Buku Menggemparkan!!! Merobek Potret Hitam Islam (10 Tesis Anti Kebencian). WAJIB BACA!!!

Oleh Sultan Haidar Shamian
a

Hampir tiap hari kita mendengar analisis, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan, cendekiawan dan politikus Barat tentang Islam. Dari kacamata Barat, diingkari atau tidak, citra Islam terasosiasi tidak baik. Jarang, ada seseorang yang mampu menggambarkan dialektika dunia Barat dan dunia Islam, tanpa terjebak di lubang prasangka, curiga, sinisme, atau kebencian.

Dan puji Tuhan. Tidak seperti yang lain, seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Quran. Juga tidak seperti yang lain, ia telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya pada banyak perjalanan di dunia islam: Irak, Iran, Libya, Sudan sampai Afghanistan.

Seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Quran.  Setelah membaca, mengamati dan berpikir, Todenhöfer menulis. Hasilnya: sebuah buku “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam – Sepuluh Tesis Anti Kebencian”), yang terbit di akhir tahun 2011. Berikut ringkasannya:

Barat Lebih Brutal dari Dunia Islam
Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko.

Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya.

Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat.

Mempromosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme
Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektiv, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru. “Seorang pemuda muslim,” tulis Todenhöfer, “yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris.”

Beruntung saja, sebagian besar pemuda islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Marokko, dan negara-negara muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan.

Terorisme: Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam
Pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme: “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan.

Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.

Hukum Internasional untuk Semua
Di hadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang jatuh atas nama “teror-Islam“ semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak tidak pernah ditematisir?

Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“

Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh.

Muslim, Toleransi dan “Perang Suci“
Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi.

Islam tidak mengenal kata suci dalam kaitannya dengan perang. Jihad bermakna sungguh-sungguh di jalan Tuhan. Tidak ada satu tempat pun di Quran yang memaknakan jihad dengan perang suci. Karena perang tidak pernah suci, dan kesucian hanya ada di jalan perdamaian.

Kontekstual Quran dan Islam-Teroris
Permasalahan besar dalam perdebatan Quran di dunia Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya.

Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Mekkah dan Madinah, waktu itu.

Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.

Secara semantis, diksi “Islam-teroris”, “Kristen-teroris” atau “Yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan. Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi teror – tapi bukan ajaran agamanya. Ideologi ini tidak mengantarkan mereka ke surga, tapi ke neraka.

Fakta atau fake ?
Kalimat andalan kritikus anti-Islam di barat: „siapa yang menginginkan panggilan azan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!” Padahal nyatanya: Di Teheran, semisal, berdiri banyak gereja. Loncengnya berbunyi tidak jarang, dan tidak pelan. Lebih jauh, anak-anak kristen memiliki pelajaran agamanya sendiri (sesuatu yang luxus untuk anak-anak muslim di Barat).

Barat megidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi, wanita-wanita pemakai jilbab, yang begitu dipedulikan barat itu, justru berkata bukan (atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya.

Barat menuduh perempuan-perempuan islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%. Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen
Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang teroris. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi.

Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai “agama iblis dan sihir”. Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: “secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.”

Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada “Islam”, tetapi menjadi “Yahudi” atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim.

Muslim Melawan Teror
Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata.

Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada.

Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa.

Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Ini adalah kejahatan melawan Islam. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam.

Politik Bukan Perang
Kalimat bijak pernah mengajarkan: “ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!”

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Sebuah visi akan sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan.*** (http://media.kompasiana.com)

_________________

Sultan Haidar Shamian, mahasiswa (25) kelahiran Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman. Selain aktif di berbagai organisasi muslim dan kemahasiswaan di Jerman juga merupakan aktivis kemanusiaan bersama MER-C Jerman. Dunia menulis dan Jurnalistik telah menjadi bagian kehidupannya semenjak kecil. Timur tengah, politik, pendidikan, islam, kemanusiaan dan lingkungan adalah tema-tema besar yang terus menginspirasi dunia menulisnya.[]

About these ads

15 Responses to Buku Menggemparkan!!! Merobek Potret Hitam Islam (10 Tesis Anti Kebencian). WAJIB BACA!!!

  1. Wahyudi Setiawan says:

    Semoga selalu dalam bimbingan Allah, amin

  2. Islam adalah Agama Rahmatan Lil ‘alamiin… kesombongan barat suatu saat pasti akan hancur dengan sendirinya, yakinilah bahwa suatu saat nanti mereka akan saling menghancurkan diri mereka sendiri…

  3. i'm moeslem and i love peace says:

    subhannallah, mengutip kalimat di atas “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” adalah salah satu pemikiran yg sangat dangkal. muslim bertindak karena ada sebab dan akibat, dan itu banyak terjadi di daerah konflik. juga dilakukan untuk membela golongan pada khususnya bahkan negara pada umumnya.

  4. Amri Faizal says:

    Waow

  5. Firdaus says:

    Islam agama damai, Islam indah, Islam obat, Islam benar, Islam kuat, Islam ikhlas, Islam agamaku, Islam mudah tapi jangan dipermudah, Islam sulit tapi jangan dipersulit, Islam bukan agama orang bodoh. Yang dimana alangkah bodoh satu agama jika tuhan mereka harus menderita karna dosa umatnya, berarti dia bukan tuhan tapi budak yang bodoh.

  6. xlunlimited says:

    Agama di dunia ini yang masih murni sebagai agama wahyu dari Allah adalah Islam,sebab Alquran yang merupakan kumpulan wahyu dari Allah sebagai sumber ajaran, dari sejak abad 600M sampai saat ini tetap terjaga kemurniannya tanpa ada editan atau perubahan ditambah atau dikurangi baik bahasa maupun isinya. jadi kalau ada pribadi,kelompok, organisasi atau golongan yang

  7. pencari kebenaran says:

    Bila kita memakai analogi adegan film maka menjelang adegan film berakhir maka semua figuran disingkirkan dan hanya ada dua kekuatan yang saling berhadapan yaitu sang fahlawan dan sang antagonis dengan pengikutnya masing masing yang berbaku hantam,jadi menjelang adegan film berakhir sang sutradara mengarahkan penonton untuk hanya melihat pertarungan antara dua pelakon utama.
    Pada mulanya sang pahlawan menjadi bulan bulanan sang antagonis tapi sang pembuat ceritera sudah menentukan bahwa sang pahlawanlah yang harus menjadi pemenang walau diawal ia menjadi fihak yang kalah.
    mengapa tidak melihat sejarah dunia seperti itu,sebagaimana sabda Rasullulah bahwa diakhir zaman dunia akan mengkristal kepada dua kekuatan besar yang saling berhadapan satu sama lain.sang pahlawan yaitu kebenaran- agama (diwakili oleh Agama Islam sebagai agama yang terbaik) vs musuh musuhnya yang menyerang dari berbagai penjuru (dimana serangan yang paling berat sebenarnya berasal dari filosof-saintis atheistik-materialistik). apa dan siapa sebenarnya yang kini tengah berperan sebagai sang antagonis dunia (?) yang jelas pemeran figuran seperti komunisme telah tersingkir dari panggung utama sejarah dunia..

  8. Ibnu says:

    @Mr Nunusaku,
    Kasihan sekali Anda itu, hanya mengekor pada orang yang membual ttg Al Quran. Banyak bicara tetapi sama sekali gak pernah membacanya. Ketika membacanya, juga salah mengartikan apa yang dia baca.
    Baca lagi tulisan di atas, kata2 Anda itu sudah dijawab di sana.
    Sering2lah membaca yang baik, Pak. Dan carilah tafsir yang benar, bukan pake tafsir sendiri yang mengikuti kebencian bukan kebenaran… Sebelum Anda memberi komentar.
    Kasihan sekali Anda.

  9. nocomment says:

    pak mr.sbnarnya anda yg patut dkasihanin dan ente bner2 bego pak.suatu saat klo ente mati ente akan melihat sendiri kebenaran islam ddlm kubur.terlaknat kau mr.nunusa,fuck you.

  10. nocomment says:

    iblis kau mr nunusaku.ente sdh menghina kitab & nabi umat islam.inilah arti dr ayat al Quran dan ucapan nabi muhammad yg ente hina;’apbila mereka (yahudi & nasrani menghina,menginjak2,menghasut,memerangi agama ALLAH SWT tanpa ada sebab maka perangilah dan bunuhlah mereka.)ente sudah membuat umat islam marah mr.nunusaku ente wajib dibunuh mr.keparat kau…

  11. nocomment says:

    Baca and simak yg bener mr.nunusaku artikel diatas yg di ungkapin jurgen todenhofer.ternyata yahudi dan kristen(nasrani) lebih biadab.mereka yg menebar kebencian,pembunuhan,perkosaan,peperangan trhadap islam.mereka juga yg mengada2kan teroris,mengisukan adanya teroris.padahal mereka sendiri biangnya teroris dengan memfitnah islam sebagai teroris.

  12. zulfa1990 says:

    Reblogged this on zulfa1990.

  13. Nur Ahdiyah says:

    saudara ku ,,, sungguh Allah slalu melihat apa saja yang telah kita lakukan.

  14. thoriq says:

    Subhanallah…

    teman, di FB ada satu grup tertutup, namanya mungkin sangat menyakitkan (Kesaksian Mantan Muslim), Tapi Anehnya Yang Bikin Ts/Tema diskusi Bukanlah Mantan Tersebut, Melainkan Asli NonMuslim.
    Bahkan Ts/Tema Tersebut Lebih Mendiskriminasikan Islam dan (Mungkin) Bisa Jadi Sangat Berbahaya Bagi Para Anggota Yang Masih Awam dan Muda dalam dialog tersebut, karena Dalam Grup Tersebut Penuh Propaganda dan Hasut.

    ~Save Islam~

    Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 538 other followers

%d bloggers like this: