KANG SEJO MELIHAT TUHAN

Kolom Mohammad Sobary, TEMPO, 12/1/1991.

 
pengemis-buta - CopyBukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

“Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?” kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut “raja.” Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, “Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”

Ini tentu berkat ke-“raja”-annya. Lumrah. Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu.

“Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang, “Zikir Duh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satu tapi jelas di tangan.

“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?” tanya saya.

“Tidak saya hitung.”

“Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya

“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”

“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.

“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?”

“Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,” katanya.

“Ayat menyebutkan itu, Kang.”

“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?”

“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”

“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernah tidur …” Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.

“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram”? tanya saya.

“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”

“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?”

“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus.

7 Responses to KANG SEJO MELIHAT TUHAN

  1. abdulcholiq says:

    Artikel yang baik menyentuh bagi para dai, imam yang doanya panjang dengan bahasa yang tidak dimengerti para jama’ahnya semoga bermanfaat

  2. ceritasufi says:

    indah di rasa selalunya indah di mata…semoga ketemu dengan manusia seperti ini….

  3. itu cerita orang soleh jaman sebelum Kanjeng Nabi Muhammad, tapi untuk ummat Kanjeng Nabi Muhammad harus kaffah spt yg di ajarkan beliau itu …

  4. Mr.Good says:

    tidak batin saja, tapi lahiriah juga, suro, siro, dan sariro,jadi kaffah,lengkap, komplit ….

  5. Kur says:

    Assalamu’alaikum, kpada saudara yg memposting artikel ini kalau bsa judul dari artikelnya diganti aja mas “orang yg merasa dekat dengan TUHAN” misalnya, ngk sembarangan manusia bisa melihat TUHAN mas nabi musa aja ngk sanggup, trus adalagi mas knpa muslim seperti yg mas gambarkan setiap ceramah mesti pakai ayat & hadist bisa aja biar semua yg disampaikan ada dalil dan hukumnya, semua hukum islamkan berdasarkan qur’an & hadist. 1 lg mas kenapa islam harus berbau arab jadi harus kebarat2n? al-qur’an turun diarab bkn di barat mas. Kenapa pula harus berjenggot apa saudara lupa kalau rasul jga ada jenggotnya? Itu sunah rasul mas

  6. Widodo Darto Wiyono says:

    he he he…
    tidak sesederhana itu..hal2 seperti yg dilakukan kang Sejo itu samasekali tidak dilarang sepanjang empan papan..tidak nabrak angger2 (baca : syara’..syari’at) jika dia berikrar sebagai seorang muslim..

    laa ikroha fiddiiin…tidak ada paksaan dlm beragama ..tapi ketika kang Sujo memutuskan memilih suatu agama (Islam) tentu agama itulah yg ‘memaksa’ kang Sujo utk mentaati aturan agama yg dipilihnya sendiri. adil bukan?

    bahkan ketika kita sering dapati tidak sedikit para imam masjid yg kontes panjang2an baca surat ..sementara dia lupa bagaimana seharusnya menjadi imam yg bijak..itupun jauh lebih baik daripada sholat dengan bersiul atau sholat dengan dubbing (baca : alih bahasa) .. sekalipun bisa jadi sang imam atau para makmun tidak semuanya memahami sepenuhnya arti kalimat demi kalimat yg dibaca/didengarnya..bukan berarti sang imam diperbolehkan mengganti bacaan2 sholatnya dengan alih bahasa dengan ‘niat baik’ agar makmunya memahami betul apa yg dibaca sang imam…bukan pula serta makmum juga boleh usul kepada imam agar bacaan imam dialih-bahasakan dengan ‘niat baik’ agar apa yang dibaca ketika mendirikan sholat tsb dapat dipahami dengan baik kalimat-demi kalimatnya..toh Gusti Allah tidak sare kan?

  7. abdul halim says:

    Ora Bisa Mas Klau Ngmamin Pake Bhasa Selain Alquran,walau Pun Biar Mamum Ngerti,,,,tar Di Sangka Kristen Tiap Negara Pake Bhasa Negara Itu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: