Feminisme, Gender dan Islam

Kafil Yamin
Wartawan free-lance untuk  Kantor Berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok. Mantan Redaktur The Jakarta Globe.

 

KALAU kita berbicara dengan seorang feminis, tulen atau tanggung, kita akan nyaris bosan mendengar kata-kata ini: woman exclusion [Penghambatan perempuan], social construction [konstruksi sosial], gender bias [bias jender], gender equality [kesetaraan jender], gender equity[ keadilan jender], woman’s rights [Hak-hak perempuan], domestic violence [kekerasan dalam rumah tangga].

Sedangkan dalam bentuk frasa, kita pun akan berulang-ulang mendengar kata-kata ini: Men and women are fundamentally the same [Terjemahan bebas: Selain lubang vagina dan tetek, laki-laki dan perempuan itu sama]; Gender differences are all socialized, not biological [Perbedaan jender itu bikinan sosial, bukan biologis]; unrealized potential [potensi yang tak disadari]; Sexual sameness [Kesamaan seksual], to be feminine is to be weak [bersifat feminine itu menunjukkan kelemahan].

Bila seorang feminis mengucapkan ini semua dengan gaya ucapan digital, otomatis dan terprogram, maka bisa dipastikan dia sudah menyelesaikan women’s studies – bea siswa. Nyaris tidak ada studi perempuan tanpa beasiswa, karena kalau bayar sangat minim peminat.

Itu pun menunjukkan bawa agenda feminisme internasional telah sukses padanya.

Feminisme itu ideologi

Ia lahir dari Woman Liberation Movement tahun 60an di Amerika Serikat. Perang Dunia II baru saja usai, pada saat yang sama industri di A.S. sedang jor-joran di segala bidang. Kaum kapitalis rame-rame menanam investasi. Pabrik-pabrik kekurangan buruh.

Kaum pemodal khawatir tengat balik duit akan sangat telat. Industri memerlukan jauh lebih banyak buruh. Bukankah ada banyak orang kulit hitam menganggur? Jangan. Mereka itu tak punya etos kerja.

Coba buka literatur-literatur tentang kehidupan kaum perempuan A.S., tahun 60an, 80persen adalah ibu rumah tangga, dengan pakaian tertutup, berkain panjang. Hitungan kasar, jumlah kaum perempuan AS sekitar 60persen dari keseluruhan penduduk. Nah, bagi kaum pemodal, ini ‘unrealized potential’. Mereka harus dikerahkan ke pabrik-pabrik.

Yang berpikir begini tentu saja kaum pemodal. Mereka menyusun strategi bagaimana caranya mengeluarkan kaum perempuan dari rumah. Berkoalisi dengan media yang juga dikuasai kaum kapitalis, kampanye pun dimulai dengan isu-isu ini:

Perempuan selama ini tidak merdeka, terkungkung budaya patriarkis.
Perempuan menjadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga
Perempuan yang berhasil adalah yang mandiri dalam hal pendapatan
Perempuan berhak atas jabatan publik
Perkawinan itu adalah kesepakatan, termasuk menentukan jumlah anak. Menyusui itu pilihan.
Perempuan harus mengejar karir dan menjadikannya prioritas utama
Tak usah heran bila seorang feminis, meski dia sudah menikmati pekerjaan yang layak, dia akan tetap bilang bahwa tempat kerjanya diskriminatif terhadap perempuan. Itu sudah digital.

Apa yang terjadi pada kaum perempuan AS dan Eropa sekarang?

Satu dari 4 perempuan berusia 49-59 tahun meminum pil anti depresi [USA Today];
Harapan hidup rata-rata perempuan Amerika menurun [IHME) at the University of Washington];
8 juta orang AS menderita gangguan pencernaan – 7 juga di antaranya adalah perempuan [Press TV];
Satu dari 4 wanita antara 45-64 tahun mengalami kekacauan mental, meningkat 20persen selama 15 tahun terakhir [The Telegraph];
Tak sampai 1 persen perempuan yang mencapai posisi puncak, selebihnya bekerja sebagai tenaga pemasaran eceran, yang menjual senyum dan ‘menekan’ calon kosumen dan kerja gila-gilaan dan gaji rendah. Karena sulit mencari pasangan setara, makin banyak perempuan jadi lesbian, laki-laki jadi Homo. Rockefeller Foundation adalah jaringan korporasi utama dan pertama dalam mengkampanyekan isu-isu ini melaui media massa, organisasi kewanitaan dan perguruan tinggi. Acara-acara teve yang mempromosikan isu-isu tadi muncul serentak di stasiun-stasiun teve AS: Mob Wives, Real Housewives, Jersey Shore, Sex in the City, Jerry Springer, Steve Wilkos, Maury Povich.

Pada saat bersamaan, majalah-majalah gaya hidup selalu menampilkan profil perempuan berkulit mulus, berbadan ramping, dan berbusana minimalis. Ini profil standar perempuan karir yang sukses. Citra dan konsep kecantikan perempuan berubah, dari yang kemayu, lembut, penuh kendali dan menyejukkan menjadi agresif, bebas-lepas, flashy [terjemahan bebasnya: ‘tebar pesona’].

Dalam konsep kecantikan yang baru, tampilan feminin itu [kemayu dan lembut] adalah pertanda kelemahan. Dan citra kemaskulinan pun berubah, laki-laki yang disukai kaum feminis adalah yang feminin. Maka, laki-laki macam begini laku di layar kaca. Karena Indonesia adalah provinsi AS yang ke-53, media teve di sini pun sama: Olga, Ruben, Indra Bekti, Aming adalah ikon ‘laki-laki’ sukses.

Kampanye di kalangan perguruan tinggi adalah dengan pembukaan bidang studi ‘Women’s Studies’. Coba ketik ‘Rockefeller Foundation’ dan ‘Woman Studies’ di pencarian google, anda akan bersua dengan ratusan item.

Women’s Studies mengadopsi disiplin-disiplin ilmu lain, terutama antropologi, biologi, sosiologi, psikologi dan Kesehatan.

Nama Women’s Studies sendiri menganduk konflik. Nama ini bias jender karena tidak ada Men’s Studies, padahal dalam kajian-kajiannya ia menerapkan analisis jender yang meniscayakan komparasi antara laki-laki dan perempuan, tapi yang disebut cuma ‘women’-nya.

Gender adalah terminologi ilmu atropologi. Ia menjelaskan sifat atau perilaku yang dilekatkan pada kelompok jenis kelamin oleh lingkungan sosial dan budaya. Jadi kata ini bukan penjelasan tentang jenis kelamin. Namun dalam jargon ‘ kesetaraan jender’, yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah kesamaan perlakuan atas jenis kelamin.

Saya menemukan naskah bahan ajar seorang dosen IPB yang menjelaskan analisi jender seperti ini: Analisis gender adalah suatu alat untuk menyusun kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam rangka strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender.

Kok analisis ada urusannya dengan ‘strategi untuk mencapai kesetaraan jender’?

Padahal, dalam pengertian asalnya gender analysis is the process of assessing the impact that a development activity may have on females and males, and on gender relations [Juliet Hunt].

Coba browse hasil-hasil analisis jender di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, 99,99 persen hasilnya adalah ‘perempuan korban sistem anu, perubahan iklim lebih berdampak kepada kaum perempuan, kekerasan terhadap kaum perempuan meningkat, pelecehan terhadap kaum perempuan melonjak, dst, dst. Nyaris tidak ada, bahkan tidak ada sama sekali hasil analisis jender yang menyimpulkan laki-laki dirugikan. Dalam kenyataan, banyak sistem, nilai, aturan, gejala alam, yang lebih banyak merugikan kaum laki-laki. Ini bias jender yang kelewatan karena analisis jender pasti bukan kajian hanya tentang perempuan.

Tak mengherankan bila terma-terma feminis pun mengandung ironi. Sampai-sampai Helen Gurley Brown, redaktur majalah Cosmopolitan, berujar: “If a loving husband provides for a devoted wife, she is a “parasite.” But if she is a corporate slave or whore, then she is “independent” and “liberated.” [Jika seorang istri dinafkahi seorang suami yang mencintainya, maka perempuan itu benalu, tapi bila si istri jadi budak dan lonte perusahaan, maka dia ‘mandiri’ dan ‘merdeka’.

Karena Women’s Studies ditawarkan dengan beasiswa, dengan persyaratan longgar, bidang ini cukup banyak peminat. Peminatnya bisa ditebak, dari negara-negara yang berekonomi lemah – termasuk negara-negara berpenduduk Muslim.

Sejumlah perempuan Muslim yang sudah menyelesaikan Women Studies, pulang ke negerinya masing-masing dengan kosa kata kunci yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Terus apa peran pengetahuan dan ajaran Islam yang mereka bawa? Islam berubah dari pedoman dan nilai hidup menjadi objek kajian, objek ‘analisis jender’.

Dari luar, memang terlihat sejumlah praktik keIslaman yang merugikan perempuan, seperti di Pakistan, Afghanistan, Iran, Maroko, yang tidak mengizinkan perempuan berada di luar rumah pada jam-jam tertentu dan tidak berbaur dengan laki-laki di tempat umum [Indonesia jauh lebih bebas]. Di media-media Barat, perempuan-perempuan Muslim itu tertindas. Dan ‘Islam oppresses women’. Tapi para feminis kecele setelah Dr Ingrid Mattson, seorang feminis Muslim muallaf asal Kanada, melakukan studi empirik dan menemukan bahwa perempuan-perempuan itu sama sekali tidak tertindas, malah umumnya berbagia dan disegani kaum laki-laki, jauh lebih bahagia dan terhormat dari kaum wanita eksektufi AS dan Eropa.

Namun beberapa feminis Muslim hasil sukses feminism internasional akan bilang bahwa mereka itu korban dari ajaran yang bias jender. Atau, bahasa moderatnya, korban penafsiran agama yang diskriminatif. Di Indonesia, feminis Muslim jenis ini gampang dijumpai.

Bahkan seandanya seorang feminis masuk surga, dia akan tetap mengeluh diskriminasi, karena perempuan di sana dilukiskan sebagai bidadari yang melayani laki-laki.

Ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasul lebih dilihat sebagai ‘social construction’. Hukum waris harus sama antara laki-laki dan perempuan, ayat al-Qur’an yang jelas-jelas membedakan, itu ‘konstruksi sosial’, sebab waris itu ‘non-biologis’. Pernikahan yang dalam Islam lembaga sakral, diturunkan menjadi sekedar kesepakatan antara laki-laki dan perempuan, karena itu harus ada perjanjian pra-nikah.

Pun, tidak ada konsep dosa. Homoseksual dan lesbian adalah penyimpangan yang dikutuk jelas dalam al-Qur’an, menurut feminis, homo dan lesbian itu satu jender juga. Dalam kesetaraan jender, mereka punya hak yang sama dengan jenis-jenis seks lain, termasuk perkawinan sesama jenis.

Siti Musdah Mulia adalah contoh sukses program pencucian otak feminisme. Seperti sejumlah ‘feminis Muslim’ lainnya, semua ucapan dan kalimat Siti Musdah sudah bisa diduga sebelum dia buka mulut. Saya tidak menghakimi pemikirannya, tapi butir-butir pemikiran dia 100 persen salin-rekat [copy paste] dari ide-ide feminisme Barat. Dan para feminis yang pikirannya hasil copy-paste ini makin bertambah.

Di Indonesia, perempuan Muslim yang melakukan kajian kritis terhadap premis-premis feminism internasional bisa dihitung jari. Nyaris tidak ada. Anehnya, di Eropa dan Amerika, para Muslimat Muallaf justru berada di barisan depan penentang feminisme: Lauren Booth, Kristiane Backer, Dr. Ingrid Mattson, Lisa Killinger, Yvonne Ridley..

Dan seberapa meyakinpun penjelasan orang kepada kaum feminis, bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan itu bukan hanya vagina dan tetek, bahwa sejumlah penelitian psikologi dan biologi mutakhir membuktikan itu, kaum feminis akan tetap mengulang-ulang kalimat: ‘selain jenis kelamin, laki-laki dan perempuan itu sama’. Dan ‘selain faktor biologis, semua hukum, aturan, pandangan tentang laki-laki itu ‘konstruksi sosial’. Kita akan capek mendengarnya.

Kenapa? Karena pengetahuan mereka bukan ilmu, melainkan ideologi. Sifat dasar ilmu yang terbuka pada koreksi dan inovasi baru, hilang dalam ‘Women Studies’. Semua pengetahuan, informasi, teori, harus menguatkan ideologi feminisme. Kalau ada temuan baru yang merontokkan hipotesa feminisme, dipastikan temuan itu akan dibuang.

Segelintir kaum feminis telah melesakkan RUU Kesetaraan Jender dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ke DPR, rancangan undang-undang jiplakan dari Committee on the Elimination of Discrimination against Women [CEDAW]. Penguasa dan DPR tak dapat diharapkan karena gampang dibeli dengan hanya traktiran makan siang para feminis di restoran Nelayan, Senayan. Atau tambahan uang jajan studi banding ke Eropa tentang kesetaraan jender.

Organisasi-organisasi perempuan Muslim dan akar rumput menjadi benteng utama, sekarang.[]

_________________________

JENDER, KELAMIN [Sex], ANALISIS JENDER

Kafil Yamin

Jender [Gender] adalah terminologi antopologi. Jender adalah kelompok sifat dan karakterisitik yang merujuk kepada jenis kelamin. Dalam antropologi, selain laki-laki dan perempuan ada jenis kelamin lain yang disebut ‘third gender’, atau jender ketiga.

Analisis jender [Gender analysis] adalah proses pengamatan terhadap dampak sebuah peristiwa, kegiatan, gejala, pada laki-laki, perempuan, dan jender ketiga dan pada hubungan antar ketiganya. Lihat: [http://nzaidtools.nzaid.govt.nz/gender-analysis/annex-3-summary-key-gender-analysis-steps]

Kelamin [seks] adalah identitas biologis berdasarkan jenis kelamin.

Analisis jender kemudian diadopsi Women’s Studies, sekaligus didistorsi olehnya menjadi hanya proses pengamatan terhadap dampak suatu peristiwa, kegiatan, gejala terhadap PEREMPUAN.

Bila benar-benar Women’s Studies menerapkan analisis jender secara kaffah, nama ‘Women’s Studies’ sendiri mengandung kontradiksi karena analisis jender tidak hanya mengamati dampak pada perempuan. Tapi nama studi kok perempuan saja. Kalau mau konsisten, mestinya Gender Studies.

Nama Pusat Studi Wanita atau Perempuan, pun mengandung kontradiksi, karena semua Pusat Studi wanita menggunakan analisis jender. Nama yang seharnya: Pusat Studi Jender.

Karena didistorsi, ‘ditarik ke perempuanan’, maka hampir semua hasil analisis jender bekesimpulan menyebelah. Semuanya tentang perempuan. Dan selalu, perempuan sebagai ‘jender’ yang dirugikan — dalam berbagai hal.

Coba browse semua hasil studi perempuan dan analisis jender, hampir semuanya menyimpulkan perempuan sebagai korban. Tapi jika itu hasil pengamatan antropologi, hasilnya tidak menyebelah [tidak hanya perempuan saja].

Karena itu, dalam Women’s Studies, analisis jender lebih merupakan alat ideologi ketimbang alat ilmu. Yakni untuk menguatkan asumsi-asumsi Feminis yang sejak lama dikampanyekan:

Perempuan selama ini tidak merdeka, terkungkung budaya patriarkis.
Perempuan menjadi sasaran kekerasan dalam rumah tangga
Perempuan yang berhasil adalah yang mandiri dalam hal pendapatan
Perempuan berhak atas jabatan publik
Perkawinan adalah kesepakatan. Jumlah anak, menyusui itu pilihan.
Perempuan harus mengejar karir dan menjadikannya prioritas utama

Kalo analisis jender diperlakukan sebagai alat ilmu, maka hipotesis-hipotesis di atas harus berubah ketika ada hasil analisis yang membuktikan sebaliknya. Misalnya, bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu bukan hanya biologis, tapi juga cara berpikir, minat, afiliasi, sosialisasi.

Konstuksi sosial yang menkonsepkan laki-laki itu bagaimana, dan perempuan itu bagaimana, ternyata dibentuk oleh oleh faktor biologis alias jenis kelamin, bukan oleh makalah doktor netral kelamin seperti Irshad Manji, atau Olga atau Ruben.[]

2 Responses to Feminisme, Gender dan Islam

  1. muhsin says:

    “Mereka membuat “ATURAN” tanpa dasar “HUKUM YG JELAS”,kebenaran datangnya dari “ALLAH”, bukan dr “Manusia dan hawa nafsunya”,ttg propaganda ini Allah menceritakannya dlm firman-Nya “Orang2 yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepadamu sehinggan kamu mengikuti agama mereka…..dst (QS.2:120) dan mereka berkata “Hendaklah kamu menjadi Yahudi atau Nashrani ,niscaya kamu mendpt petunjuk….dst (QS.2:135)
    Dan Allah memperingatkan dlm firman-Nya yg lain “Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yg ada d dalamnya……(QS.22:67)
    “……………………………, Demikianlah Allah menyesatkan orang2 yg melampaui batas dan “RAGU2”, yaitu orang2 yg memperdebatkan Ayat2 Allah tanpa alasan yg sampai kepada mereka, Amat besar kemurkaan (bagi mrk) d sisi Allah dan d sisi org2 beriman, Demikianlah Allah “MENGUNCI HATI ORANG2 YG SOMBONG DAN SE-WENANG2″….(QS.40:34:35)…
    Bahkan mereka tidak percaya dg Al quran, tersebut dlm firman-Nya..”Dan ketika mrk berkata “Ya Allah jika betul (Alquran) ini dialah yg benar dr sisi Engkau, maka hujanilah kami dg batu dr langit atau datangkanlah kpd kami azab yg pedih..” (QS.8:32)
    “Sesungguhnya orang2 yg pasti terhadap mereka “KALIMAT” Tuhan-mu, tidaklah akan beriman…..meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yg pedih.”

    “Kalimat” (disini maksudx “Ketetapan”,yaitu, org2 yg d tetapkan Allah SWT dalam lawh mahfuz bahwa , mrk selamanya tidak akan beriman dan akan mati dlm kekafiran..

    Allah memberi keputusan dlm firman-Nya ” Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yg d turunkan Allah, maka mrk itu adalah orang2 kafir….(QS.5:44)………….termasuk org2 dholim….(QS.5:45)…………termasuk org2 yg fasik (QS.5:47)

    Wallahu A’lam,….

  2. muhsin says:

    ada koreksi sedikit…kalimat sesungguhnya..dst sampai azab yg pedih belumada surah d ayatx ya…mgkn kami lupa….itu ada d QS.10.:96:97. tolong d cek ulang ..! trims

    kenapa banyak orang terganggu dg ulah mrk…..nyata2 bertentangan dg Al quran,….abaikan aja deh…sbtlx agak malas ks komentar…..tapi karna yg d singgung mengenai isi Al quran ya terpaksa deh karna kita ciiiiiiiinta mati sm Al quran…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: