Skenario di Balik Penistaan Agama

Taufiq Hartono
Ketua DDII Temanggung

(Republika, 12 Februari 2011)

Kalau Anda ingin orang Islam marah, bakarlah masjid!
Kalau Anda ingin orang Kristen marah, bakarlah gereja!
Kalau Anda ingin keduanya saling serang, bakarlah masjid dan gereja!

(Machiavellisme)

a
Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah warga Florence, Italia, seorang diplomat ulung, politikus, dan juga seorang filsuf. Siasat mengamankan kekuasaan dengan cara yang paling liberal bisa dibaca di bukunya The Princes (1932). Saking liberalnya, ia sangat antimoral, menjauhi keadilan, kearifan, dan kasih sayang, bahkan lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, teror, dan penindasan. Konotasi buruk pun melekat pada dirinya, yang digambarkan dengan penghalalan segala macam cara demi mencapai tujuan sebagai salah satu ajarannya. Sehingga, orang yang berlaku semacam itu akan langsung dicap sebagai seorang makiavelis.

Jauh sebelum itu, Sun Tzu (512 SM) telah mengajarkan kekerasan yang sama tapi dengan cara-cara yang halus. Bahkan, terkadang kekerasan itu ia bungkus dengan kehalusan budi sebagai siasat dan tipu muslihat. Dalam karyanya, The Art of War (Thomas Cleary (ed), 1988), antara lain ia mengajarkan, “Gunakan kerendahan hati untuk membuat musuh-musuhmu sombong! Buatlah mereka berlari ke sana kemari! Buatlah perpecahan di antara mereka sendiri! Seranglah ketika mereka dalam keadaan tidak siaga! Bergeraklah ketika mereka tidak mengira akan ada serangan itu!”

Machiavelli dan Sun Tzu memang bukan orang Indonesia. Tapi, machiavellisme dan sun-tzuisme bisa hidup dan berkembang di mana saja. Sah-sah saja jika terjadi perbedaan persepsi antara seseorang dan orang lainnya, atau antara tokoh lintas agama dan penguasa, yang kemudian-diharapkan dari perbedaan itu-muncul upaya saling mengoreksi diri demi terwujudnya kemaslahatan bersama.

Itulah yang sering disebut bahwa dalam perbedaan terkandung rahmat. Akan tetapi, ketika upaya mengritik dimaknai dengan membenci, mencurigai, dan menjatuhkan, tak ayal machiavellisme dan sun-tzuisme mewujud dalam bentuknya yang menyeramkan, tragis, dan mencekam. Kerugian di masing-masing pihak pun tak terhindarkan; raga, jiwa, pikiran, harta benda, dan waktu. Rakyatlah yang menjadi korbannya.

Hanya asap

Penistaan agama di Temanggung oleh Antonius Richmond Bawengan pun tak lepas dari itu. Ia menyisakan kemarahan, kejengkelan, dan tentu saja rasa pedih. Berita televisi tidak bisa dijadikan ukuran untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Nuansa keberpihakannya tampak sangat jelas di mata sebagian warga masyarakat yang kritis. Apalagi bagi yang ikut menyaksikan dan merasakan getaran amuk massa pada beberapa saat setelah hakim memutus perkara Antonius dengan lima tahun penjara.

Orang yang punya penalaran baik pasti bisa melihat banyak sekali kejanggalan yang terjadi. Antara lain setting dan cara pengamanan polisi yang membuka peluang untuk terjadinya amuk massa. Selain itu, penghancuran puluhan sepeda motor, pemukulan, serta penghinaan terhadap seorang tokoh panutan umat yang dilakukan oleh oknum polisi, telah memprovokasi massa untuk melakukan pembalasan.

Hal ini sudah diterangkan secara kronologis dalam Buku Putih, terbitan Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). Kapolres Temanggung AKBP Anthony Agustinus Koylal pun menyadari akan kesalahannya dan meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Sementara itu, orang-orang yang terprovokasi dan (baru) diduga berbuat onar karena provokasi itu, diambil dan diamankan satu per satu.

Jawwi’ kalbaka, yatba’ka (buatlah anjingmu lapar, maka ia akan mengikutimu). Ini adalah pepatah Arab yang mengajarkan kepada kita tentang sebab dan akibat. Sebab selalu lebih dulu dari akibat dan akibat akan mengikuti sebabnya. Perumpamaan ini persis sama dengan api dan asapnya. Saat penulis mewakili FUIB-bersama para anggota DPRD Temanggung-menemui Kapolres Temanggung, Kapolres menyatakan bahwa prosedur hukum dilakukan atas dasar tindakan. Tentu saja, tindakan yang hanya kasat mata. Sebenarnya, yang dibutuhkan adalah siapa pelakunya.

Buku Ya Tuhanku, Tertipu Aku yang disebarkan Antonius bisa menjadikan umat beragama marah. Tidak hanya Islam, tapi juga kelompok agama lain. Karena di dalam buku itu tampak upaya penistaan agama, baik Islam maupun agama lain.

Isi dan redaksinya memang disunting sedemikian rupa sehingga bisa memosisikan Muslim-Nasrani secara berhadapan. Itulah gelindingan provokasi yang secara eksplisit terkandung di dalam buku ini, yang juga lantas memengaruhi tindakan polisi. Artinya, aparat kepolisian juga terpancing dalam provokasi ini.

Sayangnya, upaya penelisikan masalah tidak sampai pada titik-titik motif. Yang kemudian di-blow up secara besar-besaran dan diulang-ulang penayangannya oleh media elektronik adalah massa yang brutal, perusakan, serta tindakan-tindakan anarkis lainnya. Padahal, semua itu hanyalah akibat, bukan sebab; itu hanya asap, bukan apinya.

Orang yang cerdas pun akan gampang mempertanyakan, siapakah Antonius? Atas dukungan siapa ia bergerak? Mengapa ia menolak didampingi pembela? Ia bahkan tampak sangat percaya diri di hadapan para hakim dan massa. Lantas, siapa yang mem-backing-nya? Last but not least, permainan tingkat apakah semua ini? Dan, siapakah yang memainkannya?

Penulis merasa yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab. Sebab, memang tidak akan ada upaya penelisikan yang diarahkan sampai ke sana. Kepentingan memang akan selalu disembunyikan. Kepentingan baru akan tampak ketika seluruh proses permainan selesai dimainkan. Maka, di sini Sun Tzu benar. “Buatlah mereka berlari ke sana kemari! Buatlah perpecahan di antara mereka sendiri! Seranglah ketika mereka dalam keadaan tidak siaga!”.

Bangsa ini pun hidup serupa itu, hidup dalam grand design yang para kawula alit tak akan pernah mengerti sang dalang tengah memainkan lakon apa dengan wayang-wayangnya.

Provokasi dan motif adalah dua kata kunci dari masalah penistaan agama di Temanggung. Rakyat dan umat adalah wayang. Siapakah dalangnya? Dan untuk kepentingan apa semua itu dibuat? Yang paling tahu tentu dalangnya sendiri. Wallahu A’lam.

5 Responses to Skenario di Balik Penistaan Agama

  1. adul says:

    singbecik ketitik sing olo ketoro
    wong cilik mung iso ndongo … mugo-mugo ndang lebar baroto yudo

  2. ude baha says:

    alangkah lucunya negri ini ya bang…🙂

  3. suseno says:

    selamat sore pak,
    bagaimana cara saya untuk kontak dengan bapak,ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan…
    terima kasih

  4. Moeflich says:

    Terima kasih Mas Suseno. Email: moeflich@gmail.com atau di facebook.

  5. aristo oesman says:

    Semakin luas dan terang pengetahuan atas insiden Temanggung. Sepakat harus kita cari dalangnya. Sebagai wayang tentu hanya ikut ingat bingar di TKP. Lalu untuk maksud apa, penayangan yang berulang-ulang sedikit episode penggambaran kebrutalan massa. Akankah tuduhan provokasi? Tampaknya tidak, sebab toh hingga kini bebas-bebas saja menyiarkan. Penggambaran watak para Machiavelli dan Sun Tzu amat kentara. Mudah-mudahan seruan agar dilakukan tindakan tegas, bukan hanya didasarkan atas provokasi. Keadilan tentu didasarkan pada rumus sebab dan akibat. Adakah kemampuan para pemimpin kita sampai di sana? Jika tidak, sungguh bahagia para ‘dalang’ dengan keberhasilan memecah belah persatuan dan kesatuan para anak bangsa! Ya, Allah tunjukanlah kesadaran hakiki keadilan bagi mereka yang memiliki kewenangan di negeri ini. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: