Book of The Year 2011

Moeflich Hasbullah
*
Judul:
Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila.
Penerbit: Gramedia, Jakarta.
Tahun: 2011
Hal: 698
Harga: Rp. 155.000

*
Buku yang wajib dibaca oleh seluruh manusia Indonesia agar sadar bahwa bangsa dan negaranya sesungguhnya adalah  bangsa dan negara yang besar. Mengupas secara mendalam sejarah, rasionalitas dan aktualitas Pancasila sebagai hasil jerih payah, perjuangan dan pemikiran ideal para pendiri bangsa. Mereka adalah para negarawan cerdas di zamannya. Bila dulu kita memiliki banyak negarawan, sekarang kita memiliki banyak politisi. Dan disitulah Indonesia bermasalah!! Kita sangat mendambakan hadirnya kembali para negarawan untuk mampu menangkap zeitgeist, elan vital, ruh dan jiwa para pendiri bangsa yang telah berdarah-darah mendirikan Negara Indonesia. Krisis Indonesia sesungguhnya adalah krisis negarawan, dan malapetaka Indonesia adalah limbah politisi. Bila negarawan hanya memikirkan negara dan bangsa, politisi hanya memikirkan kelompok dan kekuasaan.

Kenegarawan yang jarang itu seolah-olah muncul lagi dalam sosok Yudi Latif, intelektual yang difikirannya bukan golongan atau kelompok melainkan negara. Dan itulah yang terasa dari mengunyah Negara Paripurna ini. Dalam usia mudanya, Yudi Latif sudah melampaui para pemikir seusia dan segenerasinya. Karenanya, banyak kalangan menyebut Yudi adalah pewaris atau reinkarnasi dua sosok sekaligus: Soekarno dan Nurcholish Madjid. Soekarno sebagai negarawan besar, Nurcholish Madjid sebagai pemikir besar dari kalangan santri. Keduanya menyatu dalam sosok Yudi Latif. Buku ini enak secara bahasa, mencerdaskan secara materi dan menyadarkan secara jiwa. Kita menjadi tersadar Indonesia sebagai negara besar yang kemudian, sejak Soeharto, dengan sangat menyedihkan, menjadi salah urus ini. Tidak salah Majalah GATRA menjadikannya sebagai Book of The Year 2011.

Komentar-komentar tokoh nasional tentang buku Negara Paripurna:

Sangatlah melegakan dan membanggakan bahwa dalam keterpurukan yang sedang dialami oleh bangsa kita, muncul seorang intelektual muda, Yudi Latif, yang mampu menjabarkan dan memperkaya Pancasila sampai pada akar-akar sejarahnya. Buku ini patut disebarluaskan dan dijadikan bacaan wajib bagi setiap warga negara Indonesia.

–Kwik Kian Gie, Ekonom, Penggerak Pendidikan dan Mantan Menteri Koordinator Perekonomian

“Buku ini menunjukkan posisi dan kelas Yudi Latif sebagai intelektual-aktivis yang memiliki panggilan moral-intelektual tinggi untuk memantapkan Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia dengan pendekatan ilmiah. Saya yakin buku ini akan menjadi karya klasik yang selalu bisa jadi rujukan siapa pun yang ingin mengenal dan mendalami jati diri bangsa Indonesia. Buku ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para aktivis sosial, politisi, dan penyelenggara pemerintahan.

–Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam buku Negara Paripurna ini, Yudi Latif tidak hanya menunjukkan keluasan pengetahuan namun juga kejernihan dan ketajaman seorang intelektual merdeka yang dilahirkan bangsa ini. Membaca buku ini, kita disadarkan bahwa para pendiri bangsa, dengan keluasan wawasan, ketulusan niat, kesungguhan mencapai yang terbaik serta tanggung jawabnya kepada nusa dan bangsa, telah mewariskan kepada kita suatu dasar falsafah dan pandangan hidup negara yang begitu visioner. Sebuah buku yang bisa menjadi lentera untuk memandu bangsa ini keluar dari kegelapan dan keterpurukan.

–Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute

Yudi Latif mampu menafsirkan Pancasila secara kontekstual dan sarat dengan napas pluralisme dan inklusivisme. Ketuhanan Yang Maha Esa dia reword menjadi Ketuhanan yang Berkebudayaan. Pancasila menjadi begitu hidup! Buku ini sungguh wajib dibaca oleh berbagai kalangan profesi, dihayati, dan kemudian kita jalani dalam kehidupan sehari-hari.

–Sudhamek AWS, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia

Penulis berhasil menggali mutiara yang terpendam dan menyegarkan kembali kesadaran kita bahwa Pancasilalah perekat ke-kita-an kita, apalagi di tengah menguatnya rasa ke-kami-an di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Buku ini pantas menjadi rujukan yang relatif lengkap dalam upaya melakukan rejuvenasi atau restorasi Pancasila, sebelum generasi masa depan mendadak amnesia dengan falsafah hidup hasil jerih payah para pendiri bangsa.

–Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D.,Wakil Menteri Pendidikan Nasional RIK

2 Responses to Book of The Year 2011

  1. gabriel says:

    Siapa kah nanti yang akan menunggang Garuda Kencana yang membawa panji-panji luhur berkehidupan berkebangsaan. Bukan untuk berkematian seperti yang umum terjadi saat ini.

    Para rider dengan garuda kencana manyematkan apa yang ada di dadanya ke dada garuda kencana. Menyadarkan para pewaris bangsa/ kaum untuk berketuhanan yang esa hidup dalam keberadilan sosial mencapai persatuan yang wahidan rahmatan dengan dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan menuju keadilan sosial bagi kaumnya. Menjadi pemimpin adil dan bijak.
    Seperti yang telah lalu mereka yang menunggang kapal mengahadapi banjir bandang, penunggang unta, penunggang kuda bahkan ada yang disapih oleh sapi betina untuk menjadi darah biru.

    Sebuah nilai hidup di atas semua agama dan kepentingan. Daan apapun yang menjadi landasan berpijak.

    Inilah kebenaran sebuah berita yang kemudian berubah menjadi sejarah lalu melegenda dan menjadi mitos yang serba ajaib. Sukar untuk ditelaah

  2. Sandi jaya says:

    Muda kaya raya,tua bersenang-senang,mati masuk surga alohwalam,subhanallah,insyallah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: