Renungan: Benarkah Kita Meminta Maaf ..??

Moeflich Hasbullah

 

Ucapan mohon maaf adalah kebiasaan baik yang diucapkan seseorang pada keluarga, sahabat, kolega, orang tua, anak, atasan atau bawahannya. Meminta maaf tentu harus dilakukan setiap saat kita memiliki kesalahan pada orang lain. Bagi umat Islam, ucapan mohon maaf ini biasanya subur pada musim Idul Fitri setiap tahun. Pertanyaannya, sudah kita benar-benar minta maaf?? Ada dua bentuk permohonan maaf kita pada seseorang.

_____________________

Pertama, mohon maaf tradisi dan formalitas
Mohon maaf ini bahasanya umum, di tempat umum, kalimatnya umum, bahkan berbahasa puisi indah, tidak diarahkan khusus pada seseorang yang dia punya kesalahan, dan tidak menyebutkan apa kesalahan-kesalahannya yang dia mintakan maaf itu. Responya pun umum. Misalnya, “ya sama-sama” atau “saya juga minta maaf.” Ini adalah ucapan mohon maaf tradisi, lebih sebagai formalitas. Insya Allah ucapan ini tidak benar-benar saling memaafkan, tidak menghapuskan kesalahan-kesalahan karena dia pun sesungguhnya tidak benar-benar minta maaf. Masalah dalam hati tidak dibuka dan tetap lestari. Ekspresinya formal, kaku bahkan sekadar saling menyentuhkan tangan. Setelah ritual mohon maaf dan salaman, kesalahan, ketidaksukaan bahkan kebencian tidak pupus dan tetap bersemayam dalam hati.

Kedua, mohon maaf yang benar
Ucapan mohon maaf dengan menghadirkan hati, ditujukan langsung pada orang yang punya masalah, menyebutkan kesalahan-kesalahan secara jelas dengan permohonan serius mohon dimaafkan. Inilah ucapan mohon maaf yang benar. Biasanya, responnya pun sama. Lawan bicaranya juga akan terharu kemudian mengungkapkan kesalahan-kesalahannya yang sama secara terbuka, dengan hati yang sungguh-sungguh. Mohon maaf seperti ini biasanya ditandai dengan saling peluk erat bahkan bila suasananya khidmat bisa mengundang cucuran air mata. Mohon maaf seperti inilah yang berbekas, yang membersihkan kesalahan-kesalahan, yang membuat seseorang kembali ke fitrah. Inilah makna kembali ke fitri, kembali pada kemenangan, minal ‘aidzin wal faidzin.

Jenis kedua ini memang tidak mudah karena kita tidak membiasakan. Berbahagialah mereka yang sudah bisa melakukannya, karena “kembali ke fitrah” layak disematkan pada kelompok kedua ini yaitu orang-orang yang benar-benar saling memaafkan, tulus meminta maaf dan tulus memaafkan.

Wallahu a’lam!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: