Surat Terbuka Jenderal Prabowo Subianto Mengenai Hari Pahlawan dan Sikap Bangsa Indonesia kepada Penjajahan Asing

*

Sahabatku sekalian yang saya hormati dan saya cintai dimanapun engkau berada.

Sebentar lagi kita akan memperingati hari pahlawan. 67 tahun yang lalu, pada tanggal 10 November dan kurang lebih 10 hari sesudahnya berkobar suatu pertempuran dahsyat di Surabaya, Jawa Timur – suatu kota yang sekarang kita kenal sebagai kota pahlawan.

Sahabatku, kalau kita membaca mengenai sejarah hari-hari tersebut, kita dapat larut dalam suatu kekaguman dan kebanggaan bahwa pada awal berdirinya negara kita, pada saat Republik Indonesia belum memiliki apa apa, rakyat Indonesia terutama arek-arek Suroboyo memilih untuk tidak tunduk kepada ancaman dan ultimatum bangsa asing.

Pada saat itu, tentara Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya. Kalau dalam waktu yang ditentukan oleh Inggris (satu kali dua puluh empat jam) para pemuda Surabaya tidak meletakkan senjata dan meninggalkan Surabaya, maka tentara Inggris akan menggempur Surabaya dengan tembakan dari kapal perang dan pesawat udara.

Kita bisa bayangkan, ultimatum ini diberikan oleh tentara yang baru memenangkan perang dunia kedua. Namun kakek-kakek kita, pada usia mereka yang sangat muda, tidak gentar bahkan tidak bergeming. Mereka menolak ultimatum yang congkak dan arogan tersebut. Mereka menjawab dengan teriakan “Allahuakbar” dan pekikan “merdeka atau mati”. Mereka memilih melawan penjajah asing daripada tunduk, daripada menyerah, daripada berlutut di hadapan kekuatan congkak dan arogan.

Kita sungguh pantas untuk kagum dan hormat kepada generasi tersebut. Kepada mereka, arek-arek Suroboyo. Kita yang selalu diejek oleh bangsa-bangsa asing sebagai bangsa yang lemah, bangsa yang bodoh, bangsa yang malas, ternyata pernah tidak tunduk kepada ancaman, kepada intimidasi, kepada kekuatan asing.

Pada tanggal 10 November dan hari hari berikutnya, tentara Inggris menggempur Surabaya. Akibatnya, puluhan ribu orang kita gugur dan tewas. Tetapi arek-arek Suroboyo, para pejuang kita tidak menyerah. Walaupun banyak yang jatuh berguguran, walaupun mayat bertebaran di jalan-jalan dan di kali-kali Surabaya, pejuang-pejuang kita, pemuda-pemuda kita, didukung oleh seluruh rakyat Surabaya, tidak menyerah, tidak tunduk, tidak berlutut.

Sahabatku, kadang kadang dengan berlalunya tahun demi tahun, kita cendung lupa dengan jasa-jasa para pendahulu kita. Kadang-kadang, kita lupa dengan sejarah kita sendiri, ragu dengan jati diri kita sendiri.

Apa memang benar, kita bangsa yang lemah? Apa memang benar, kita bangsa yang kalah? Apa memang benar, kita bangsa yang malas, yang tidak mampu menghadapi bangsa lain?

Mungkin kita akan tercengang, mungkin kita akan kaget melihat betapa gagahnya para pendahulu kita. Bahwa dalam sejarah Indonesia, sepanjang ratusan tahun, selalu muncul pemimpin-pemimpin tangguh, pendekar pendekar pembela rakyat dan keadilan, tokoh-tokoh pejuang yang berani melawan penjajahan dan dominasi bangsa lain.

Bangsa yang kuat, dan bangsa yang besar, adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya sendiri. Saya mengajak sahabat sekalian, terutama adik-adik yang masih muda, untuk belajar dan sadar akan sejarah bangsa Indonesia. Bahwa dalam sejarah nusantara, pernah ada peradaban peradaban yang besar. Pernah ada Sriwijaya, Mataram, Majapahit, dan sekian lagi kerajaan yang tangguh dan tersohor. Begitu banyak pendekar bangsa yang telah menunjukkan keberaniannya, ketangguhannya sepanjang sejarah. Rata rata mereka adalah tokoh tokoh yang berani, jujur, tanpa pamrih dalam membela keadilan dan kebenaran.

Sahabatku, di alam dan suasana negara kita saat ini, kita patut bersyukur dengan apa yang sudah kita capai sebagai bangsa. Janganlah kita tidak mensyukuri pemberian Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa kepada bangsa dan negara kita. Saya juga mengajak sahabat sekalian, marilah kita juga menghormati pendahulu-pendahulu kita, pemimpin-pemimpin kita, yang dengan penuh kelebihan dan kekurangan, yang telah berhasil menjaga keutuhan NKRI sampai saat ini.

Semua pemimpin kita, semua Presiden kita, sampai saat ini adalah manusia-manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tetapi kita yakini mereka memiliki hasrat untuk senantiasa menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia.

Sahabatku, kita kadang kadang terlalu menaruh harapan kepada satu, dua atau tiga orang. Dan kalau ada hal-hal yang kurang baik, kita condong selalu menyalahkan satu, dua, tiga orang tersebut. Padahal kita harus menyadari, keberhasilan suatu bangsa membutuhkan peran serta banyak elemen, banyak komponen, dan banyak pribadi-pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Saya selalu ingat adagium yang berbunyi, “kalau orang baik diam semua, yang berkuasa adalah orang orang yang tidak baik”.

Sahabatku, kalau dulu penjajahan datang dengan fisik secara brutal, kondisi sekarang mungkin lebih sulit. Penjajahan sering tidak terlihat. Tidak membawa tentara, tidak membawa kapal perang – walau di ujungnya ancaman itu selalu ada. Intimidasi, penekanan, dominasi, dan penguasaan bentuknya mungkin lain sekarang. Para penjajah menyogok pejabat-pejabat kita, mempengaruhi para intelektual kita, mengadu domba suku-suku kita dan agama-agama kita ala politik divide et impera.

Ini semua masih terus berlaku. Mereka yang tidak mau belajar sejarah akan dihukum oleh sejarah, dengan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh pendahulunya. Kita harus ingat akan hal tersebut.

Karena itu saya prihatin kalau mendengar orang-orang pintar sekarang, meremehkan kata-kata seperti nasionalisme. Sungguh menyedihkan kalau ada tokoh masyarakat yang mengatakan nasionalisme itu tidak perlu lagi di jaman sekarang. Ada juga orang-orang pintar, bahkan saya pernah dengar seorang doktor mengatakan bahwa sekarang perbatasan sudah tidak berlaku. Saya geleng-geleng kepala, alangkah naifnya doktor tersebut. Kenapa Ia begitu mudah terbuai oleh ajaran-ajaran, dan pandangan-pandangan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang saat ini sedang mendominasi dunia.

Kita akui, bahwa ada peradaban-peradaban yang sekarang mendominasi dunia. Kita juga perlu belajar dari mereka. Mereka juga banyak keberhasilan . Kita dalam hati memang kagum kepada keberhasilan mereka. Kita ingin negara kita dan rakyat kita meniru, menyusul serta mengejar pencapaian-pencapaian mereka.

Tetapi hendaknya janganlah kita terlalu naif, sifat manusia (human nature) tidak jauh berbeda. Maka itu selalulah kita rajin belajar sejarah. Teknologi boleh berubah, ilmu sains terus berkembang, kerumitan peradaban terus bertambah, tetapi sifat manusia, human nature, tidak berubah. Hasrat satu kaum untuk mendominasi kaum lain, hasrat satu bangsa untuk ingin menekan bangsa lain, tidak atau belum hilang. Sifat keserakahan, sifat ingin berkuasa dan menjajah orang lain dan bangsa lain masih tetap bertahan di dunia kita. Kadang-kadang caranya lebih santun, dibungkus dengan bahasa dan teknik yang lebih halus. Tetapi diujungnya kepentingan diri dan kepentingan bangsanya akan selalu menjadi motivasi utama dalam menjalankan hubungan dengan bangsa atau pihak lain.

Karena itu saya merasa sungguh aneh, bangsa bangsa lain boleh patriotik, boleh nasionalis, boleh mengutamakan kepentingan nasional mereka. Kalau bangsa Indonesia, kok tidak boleh?

Saya juga merasa sedih, di saat bangsa bangsa lain begitu gencar membangun peradaban mereka dengan memperbaiki teknologi mereka, industri mereka, pendidikan mereka, prasarana infrastruktur mereka, kita masih saja ribut dengan hal hal yang tidak mendasar. Pertikaian kecil dengan cepat menjalar menjadi perkelahian antara suku. Kalau sudah terjadi, saat ada korban yang meninggal, baru kita saling mencari kesalahan. Banyak kalangan orang pintar selalu mencela dan mencari kelemahan aparat pemerintah dan aparat keamanan. Sebaliknya banyak pribadi dalam pemerintahan dan institusi keamanan sering tidak sungguh sungguh mementingkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat dalam menjalankan kebijakan publik.

Sahabatku, sekarang kita mulai terasa betapa pentingnya ada pemerintahan yang bersih. Dengan pemerintahan yang tidak bersih, tidak efisien, kebocoran kekayaan negara terlalu besar. Dengan kebocoran yang terlalu besar, akhirnya jasa-jasa yang paling dasar, yang dibutuhkan oleh suatu negara moderen tidak bisa tersedia. Kebutuhan air bersih saja untuk rakyat banyak tidak bisa disediakan oleh pemerintah di banyak tempat di Republik kita.

Apakah kita heran kalau terjadi pertikaian dan kerusuhan antara suku dan antara desa, bisa cepat menjalar menjadi kerusuhan yang menghilangkan banyak nyawa? Karena terus terang saja sering aparat pemerintahan tidak dapat menunjukkan kehadirannya di banyak tempat di Indonesia. Reaksi pemerintah sering terlambat karena memang sistim yang dibangun oleh suasana demokrasi liberal ala menyontek dari barat telah menambah ketidakefisienan dan tidak efektifnya pemerintahan kita.

Sahabatku, sudah bertahun tahun saya mengatakan bahwa di Indonesia ini terdapat paradoks, terhadap kondisi janggal. Sudah sejak delapan tahun saya ungkapkan keadaan yang saya namakan “paradoks Indonesia”, bangsa yang kata tetapi rakyatnya miskin. Menurut pendapat saya, kemiskinan ini tidak perlu terjadi apabila para pemimpin yang menguasai pemerintahan melakukan kebijakan kebijakan yang berdasarkan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat serta didasarkan atas akal sehat.

Sebagai contoh: baru saja dalam harian Kompas hari Jumat tanggal 2 November 2012, halaman 34, kita kembali diingatkan bahwa bangsa kita mengalami kerugian besar dari lapangan gas di Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat. Di lapangan tersebut, gas yang dikelola oleh perusahaan asing, dipatok dengan harga US$ 3,35. Sedangkan gas yang sama, yang dari lapangan gas Bontang, yang pabriknya dikelola oleh Pertamina, bisa dijual dengan harga US$ 20 per mmbtu.

Menurut hitungan pakar energi saudara Kurtubi, kerugian yang dialami oleh negara kita sangat besar, kurang lebih Rp. 30 triliun. Kalau kita pelajari masalah kebijakan di bidang energi, kita kadang merasa sedih, mengapa ada suatu pemerintah yang tidak berani berpihak kepada bangsanya sendiri. Kita dapat bayangkan seandainya lapangan Tangguh dikuasai oleh PT Pertamina, perusahaan kita sendiri, betapa banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh putra dan putri Indonesia.

Contoh lain, saya baru saja berbicara dengan seorang pejabat Pemda yang baru saja dipilih oleh rakyat. Ia bercerita kepada saya, bahwa hampir semua anggaran proyek dari APBD di daerahnya bocor antara 40 sampai 50 persen. Ia berkeyakinan bahwa hal ini terjadi di semua Pemda di seluruh Indonesia, bahkan di APBN kita.

Kalau rata rata setiap APBD pemerintahan kabupaten dan kota adalah Rp. 1 triliun, berarti APBD seluruh kabupaten dan kota berkisar di angka Rp. 500 triliun. Kalau kita bisa hemat dan menutup kebocoran 20 persen saja, maka kita bisa memiliki uang tunai Rp. 100 triliun. Kemudian kalau kita bisa menghemat APBN kita 20 persen saja, itu berarti kita bisa menghemat Rp. 300 triliun. Dari penghematan kebocoran saya kita bisa menghemat Rp. 400 triliun setiap tahun.

Saya juga sudah membaca laporan Bank Dunia baru mengenai laporan penerimaan pajak berbagai negara, sebagai perbandingan dari produk domestik bruto suatu negara (nilai semua jasa dan produk yang dihasilkan oleh suatu negara).

Saat ini, penerimaan pajak negara kita kurang lebih 10 persen dari PDB kita yang Rp. 1.000 triliun, atau kurang lebih Rp. 100 triliun. Sebagai perbandingan, penerimaan pajak Singapura adalah 22 persen dari PDB mereka. Thailand 16 persen dari PDB. Zambia, sebuah negara di Afrika, penerimaan pajaknya adalah 16 persen dari PDB mereka.

Bayangkan saudara-saudaraku, berarti kinerja pemerintahan kita kalah dengan kinerjanya Zambia. Seandainya kita bisa memperbaiki kinerja kita agar sama dengan Zambia, maka penerimaan kita bisa bertambah Rp. 500 triliun tanpa investasi baru. Bayangkan kalau kita bisa mengurangi kebocoran kita, kita bisa menambahkan Rp. 900 triliun setiap tahun ke APBN kita.

Artinya, setiap tahun bisa memiliki tambahan Rp. 900 triliun, uang yang dapat kita gunakan untuk menambah puluhan juta hektar lahan baru, eksplorasi minyak dan gas di bawah laut yang belum tersentuh, bangun sekolah, rumah sakit, yang baik. Kita bisa, dalam satu generasi, menghilangkan kemiskinan di Indonesia. Hakim, jaksa, PNS, bisa kita tingkatkan taraf hidupnya agar mereka tidak perlu korupsi. Angkatan bersenjata kita bisa jadi moderen dan mampu menjaga kedaulatan dan wibawa negara kita. Kita bisa membuat tidak ada seorang pun dari suku manapun yang merasa tertinggal.

Kita bisa menjadi negara besar. Kuncinya ada di pemerintahan yang bersih, pemimpin-pemimpin yang bersih. Inilah perjuangan kita.

Saya ingatkan kembali, kalau orang orang baik diam, kita akan selalu ditindas oleh bangsa lain. Kalau saudara-saudara sekalian tidak mau terlibat di politik, saudara membiarkan elit oligarki yang selalu berbohong, yang bertutur kata manis namun hatinya menipu rakyat.

Sahabatku, inilah masalah bangsa kita saat ini. Menurut saya inilah makna dari renungan kita menjelang 10 November 2012, hari pahlawan kita.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah jasad para pemuda, para pejuang, para rakyat Indonesia di seluruh nusantara hanya akan menjadi tulang tidak berarti, atau menjadi inspirasi bagi gerakan kita kedepan.

Jangan sampai, anak-anak bangsa kita tidak tahu perjuangan i Gusti Ngurah Rai, Ignasius Slamet Riyadi, Wolter Mongindisi, bung Tomo, Pak Dirman. Jangan sampai nama Diponegoro, nama Gajah Mada, nama Untung Suropati, tinggal menjadi nama jalan dan nama taman di kota kota Indonesia.

Sahabatku, marilah kita sejenak berpikir tentang hal ini. Terima kasih anda sudah terus bersama saya di halaman ini. Saya merasa sangat dihormati. Sekarang sudah mendekati 1,4 juta para sahabat saya di media ini. Semoga komunikasi kita bermanfaat bagi bangsa dan rakyat yang kita cintai.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Shalom Shanti Shanti Om. Selamat berjuang. Semoga Tuhan yang Maha Besar menyertai kita semua.

Bojong Koneng, 4 November 2012

Sahabatmu,

Prabowo Subianto

12 Responses to Surat Terbuka Jenderal Prabowo Subianto Mengenai Hari Pahlawan dan Sikap Bangsa Indonesia kepada Penjajahan Asing

  1. Ismail Yakub SURULANGUN RAWAS says:

    Jika Bapak mencalonkan diri sebagai Presiden dan Dahlan Iskan sbgai wakilnya.maka demi ALLAH itulah keinginan org sangat cerdas sesungguhnya.Saya ingin Indonesia menjadi macan Asia lagi.braJika Bapak mencalonkan diri sebagai Presiden dan Dahlan Iskan sbgai wakilnya.maka demi ALLAH itulah keinginan org sangat cerdas sesungguhnya.Saya ingin Indonesia menjadi macan Asia lagi.braJika Bapak mencalonkan diri sebagai Presiden dan Dahlan Iskan sbgai wakilnya.maka demi ALLAH itulah keinginan org sangat cerdas sesungguhnya.Saya ingin Indonesia menjadi macan Asia lagi.braJika Bapak mencalonkan diri sebagai Presiden dan Dahlan Iskan sbgai wakilnya.maka demi ALLAH itulah keinginan org sangat cerdas sesungguhnya.Saya ingin Indonesia menjadi macan Asia lagi.bravo…

  2. tgh says:

    pak prabowo mantap jg. sby lgsg copot aja kl gt

  3. anak bangsa says:

    saya akan tetap memilih pak PS president of indonesian 2014-2019 .
    pemikiran yang sangat berlian, hapus preman juga pak

  4. apan says:

    kalaw pak prabowo jadi presiden,saya cuma minta 1 aja. balaskan sakit hati kami kepada negara australi. karna australi lah biang kerok timor timur lepas..apa pun cara nya

  5. Pemimpin Besar memiliki Jiwa yang besar. Jiwa yang besar untuk rakyat Indonesia Dan Negara Indonesia. Rakyat adalah Pondasi Bangsa Dan kekuatan terbesar dalam NKRI. Biarpun kita memiliki 1000 artileri canggih, jauh lebih kuat 1000 semangat rakyat Indonesia… Saat nya Bapak Prabowo Subianto Tampil memimpin negeri ini, memimpin Dan mengobarkan semangat rakyat Indonesia untuk membangun Bangsa Ini, Kita bangsa yang kreatif, semua ssumber daya alam bisa diolah oleh rakyat dengan Cara tradisional, Tidak perlu alat super canggih,, kita punya jutaan manusia kreatif di negeri ini, kita punya Jutaan jiwa jiwa yg besar yg siap membangun Negeri. Maju terus Pak Prabowo. Pimpin Kami, jadikan NKRI sebagai bangsa yang besar..jembatani rakyat kecil untuk tampil di dunia luar..JAYA LAH SELALU NKRI…BRAVO PRABOWO SUBIAANTO

  6. Hiken No Ace says:

    Menjadi Presiden itu tidak cukup hanya bermodal jujur, alim , sekolah tinggiii sekalii ampe langit tingkat tujuh. kita harus melihat permasalahan utama bangsa INDONESIA yaitu : ‘DISINTEGRASI’ bangsa. Hal ini kurang disadari sebagian dari kita. Kurang apa HABIBIE ? ( JUJUR, ALIM, MALAIKATPUN AKUI KECERDASANNYA), namun toh timor leste lepas dari NKRI, aceh berulah, papua meronta, maluku berkicau dll. ingat sdr bangsa ini didirikan dengan DARAH pahlawan merebut kemerdekaan, bukan dari meminta belas kasihan penjajah. bagaimana jdinya bila NKRI pecah akibat salah pilih presiden ? para pahlawan akan menangis di alam kubur, dan kita sebagai penerus yg bertanggung jawab atas kesalahan kita. so i think ” KEDAULATAN NKRI DOLO DIJAGA BARU KEMUDIAN BISA DIISI DGN PEMBANGUNAN DI SEGALA BIDANG “. lebih baik pilih presiden yg tegas, keras , yang memilki nasionalisme tinggi dan cinta pertiwi misalnya sprti TNI. saya sendiri sampai saat ini GOLPUT jadi saaya tidak punya motif atau membela capres lain. namun itu semua paparan jujur dari hati. Tapi nanti PILPRES 2014 ane gk golput . -SALAM SATU NYALI : WANI-😀

  7. Indra Ganie says:

    Please, ikutan menumpang curhat. Semoga bermanfaat. Aamiin.

    Indonesia Di antara Pertarungan Pengaruh Asing

    Oleh : Indra Ganie

    Selasa, 21 Juni 2011

    • Mengenang 5 abad (1511-2011) awal penjajahan di Nusantara
    • Mengenang 110 tahun (1901-2011) lahir Soekarno
    • Mengenang 65 tahun (1946-2011) gugur pamanku R Supardan di Front Karawang-Bekasi

    Sejak awal Masehi – atau mungkin lebih tua dari itu – wilayah yang kini disebut “NKRI” (Negara Kesatuan Republik Indonesia), bahkan Asia Tenggara telah menjadi wilayah saling silang dan saling padu pengaruh asing semisal Cina, India, Arab, Persia dan Eropa. Hingga abad-16 hal tersebut berlangsung relatif damai, semua untung. Boleh dibilang tidak ada apa yang disebut dengan “penjajahan”.

    Suasana damai tersebut berubah pada abad-16, ketika sejumlah bangsa-bangsa Eropa/Barat hadir ke Asia Tenggara – termasuk ke Kepulauan Indonesia. Mereka hadir dengan perilaku yang berbeda dengan bangsa-bangsa sebelumnya, yaitu memaksakan kehendaknya kepada fihak lain sehingga berkobar konflik yang berdarah-darah. Selain bersaing dengan bangsa Asia, mereka juga bersaing sengit dengan sesamanya – juga hingga berdarah-darah. Khusus di Indonesia – waktu itu dikenal dengan “Nederlandsch Indiche”, masuk abad-20 bangsa Eropa yaitu Belanda memastikan diri sebagai pemenang persaingan dan menjadi penguasa/penjajah. Dengan pengecualian di Kalimantan harus berbagi dengan Inggris, di Timor harus berbagi dengan Portugis dan di Papua harus berbagi dengan Jerman dan Australia.

    Perang Dunia-2 (1939-45) berakibat sejumlah bangsa-bangsa di Asia Tenggara meraih kemerdekaan, ada yang melalui transisi namun ada yang melalui revolusi semisal Indonesia.

    Kemerdekaan yang diraih tersebut ternyata tidak dapat mengembalikan suasana saling silang dan saling padu pengaruh asing untuk berlangsung dengan damai. Sejumlah negara-negara di Asia Tenggara sempat terlibat konflik – yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan di luar wilayah tersebut., mengingat wilayah tersebut bernilai sangat strategis sejak lama. Selat Malaka misalnya, sejak awal Masehi telah menjadi jalur laut penting dan masih demikian walaupun sudah ada pesawat terbang/perhubungan udara. Dengan demikian Asia Tenggara – khususnya Indonesia – masih merupakan wilayah menggiurkan : wilayah luas, letak strategis, alam kaya dan penduduk (umumnya) masih terbelakang. Terlalu berharga diabaikan begitu saja. Akibatnya, kemerdekaan yang diraih ternyata tidak membuat fihak asing berhenti mencari peluang menanamkan pengaruhnya. Supaya negara/bangsa di wilayah Asia Tenggara tetap merasa dekat – kalau perlu terikat/tergantung. Dengan kata lain, penjajahan pada hakikatnya belum mati, ia hanya berganti yaitu cara dan rupa. Penjajahan bukanlah suatu barang antik yang layak masuk museum, ia sukses menembus ruang dan waktu selama dunia masih ada. Bahkan pada zaman kita ini pun penjajahan model zaman batu yaitu pendudukan militer asing di suatu negeri ternyata masih ada semisal Palestina, “Iraq dan Afghanistan. Padahal ketiga negeri tersebut kurang menggiurkan dibanding Asia Tenggara.

    Perlu diketahui bahwa penjajahan mencakup 3 hal, dan penjajah berusaha memenuhi keinginannya minimal 1 hal. Adapun 3 hal tersebut adalah :

    1. Ekploitasi dibidang ekonomi, inilah motif paling dasar penjajahan. Penjajah berusaha meraih negeri yang sekaya mungkin sumber alamnya untuk mengeruknya dengan memberi pribumi sesedikit mungkin.
    2. Dominasi dibidang politik, kekuasaan politik sedapat mungkin dipegang oleh penjajah. Suatu negeri diatur menurut kepentingannya dan pribumi menjadi golongan yang diperintah.
    3. Penetrasi dibidang nilai/norma, penjajah sedapat mungkin memasukkan nilai/norma yang mereka anut ke dalam tata hidup pribumi. Nilai/norma tersebut dapat berupa agama atau budaya supaya terdapat kesamaan antara penjajah dengan yang dijajah. Hal tersebut membuat penjajah makin mudah mengatur tanah/warga jajahannya.

    Dalam konteks Indonesia pasca Perang Dunia-2 dan perang kemerdekaan/Revolusi 1945 (1945-50), sejumlah kekuatan asing berangsur-angsur kembali menanamkan pengaruh. Hal tersebut begitu tertolong karena ada saja sejumlah anak bangsa yang bersedia menjadi antek, umumnya mereka sudah bermental korup. Demi memperkaya diri, mereka tidak segan-segan menjadi alat fihak asing menggadaikan bangsa dan negaranya dengan sejumlah imbalan. Buat para antek, mereka cenderung tidak peduli apakah sumber daya alamnya dikuasai (dan tentu dikuras) fihak asing. Yang penting dapat bagian.

    Yang memprihatinkan, para antek tersebar di segala level – bahkan ada yang menjadi elit di pemerintahan. Jabatan yang mereka sandang serta gaji dari uang rakyat melalui pajak, yang mestinya digunakan untuk mengabdi “habis-habisan” untuk rakyat ternyata diselewengkan untuk tujuan yang berlawanan dengan itu. Melalui mereka, entah sudah berapa banyak sumber daya alam negeri ini yang sudah dikuasai/dikeruk fihak asing. Entah sudah berapa % saham aset nasional yang sudah bukan milik bangsa ini lagi. Indonesia mengalami model penjajahan yang jauh-jauh hari sudah diperingatkan oleh Bung Karno dengan istilah “nekolim” (neo imperialisme/kolonialisme). Tidak perlu ada pendudukan militer asing di Indonesia, negeri ini telah “menyediakan” sejumlah anak bangsa yang menjadi antek yang siap melaksanakan agenda asing.

    Selain eksploitasi dibidang ekonomi (yang samar-samar juga disebabkan oleh dominasi dibidang politik yaitu para antek yang menjadi elit), Indonesia juga tanpa terasa juga disusupi oleh berbagai nilai/norma asing : dari yang paling liberal (liberalisme) hingga yang paling radikal/fundamental (radikalisme/fundamentalisme). Setiap kepentingan asing ada anteknya. Negeri ini menjadi lahan pertarungan sengit sejumlah kekuatan asing tanpa kita sadari. Kita jalani hidup sehari-hari semisal pergi ke sekolah, ke kantor, ke pasar atau ke tempat wisata seakan-akan tidak terjadi hal-hal yang krusial di negeri ini.

    Pertanyaan yang mungkin muncul, siapakah fihak asing yang turut “bermain” di negeri ini? Siapa yang bertekad meraih minimal sepotong atau secuil pengaruh di negeri ini? Penulis menilai banyak, mungkin sulit dihitung atau dideteksi. Karena itu penulis coba batasi menyebut “para pemain” pada 4 fihak saja, dengan pertimbangan mereka relatif besar berpengaruh di negeri ini.

    1. Barat, sudah penulis sebut mereka yang pertama mengenalkan penjajahan pada abad-16. Dimulai sejak penaklukan Kesultanan Malaka oleh Portugis, bangsa Potugis adalah bangsa Barat pertama hadir bukan hanya sebagai pedagang, pelaut atau perantau namun juga sebagai penjajah. Kehadiran Portugis kemudian diikuti bangsa-bangsa Barat lain dengan tujuan serupa semisal Spanyol, Inggris, Belanda dan Perancis. Kehadiran mereka mengundang perlawanan dari pribumi dan juga bangsa-bangsa Asia lainnya. Bangsa-bangsa Asia kelak terpancing untuk berbuat serupa. Perang Dunia-2 yang berakibat harus melepas wilayah jajahan termasuk Indonesia tidak membuat mereka “kapok” untuk hadir kembali (tetap sebagai penjajah) dalam bentuk lain yang sesamar mungkin. Di atas telah disebut peran para antek yang membuat mereka masih punya pengaruh di Indonesia, antara lain faham liberalisme dengan berbagai dalil (atau dalih?) hak azazi manusia dan demokrasi.
    2. Jepang, bangsa Asia yang mungkin pertama paling sukses merebut pengaruh dengan cara gerakan militer. Jepang merasa sesak menyaksikan sekitar 80% planit ini dikuasai Barat dengan berbagai istilah : koloni, protektorat atau mandat. Muncul ide bahwa “Asia untuk orang Asia” – yang dapat (dan memang) diartikan bahwa penjajahan di Asia hanya boleh dilakukan oleh orang Asia, dan bangsa Asia yang paling canggih adalah Jepang. Pada awal Perang Pasifik (1941-5) banyak wilayah jajahan Barat di Asia-Pasifik sempat direbut oleh pasukan Jepang. Setelah melalui perang yang dahsyat kekuatan Barat – dengan istilah “Sekutu” – dapat memaksa Jepang menyerah, namun warisan pendudukan Jepang yaitu semangat anti imperialisme Barat memaksa mereka melepas wilayah jajahannya. Dan Jepang sendiri sanggup bangkit dari puing-puing Perang Dunia-2 dan menjadi raksasa ekonomi selama beberapa dekade. Larangan mengembangkan kekuatan militer oleh Sekutu mengalihkan seluruh energi bangsa untuk menjadi kekuatan ekonomi – yang sempat mengalahkan para pemenang perang dunia. Produk-produk Jepang membanjiri seantero dunia. Dan mimpi lamanya yaitu “Kawasan Sekemakmuran Asia Timur Raya” yang gagal dicapai dengan penaklukan militer agaknya tercapai melalui ekonomi. Indonesia kembali menjadi wilayah penyedia bahan baku sekaligus pasar bagi produk Jepang. Kesepakatan kedua negera yang tertuang dalam “IJEPA” (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) 2007 dinilai sejumlah anak bangsa adalah “penjajahan Jepang jilid-2”, antara lain karena dalam kesepakatan tersebut Indonesia menjamin ketersediaan pasokan energi Jepang dengan LNG. Yang berarti dapat mengancam ketahanan atau kedaulatan energi dalam negeri. Selain itu sejumlah warisan buruk penjajahan Jepang saat Perang Dunia-2 dinilai sejumlah anak bangsa belum tuntas. Perjanjian pampasan perang yang mengawali hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada 1958 hanya mencakup kerusakan materi dan belum mencakup penderitaan lahir batin rakyat Indonesia.
    3. Cina, setelah susah payah bangkit dari Perang Dunia-2 dan revolusi yang berbentuk perang saudara yang lama dan kejam, akhirnya terhitung menjadi kekuatan raksasa. Kebangkitan ekonominya berdampak pada kebangkitan militernya. Selain terlibat sengketa dengan Taiwan (Republik Cina) – yang dinilai sebagai provinsi pemberontak, juga terlibat sengketa dengan Jepang, Brunei, Vietnam, Filipina dan Malaysia terkait dengan klaim batas wilayah. Kesepakatan dalam bidang ekonomi yang berwujud perdagangan bebas dengan perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara – lazim disebut “ASEAN” – dengan nama “ACFTA” (Asean-China Free Trade Agreement), ternyata berdampak besar bagi Indonesia. Banjir barang produk Cina bagai tsunami membuat para produsen negeri ini meratap dan tiarap, produk dalam negeri ternyata kalah bersaing dengan produk Cina. Hal tersebut berdampak pada kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja. Cina seakan siap menjadi kompetitor Jepang dalam hal ini. Dengan kata lain, Cina mendapat peluang berpengaruh di negeri ini dibidang ekonomi. “Ekspor” faham komunis dan manuver militer agaknya (masih) “jauh panggang dari api”. Indonesia tidak berbatasan langsung dengan Cina dan faham komunis masih dinyatakan terlarang di Indonesia.
    4. Arab, agaknya ini kurang diperhatikan padahal usaha meraih pengaruh di negeri ini untuk atau dengan cara bertarung dengan fihak asing lain relatif sudah lama. Sejauh yang penulis tahu, pada akhir abad-18 atau awal abad-19 masuk faham pemurnian agama Islam yang disebut dengan “Muwwahid” namun kelak lebih dikenal dengan “Wahhabi”, nama yang dikaitkan dengan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Di Sumatera – tepatnya Minangkabau – sempat muncul revolusi yang awalnya melawan para tokoh adat lokal kemudian melawan penjajah, yang disebut dengan “Perang Paderi”(1821-37). Walau gerakan Paderi dapat ditumpas namun fahamnya tetap hidup hingga kini.

    Ada lagi masalah, sebagai akibat cara-cara indoktrinasi ala Orde Baru melestarikan nilai-nilai kebangsaan atau menjadi penafsir tunggal terhadap Pancasila, rakyat trauma dengan segala simbol atau identitas bangsa semisal Pancasila, lagu “Indonesia Raya” – atau pelajaran sejarah bangsa yang disesuaikan dengan penguasa dengan maksud melegitimasi kekuasaan. Pemerintahlah yang menetapkan “siapa yang pahlawan” dan “siapa yang pengkhianat atau musuh bangsa/negara” dalam pelajaran sejarah.Akibatnya ketika rezim Orde Baru tumbang, pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” dan “Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa” dihapus dan dimasukkan ke dalam “Pendidikan Kewarganegaraan”. Inilah yang kelak dinilai sejumlah kalangan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme dianggap sebagai akibat dari lunturnya rasa identitas bangsa.

    1. Bangsa ini perlu memperkuat rasa identitasnya sebagai bangsa dengan cara menyajikan kembali pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian bangsa ini tahu asal muasal atau proses terbentuknya bangsa dan negara ini. Metoda hafalan (nama orang, nama tempat, nama peristiwa dan tanggal peristiwa) harus diganti dengan metoda renungan atau analisa peristiwa yang dapat ditemukan relevansinya dengan zaman kini. Jadi, terasa ada kesinambungan antara masa lalu dengan masa kini.
    2. Jika pelajaran Pancasila harus disajikan kembali, metodanya juga diubah. Jangan pakai metoda hafalan atau indoktrinasi, tapi pakai juga renungan atau analisa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
    3. Segala dinamika yang terjadi pada masyarakat segera disimak dan dicari solusinya, jangan terkesan ada pembiaran oleh pemerintah atau menjadi komoditas politik. Hal tersebut perlu untuk memperkecil peluang fihak asing masuk dan bermain di negeri ini sesuai dengan agenda mereka.
    4. Kurangi ketergantungan dengan fihak asing, Indonesia memiliki banyak hal yang tak dimiliki sejumlah fihak luar : alam kaya, wilayah luas dan letak strategis sungguh dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat jika dikelola dengan tepat. Kriterianya adalah selalu mengutamakan kepentingan nasional, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
    5. Bangsa ini perlu suatu standar penyaring yang dapat mencegah faham-faham yang merugikan kepentingan nasional masuk ke negeri ini. Dengan demikian segala faham luar dapat memperkaya dan bukan memperdaya bangsa, atau keragaman di dalam adalah kekayaan dan bukan kerawanan bangsa.

    Usulan yang disajikan penulis masih dapat dibahas dan bukan satu-satunya kebenaran mutlak, artinya masih terbuka untuk penyempurnaan.

  8. Herdiansyah says:

    Sudah lama aku nantikan pemimpin yang terbebas dari pengaruh Ratu Adil,,, Pemimpin yang akan memimpin secara Raja Adil tidak terpengaruh hasutan luar maupun dalam, pemimpin yang mengambil keputusan dengan tegas, berani, dan tidak dzolim. Besar harapan saya terhadap Pak Prabowo Subianto, semoga keadilan dan kebenaran berpihak kepada kita semua.

  9. Lalu MS says:

    Mantab…sampai merinding…

  10. boykolot says:

    jika Indonesia ingin maju yang tampil harus pemimpin yang cerdas, berani, nasionalis sejati dan bukan antek asing!

  11. boykolot says:

    Reblogged this on boykolot and commented:
    berani karena benar lawan neokolonialis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: