama dan tahu agama itu penting dalam kehidupan tapi tidak mau mendekati, tidak mau mempelajari, tidak melaksanakan ajarannya. Ia hanya “melambai” saja dari kejauhan. Ia menjaga jarak dengan agamanya karena kalau dekat dan banyak tahu, ia akan merasa berat harus melaksanakan ajaran-ajarannya, harus beribadah, harus taat, banyak keharusan-keharusan, banyak larangan-larangan. Ia merasakan ribet dengan agamanya. Ia memilih tidak dekat dan cukup melambai saja dari kejauhan. Dengan menjaga jarak, dengan melambai, ia merasa bebas, hidupnya ia sendirilah yang mengaturnya. Mendengar syari’at Islam belum apa-apa sudah alergi. Bila penolakan pada ide penegakkan syari’at Islam karena dilihatnya sebagai isu untuk kepentingan politik sebuah kelompok, itu wajar. Tapi, bila bayangannya adalah ia akan repot karena akan banyak aturan dan larangan agama, dan kebebasan hidupnya akan menjadi sempit dan terpenjara, itu adalah sikap melambai. Manusia kelompok ini berada di tengah-tengah antara ketaatan pada agama dengan menjauhi agama. Pada agama ia tidak mau teralu dekat, tidak beragama pun ia tahu akan celaka, lalu berdirilah di tengah-tengah. Hidup religius tidak mau, sekuler total pun tidak. Karena menjaga jarak pada aturan-aturan agama yang akan menyelamatkan hidupnya, sementara godaan syetan sangat berat menghindarinya dan sering tidak terasa, akhirnya kelompok orang seperti ini akan menjadi sasaran empuk hawa nafsu dan syetan untuk mencelakannya dan menjerumuskannya kepada jurang kenistaan. Bila tidak di dunia, karena misalnya merasa sukses, di akhirat ia akan merasakan akibatnya.

2. Membelai
Kedua, ada orang beragama yang tidak melaksanakan perintah-perintah agamanya, jarang beribadah, mengabaikan aturan-aturan agama dalam hidupnya. Tapi, ia bereaksi kalau agamanya diganggu. Ia tahu agama itu bagus dan penting, karenanya tidak menerima bila agamanya dihujat atau dilecehkan. Kalau ada acara-acara keagamaan ia mendukung, ia suka agama berkembang, ia memberi sumbangan dan menunjukkan dukungan simpatiknya. Dan ia merasa sudah baik dan benar dengan sikapnya seperti itu. Tetapi, ia sendiri tidak taat pada perintah-perintah agama yang dianutnya. Bahkan tidak merasa perlu shalat, puasa, menutup aurat, meningkatkan kesadaran dsb. Pada diri dan keluarganya tidak ada perhatian pada pentingnya pendidikan agama dan tidak ada usaha menerapkan norma-norma agama di rumah tangganya. Bila ada acara-acara keagamaan seperti pengajian ia senang dan mendukung tapi perhatian dan kesibuknya lebih pada penyelenggaraanya seperti mengurusi tempat, penceramah, undangan, konsumsi, kendaraan dsb agar pengajiannya lancar. Pada uraian nasihat-nasihatnya dan usaha meningkatkan kesadarannya sendiri tidak tertarik. Bentuk-bentuk ibadah dan ketaatan ritual-ritual agama dianggap formalitas saja, nasehat-nasehat agama ia merasa sudah tahu banyak. Yang penting agama itu baik dan jangan diganggu. Ini adalah sikap “membelai” pada agama. Agamanya dibelai dan dielus-elus tapi tidak melaksanakan ajarannya.

3. Menggapai
Ketiga, adalah menggapai. Ini adalah kelompok orang yang taat melaksanakan ajaran-ajaran agamanya. Shalat, zakat, puasa dan haji ia jalankan semuanya sebagai seorang Muslim. Dalam kategori sosiologis, ini adalah kaum santri. Ia hidup dalam kesadaran agama sebagai sebuah keharusan dengan tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya. Ia “menggapai” agama dalam kehidupan. Menggapai adalah sikap standar dalam beragama bahwa seseorang harus melaksanakan ajaran-ajaran agamanya dengan baik. Menggapai adalah keberagamaan orang-orang umum yang menjalankan syari’at dan kewajiban agama dalam kehidupan.

4. Mempelai
Keempat, lebih tinggi dari menggapai adalah mempelai. Pada tahap ini, seseorang lebih dari melaksanakan dasar-dasar kewajibannya tetapi ia sudah “kawin” dengan agama. Agama dijadikannya orientasi dan tujuan hidupnya, agama dijadikan dasar dan pertimbangan dari segala tindakannya dan sudah merasakan kenikmatan beragama. Segala sesuatu yang bertentangan atau menjauhkan dirinya dengan agama ia jauhi dan ditolak. Ibarat pengantin ia ingin selalu dekat dengan agama, merasa nikmat dalam ketaatan beragama, merasa tenang selalu dekat dengan Allah sebagai tujuan hidupnya. Kesenangan dunia dilihat dan dirasakannya hanyalah kesenangan sementara yang tidak tertarik mengejar-ngejarnya. Mempelai adalah golongan shalihin dan ahli ibadah yang menjadikan agama sebagai dasar dan tujuan hidupnya. Golongan ini menemukan kesenangannya bukan pada kesenangan dunia seperti harta, pangkat dan jabatan, tapi pada kedekatannya beragama. Orang-orang yang sudah mewakafkan jiwa raganya untuk agama, mereka yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa, raga dan hartanya adalah para mempelai dalam beragama.

5. Mencapai
Terakhir, yang paling tinggi adalah mencapai. Mencapai adalah tingkatan sudah menemukan kebenaran tertinggi yaitu kebenaran Tuhan, sudah makrifat kepada Allah, menemukan Tuhan melalui perjuangan beratnya (riyadhah) dan jalan panjang dan berliku (thariqah) seperti menjauhi kehidupan dunia, menghindari segala kesenangan duniawi, sudah tidak tertarik pada ajakan-ajakan nafsu, tidak tertarik dan tidak ada kebanggaan pada pencapaian-pencapaian dunia. Ukuran keberhasilan baginya bukan pada prestasi-prestasi dunia, melainkan pada kemuliaan akhlak, ketinggian kesadaran, puncak pencapaian ibadah dan kepasrahan yang total kepada Allah. Baginya, beragama yang benar bukan pada formalitasnya melainkan pencapaian hakikat tapi dengan tidak meninggalkan seluruh keharusan syari’at. Ia sudah menemukan hakikat hidup di dunia untuk apa dan mau kemana. Ia tidak menemukan ruang-ruang kesempatan dalam hidupnya untuk urusan dunia dan mencari kesenangan diri melainkan kecintaan dan ketaatan pada kehendak Allah. Karenanya, secara materi mungkin tidak punya apa-apa karena tidak memerlukannya, hidupnya pas-pasan, tapi kepuasan, ketenangan, kedamaian dan cahaya ketentraman hidupnya terpancar dari wajah, perangai dan sikapnya. Ia selalu melihat siapapun dengan rasa kasihan kemudian menasehatinya karena dilihatnya kebanyakan orang hidupnya tanpa arah dan waktunya habis mengejar-ngejar kepuasan duniawi. Karena sudah dalam tingkat “mencapai,” golongan ini berada dalam derajat ruhani yang tinggi, memiliki keistimewaan-keistimewaan atau kelebihan-kelebihan spiritual yang dianugrahkan Allah kepada mereka. Disinilah para guru ruhani, guru spiritual, para wali Allah dan para Nabi.[] (Moeflich Hasbullah)

Kita berada di tingkat mana, tinggal merenung masing-masing diri.

Sikap orang terhadap agamanya itu beragam, ada tingkatan-tingkatannya. Ada yang acuh tak perduli, menjaga jarak, setengah-setengah hingga yang menjadikan agamanya benar-benar sebagai pandangan hidupnya. Ada orang beragama tapi asing dengan agamanya sendiri, tidak mengenali ajarannya. Ia sengaja tidak mendekati agamanya karena takut banyak aturan yang akan mengaturnya. Ada juga yang sangat shaleh dan taat pada agamanya. Berikut ini lima tingkatan sikap orang dalam beragama.1. MelambaiPertama, ada orang beragama dan tahu agama itu penting dalam kehidupan tapi tidak mau mendekati, tidak mau mempelajari, tidak melaksanakan ajarannya. Ia hanya “melambai” saja dari kejauhan. Ia menjaga jarak dengan agamanya karena kalau dekat dan banyak tahu, ia akan merasa berat harus melaksanakan ajaran-ajarannya, harus beribadah, harus taat, banyak keharusan-keharusan, banyak larangan-larangan. Ia merasakan ribet dengan agamanya. Ia memilih tidak dekat dan cukup melambai saja dari kejauhan. Dengan menjaga jarak, dengan melambai, ia merasa bebas, hidupnya ia sendirilah yang mengaturnya. Mendengar syari’at Islam belum apa-apa sudah alergi. Bila penolakan pada ide penegakkan syari’at Islam karena dilihatnya sebagai isu untuk kepentingan politik sebuah kelompok, itu wajar. Tapi, bila bayangannya adalah ia akan repot karena akan banyak aturan dan larangan agama, dan kebebasan hidupnya akan menjadi sempit dan terpenjara, itu adalah sikap melambai. Manusia kelompok ini berada di tengah-tengah antara ketaatan pada agama dengan menjauhi agama. Pada agama ia tidak mau teralu dekat, tidak beragama pun ia tahu akan celaka, lalu berdirilah di tengah-tengah. Hidup religius tidak mau, sekuler total pun tidak. Karena menjaga jarak pada aturan-aturan agama yang akan menyelamatkan hidupnya, sementara godaan syetan sangat berat menghindarinya dan sering tidak terasa, akhirnya kelompok orang seperti ini akan menjadi sasaran empuk hawa nafsu dan syetan untuk mencelakannya dan menjerumuskannya kepada jurang kenistaan. Bila tidak di dunia, karena misalnya merasa sukses, di akhirat ia akan merasakan akibatnya.

2. Membelai

Kedua, ada orang beragama yang tidak melaksanakan perintah-perintah agamanya, jarang beribadah, mengabaikan aturan-aturan agama dalam hidupnya. Tapi, ia bereaksi kalau agamanya diganggu. Ia tahu agama itu bagus dan penting, karenanya tidak menerima bila agamanya dihujat atau dilecehkan. Kalau ada acara-acara keagamaan ia mendukung, ia suka agama berkembang, ia memberi sumbangan dan menunjukkan dukungan simpatiknya. Dan ia merasa sudah baik dan benar dengan sikapnya seperti itu. Tetapi, ia sendiri tidak taat pada perintah-perintah agama yang dianutnya. Bahkan tidak merasa perlu shalat, puasa, menutup aurat, meningkatkan kesadaran dsb. Pada diri dan keluarganya tidak ada perhatian pada pentingnya pendidikan agama dan tidak ada usaha menerapkan norma-norma agama di rumah tangganya. Bila ada acara-acara keagamaan seperti pengajian ia senang dan mendukung tapi perhatian dan kesibuknya lebih pada penyelenggaraanya seperti mengurusi tempat, penceramah, undangan, konsumsi, kendaraan dsb agar pengajiannya lancar. Pada uraian nasihat-nasihatnya dan usaha meningkatkan kesadarannya sendiri tidak tertarik. Bentuk-bentuk ibadah dan ketaatan ritual-ritual agama dianggap formalitas saja, nasehat-nasehat agama ia merasa sudah tahu banyak. Yang penting agama itu baik dan jangan diganggu. Ini adalah sikap “membelai” pada agama. Agamanya dibelai dan dielus-elus tapi tidak melaksanakan ajarannya.

3. Menggapai

Ketiga, adalah menggapai. Ini adalah kelompok orang yang taat melaksanakan ajaran-ajaran agamanya. Shalat, zakat, puasa dan haji ia jalankan semuanya sebagai seorang Muslim. Dalam kategori sosiologis, ini adalah kaum santri. Ia hidup dalam kesadaran agama sebagai sebuah keharusan dengan tidak meninggalkan kewajiban-kewajibannya. Ia “menggapai” agama dalam kehidupan. Menggapai adalah sikap standar dalam beragama bahwa seseorang harus melaksanakan ajaran-ajaran agamanya dengan baik. Menggapai adalah keberagamaan orang-orang umum yang menjalankan syari’at dan kewajiban agama dalam kehidupan.

4. Mempelai

Keempat, lebih tinggi dari menggapai adalah mempelai. Pada tahap ini, seseorang lebih dari melaksanakan dasar-dasar kewajibannya tetapi ia sudah “kawin” dengan agama. Agama dijadikannya orientasi dan tujuan hidupnya, agama dijadikan dasar dan pertimbangan dari segala tindakannya dan sudah merasakan kenikmatan beragama. Segala sesuatu yang bertentangan atau menjauhkan dirinya dengan agama ia jauhi dan ditolak. Ibarat pengantin ia ingin selalu dekat dengan agama, merasa nikmat dalam ketaatan beragama, merasa tenang selalu dekat dengan Allah sebagai tujuan hidupnya. Kesenangan dunia dilihat dan dirasakannya hanyalah kesenangan sementara yang tidak tertarik mengejar-ngejarnya. Mempelai adalah golongan shalihin dan ahli ibadah yang menjadikan agama sebagai dasar dan tujuan hidupnya. Golongan ini menemukan kesenangannya bukan pada kesenangan dunia seperti harta, pangkat dan jabatan, tapi pada kedekatannya beragama. Orang-orang yang sudah mewakafkan jiwa raganya untuk agama, mereka yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa, raga dan hartanya adalah para mempelai dalam beragama.

5. Mencapai

Terakhir, yang paling tinggi adalah mencapai. Mencapai adalah tingkatan sudah menemukan kebenaran tertinggi yaitu kebenaran Tuhan, sudah makrifat kepada Allah, menemukan Tuhan melalui perjuangan beratnya (riyadhah) dan jalan panjang dan berliku (thariqah) seperti menjauhi kehidupan dunia, menghindari segala kesenangan duniawi, sudah tidak tertarik pada ajakan-ajakan nafsu, tidak tertarik dan tidak ada kebanggaan pada pencapaian-pencapaian dunia. Ukuran keberhasilan baginya bukan pada prestasi-prestasi dunia, melainkan pada kemuliaan akhlak, ketinggian kesadaran, puncak pencapaian ibadah dan kepasrahan yang total kepada Allah. Baginya, beragama yang benar bukan pada formalitasnya melainkan pencapaian hakikat tapi dengan tidak meninggalkan seluruh keharusan syari’at. Ia sudah menemukan hakikat hidup di dunia untuk apa dan mau kemana. Ia tidak menemukan ruang-ruang kesempatan dalam hidupnya untuk urusan dunia dan mencari kesenangan diri melainkan kecintaan dan ketaatan pada kehendak Allah. Karenanya, secara materi mungkin tidak punya apa-apa karena tidak memerlukannya, hidupnya pas-pasan, tapi kepuasan, ketenangan, kedamaian dan cahaya ketentraman hidupnya terpancar dari wajah, perangai dan sikapnya. Ia selalu melihat siapapun dengan rasa kasihan kemudian menasehatinya karena dilihatnya kebanyakan orang hidupnya tanpa arah dan waktunya habis mengejar-ngejar kepuasan duniawi. Karena sudah dalam tingkat “mencapai,” golongan ini berada dalam derajat ruhani yang tinggi, memiliki keistimewaan-keistimewaan atau kelebihan-kelebihan spiritual yang dianugrahkan Allah kepada mereka. Disinilah para guru ruhani, guru spiritual, para wali Allah dan para Nabi.[]

Kita berada di tingkat mana, tinggal merenung masing-masing diri.

Salam,

Semoga bermanfaat!!

Segala “pahala,” fadhilah dan manfaat dari tulisan ini

semoga tercurah pada Syekh Guru Alm. Endang Somalia.

Olehnyalah Ilmu Taubikh ini diajarkan.

Allahummaghfirlahu, warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu …

About these ads

One Response to Tingkatan-tingkatan Sikap Beragama

  1. [...] Tingkatan-tingkatan Sikap Beragama « inspirasi [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 538 other followers

%d bloggers like this: