Ilustrasi Nabi dan Sufi*)

Moeflich Hasbullah

 

Melihat peranan nabi dan sufi, ibaratnya kita melihat sebuah jalan lurus yang jauh. Jalan itu lebar kemudian menyempit. Di ujung jalan lebar itu berdiri sebuah bangunan dan dibelakang bangunan masih ada lagi jalan yang lurus yang kecil dan menanjak. Jalan lebar hingga berujung ke bangunan itu adalah jalan syari’at, jalan yang dituntunkan Nabi. Sampai kesitulah umat manusia dibawa. Didalamnya ada surga yang penuh kenikmatan. Jalan menanjak di belakang bangunan adalah jalan hakikat, jalannya para sufi. Dari bangunan itu para sufi meneruskan perjalannya dengan rute dan resep-resep dari Nabi, yang kemudian mereka menemukan keterkejutan-keterkejutan spiritualnya sendiri. Di perjalanan itu, penuntunnya bukan lagi nabi tapi langsung Allah SWT. Nabi tidak melarang siapa saja yang akan memasuki jalan itu meneruskan perjalanannya, asalkan sanggup, tapi hanya orang-orang tertentu yang mampu melakukannya. Mereka adalah para auliya yang jumlahnya sangat sedikit.

Jalan lurus lebar itu adalah “jalan umum” (thariqah al-’am) dan jalan kecil di belakang bangunan itu adalah “jalan khusus” (thariqah al-khas). Jalan umum untuk masyarakat umum, jalan khusus untuk orang-orang khusus, keduanya satu jalur tapi beda panjang/jarak. Manusia umum diharuskan hanya berjalan di jalan thariqah al-’am atau jalan syari’at itu. Itulah jalan untuk mereka. Untuk orang-orang khusus, yang sanggup, silahkan kalau mau meneruskan perjalanan ke jalan dibelakang bangunan, tapi ke situ jalannya sangat terjal dan berat. Bisa melewatinya, asalkan sanggup mengatasi tiga rintangan berat ini: mengalahkan godaan syetan, mengalahkan hawa nafsu dan melepaskan ketergantungan pada dunia.

Nabi SAW diutus untuk menjadi tuntunan hidup yang benar (innama buitstu li utammima makaarimal akhlaak) di jalan lebar/syari’at untuk membawa umat manusia sampai pada rumah itu. Para sufi adalah orang yang meneruskan perjalannya, dia melewati rumah, surga di dalamnya dan terus mendekati Tuhan Sang Maha Wujud berdasarkan tuntunan-Nya. Tapi hingga para sufi sampai rumah itu dan meneruskan perjalannnya ke belakang, tetap dibawah bimbingan dan komando Nabi. Para sufi bisa sampai ke rumah itu dan terus mendekati Yang Maha Hakikat itu pun atas resep dan jasa Nabi. Rumah itu adalah tangga, terminal, stasion atau maqam yang wajib dilalui sebagai ukuran benarnya jalan mereka. Para sufi tidak bisa sampai ke rumah dan jalan kecil itu tanpa melalui jalan lebar syari’at dan tuntunan Nabi. Di ujung jalan kecil di belakang rumah itu (puncak pencapaian spiritual), Nabi SAW sudah sampai disitu, berada lebih dulu dan tempatnya paling tinggi (sudratul muntaha). Ini tertangkap dari metafora Abu Yazid al-Busthamy: “Kami menyelami lautan yang para Nabi sudah berhenti di pantainya …”, yang maknanya adalah para Nabi dan Rasul sudah tuntas menyelami Lautan Ilahi, sudah sampai ke ujung benua, sedangkan para sufi masih mengarunginya. Tapi ia tidak berdiam disitu karena bertugas membawa umat manusia sampai ke rumah sebagai akhir pengambaraan.

Karenanya, setinggi apapun derajat sufi tidak akan melampaui Nabi. Para sufi adalah murid-muridnya Nabi dan pasukannya (auliya/ulama). Rasulullah SAW adalah guru spiritual yang sempurna (insan kamil) bagi para sufi. Rasulullah SAW adalah panutan paripurna dalam syari’at dan hakikat. Pencapaian ruhani para sufi tidak akan pernah sanggup melebihi Nabi. Nabi tugasnya membimbing umat manusia, sufi menemukan jalan diri dan mengajarkan hanya pada murid-murid dan pengikutnya.

Saat berjalan mengikuti jalan Nabi (jalan syari’at/thariqah al-’am), kita tidak perlu menyalahkan jalan sufi. Mereka tidak keluar dari jalan Nabi, mereka menjalaninya. “Aku adalah pelayan Al-Qur’an selama aku masih memiliki kehidupan. Aku adalah debu di jalan Muhammad, Sang Manusia Terpilih” (Jalaluddin Rumi). Syekh Abu Nashr as-Sarraj menjelaskan tentang para sufi: “Mereka adalah ulama yang tahu Allah dan hukum-hukum Nya, mengamalkan apa yang Allah ajarkan pada mereka, mengamalkan apa yang diperintah untuk mengamalkannya, menghayati apa yang telah mereka amalkan dan hanyut dengan apa yang mereka hayati. Sebab setiap, orang yang sanggup menghayati sesuatu ia akan hanyut (sirna) dengan apa yang ia hayati.” Bila tidak mengikuti jalan syari’at mereka tidak akan bisa masuk meneruskan perjalannyanya ke jalan kecil itu karena jalan syari’at adalah syarat utamanya.

Mengapa ada beberapa ucapan sufi yang aneh dan seperti “keluar” dari ajaran syari’at Nabi? Itu ucapan mereka dalam kesadaran di jalan kecil di belakang rumah itu (kesadaran sir, rahasia Allah). Sangat mungkin aneh, nyeleneh karena kita tidak memahaminya, atau mempesona bagi yang memahaminya. Suatu saat, Abu Bakar Asy-Syibli, karena keanehannya kemudian dianggap gila. Ia menjawab, “Di mata kalian aku ini gila dan kalian waras. Semoga Allah menambah kegilaanku dan kewarasan kalian. Kalian dihempaskan semakin jauh dan jauh lagi!” Ucapan aneh mereka bukan untuk konsumsi orang yang berjalan di jalan lebar syari’at itu. Ungkapan-ungkapan mereka sudah percakapan langsung mereka dengan Tuhan. Kita masih di jalan lebar syari’at yang ke rumah itu saja belum sampai. Manfat ungkapan para sufi bagi mereka yang berjalan di jalan syari’at adalah sebagai inspirasi saja, sebagai nasehat saja, sebagai penghidup qalbu, jika ingin merasakan kenikmatan ruhaniah puncak harus meneruskan perjalanan seperti mereka walaupun tidak semuanya akan sanggup.

Inilah ilustrasi jalan nabi dan sufi. Para sufi berjalan pada jalur yang benar hanya beda maqam, beda jarak, beda derajat dengan kita. Kita tidak usah ingin seperti mereka, karena jalan kita adalah jalan lebar/syari’at menuju rumah itu. Tidak juga harus menyalahkan mereka karena itu ketaksanggupan kita memahami mereka. Ibaratnya, kelas 1 SD membaca palajaran kelas 6, kelas 1 SMP membaca pelajaran SMA atau perguruan tinggi. Ya berat dan akan sulit mengerti.[] Wallahu a’lam bi ash-shawwab!

*) Sufi disini adalah sufi yang benar, yang lurus, yang tidak keluar dari jalur syari’at dan tarekatnya mu’tabarah (disepakati dibenarkan dalam Islam).

About these ads

3 Responses to Ilustrasi Nabi dan Sufi*)

  1. erwindo14 says:

    saya tidak pernah melihat hadits amupun nash di qur’an bahwa Rasulillah seorang sufi..?????

  2. angel says:

    Sufi….???????
    Setelah baca artikel ini saya dalam benak saya apa itu sufi ? dan siapa yang membawa ajaran sufi ini, apakah ada dalam hadits dan Al’Quran?
    Lalu saya mencari tahu dan saya akhirnya saya tau setalah menonton video ini http://www.youtube.com/watch?v=RcaQC33hfz8. video ini menjelaskan asal muasal sufi.

    dari tulisan ini jelas misi sufi seperti apa. makanya tidak heran banyak yang gila gara2 misi sufi ini.

    kenapa sufi ini harus dibilang murid nabi? bukanya Rasul hanya mempunyai sahabat? bukannya Ulama dan ustaz atau siapa pun yang meng-amalkan isi Al’Quran dan menaladani sikap Rasul adalah kekasih Allah.

  3. Tulisan yang di atas dari sudut pandang tasawuf, sehingga terlihat seakan-akan kontroversi.. Perlu pemahaman dan pembelajaran lebih lanjut…Menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 538 other followers

%d bloggers like this: