Apakah Kristen Mengakui Pluralisme Agama??

*
ChrislamBelakangan ini semarak isu pluralisme agama sebagai sebuah upaya menyamakan agama-agama. Pluralisme agama menyatakan “semua itu baik dan benar.” Dalam masyarakat Muslim, “agama baru” ini laris di kalangan Islam liberal, Islam moderat atau Islam inklusif dan di kalangan Kristen yang memiliki pandangan sama dengan kelompok Muslim tersebut. Tujuannya untuk membangun toleransi agama-agama yang selama ini banyak terluka. Dengan pluralisme agama, Islam pluralis berharap mendapat simpati yang luas dari Kristen dan non-Muslim lainnya. Apakah Kristen menerima ide pluralisme agama? Inilah yang menarik. Tulisan dibawah ini adalah jawabannya. Selamat membaca!!

___________________

PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF KRISTEN

Oleh BEDJO, S.E, M.DIV

Definisi Pluralisme Agama
Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori. Pertama, kategori sosial. Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia, dll. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Secara sederhana berarti ”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju pada Allah, hanya jalannya yang berbeda-beda. Selanjutnya, dalam tulisan ini, setiap kali kita menyebut pluralisme agama, yang dimaksudkan adalah pluralisme agama dalam kategori teologi-filosofi ini.

Faktor-faktor Pendorong Pluralisme Agama
Fundamentalisme agama disertai dengan manifestasinya yang salah adalah racun berbahaya yang sedang berkembang luas (ingat peristiwa 11/9). Walaupun demikian, saat ini pluralisme agama sebagai ”lawannya” juga menjelma menjadi virus yang cepat menular. Pluralisme agama kenyataannya makin populer di kalangan orang-orang yang beragama maupun tidak beragama, berpendidikan tinggi maupun rendah, teolog maupun kaum awam. Di kalangan Muslim, walaupun MUI sudah menyatakan pluralisme agama sebagai ajaran yang haram untuk dianut, tetapi perkembangannya tampaknya terus melaju. Ada banyak faktor yang mendorong orang untuk mengadopsi pluralisme agama. Beberapa faktor yang signifikan adalah:

1. Iklim demokrasi
Dalam iklim demokrasi, kata toleransi memegang peranan penting. Sejak kecil di negara ini kita diajar untuk saling menghormati kemajemukan suku, bahasa dan agama. Berbeda-beda tetapi satu jua. Begitulah motto yang mendorong banyak orang untuk berpikir bahwa semua perbedaan yang ada pada dasarnya bersifat tidak hakiki. Beranjak dari sini, kemudian toleransi terhadap keberadaan penganut agama lain dan agama-agama lain mulai berkembang menjadi penyamarataan semua agama. Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan? Jadi, tidak masalah Anda menganut yang mana!

2. Pragmatisme
Dalam konteks Indonesia maupun dunia yang penuh dengan konflik horisontal antar pemeluk agama, keharmonisan merupakan tema yang digemakan dimana-mana. Aksi-aksi ”fanatik” dari pemeluk agama yang bersifat destruktif dan tidak berguna bagi nilai-nilai kemanusiaan membuat banyak orang menjadi muak. Dalam konteks ini, pragmatisme bertumbuh subur. Banyak orang mulai tertarik pada ide bahwa menganut pluralisme agama (menjadi pluralis) akan lebih baik daripada seorang penganut agama tertentu yang ”fanatik”. Akhirnya, orang-orang ini terdorong untuk meyakini bahwa keharmonisan dan kerukunan lebih mungkin dicapai dengan mempercayai pluralisme agama daripada percaya bahwa hanya agama tertentu yang benar. Yang terakhir ini tentu berbahaya bagi keharmonisan masyarakat. Begitulah pola pikir kaum pragmatis.

3. Relativisme
Kebenaran itu relatif, tergantung siapa yang melihatnya. Ini adalah pandangan yang populer, sehingga seorang tukang sapu pun memahaminya. Dalam era postmodern ini penganut relativisme percaya bahwa agama-agama yang ada juga bersifat relatif. Masing-masing agama benar menurut penganutnya-komunitasnya. Kita tidak berhak menghakimi iman orang lain. Akhirnya, kita selayaknya berkata ”agamamu benar menurutmu, agamaku benar menurutku. Kita sama-sama benar”. Relativisme agama seolah-olah ingin membawa prinsip win-win solution ke dalam area kebenaran.

4. Perenialisme
Mengutip Komarudin Hidayat, filsafat perennial adalah kepercayaan bahwa Kebenaran Mutlak (The Truth) hanyalah satu, tidak terbagi, tetapi dari Yang Satu ini memancar berbagai “kebenaran” (truths). Sederhananya, Allah itu satu, tetapi masing-masing agama meresponinya dan membahasakannya secara berbeda-beda, maka muncullah banyak agama. Hakekat dari semua agama adalah sama, hanya tampilan luarnya yang berbeda.

Sebuah Model: Pluralisme Agama Versi John Hick
Untuk mengetahui lebih jelas tentang pluralisme agama, kita akan melihat pandangan John Hick sebagai tokoh pluralis yang tulisannya sering dikutip baik oleh orang Kristen maupun pemeluk agama lain. Berikut ini adalah rangkuman pandangan John Hick:
• Semua agama adalah respon terhadap keberadaan tertinggi yg bersifat transenden (Allah-yang disebut The Real).
• “The Real” itu melampaui konsep manusia sehingga semua agama tidak sempurna dalam relasinya terhadap “The Real” tersebut.
• Oleh karena itu, tentang agama-agama John Hick berkata, “agama-agama tidak mungkin semuanya benar secara penuh; mungkin tidak ada yang benar secara penuh; mungkin semua adalah benar secara sebagian”
• John Hick membedakan “The Real” sebagai realitas ultimat dan “The Real” yang ditangkap dan dipersepsikan oleh agama-agama sebagai Personae (berpribadi): Allah, Yahweh, Krisna, Syiwa atau Impersonae (tidak berpribadi): Tao, Nirguna Brahman, Nirwana, Dharmakaya
• Dalam konsep Hick, Personae dan Impersonae adalah penafsiran terhadap The Real. The Real itu tidak dapat disebut personal atau impersonal, memiliki tujuan atau tidak memiliki tujuan, baik atau jahat, substansi atau proses, bahkan satu atau banyak. The Real itu melampaui semua kategori manusiawi seperti itu.
• Keselamatan adalah proses perubahan manusia dari berpusat pada diri sendiri (self-centered) menjadi berpusat pada Realitas tertinggi (Real-centered)
• Kriteria untuk mengetahui apakah seseorang sudah diselamatkan atau tidak adalah kehidupan moral dan spiritualnya yang mencerminkan kekudusan. Diantara kualitas-kualitas itu adalah: belas kasihan, kasih kepada semua manusia, kemurnian, kemurahan hati, kedamaian batin dan ketenangan, sukacita yang memancar.

Pluralisme Agama: Sebuah Tinjauan Kritis
Pluralisme agama memang ”simpatik” karena ingin membangun teologi yang terdengar amat toleran, ”semua agama sama-sama benar. Semua agama menyelamatkan”. Walaupun demikian teologi pluralisme agama pada dasarnya menyangkali iman Kristen sejati yang kembali pada Alkitab. Kita akan memberikan beberapa kritik terhadap pluralisme agama ini.

1. Pluralisme agama merupakan pendangkalan iman
Orang yang percaya pada teologi pluralisme agama biasanya tidak benar-benar mendasarkan pandangannya atas dasar kitab suci agama yang dianutnya atau tidak benar-benar berteologi berdasarkan sumber utama (kitab suci). Jika kita benar-benar jujur membaca kitab suci agama-agama maka kita menemukan klaim-klaim eksklusif yang memang tidak bersifat saling melengkapi tetapi saling bertentangan. Sebagai contoh: Buddhisme tidak percaya pada kehidupan kekal (surga) sebagai tempat bersama Allah. Buddhisme percaya pada Nirwana dan Reinkarnasi. Nirwana adalah Keadaan Damai yang membahagiakan, yang merupakan kepadaman segala perpaduan yang bersyarat (Dhammapada bab XXV). Bagi Budhisme, tidak ada neraka dalam definisi ”tempat dan kondisi dimana Allah menghukum manusia”. Yang ada adalah reinkarnasi bagi mereka yang belum mampu memadamkan keinginan-keinginan duniawinya. Hal ini tentu bertentangan dengan konsep Kristen yang percaya surga dan neraka. Bahkan jika kita berkata bahwa Islam juga mempercayai surga dan neraka, tetap terdapat perbedaan konsep (Lih.Q.S.6:128; 78:31-34). Disini kita melihat bahwa pluralisme adalah konsep yang mereduksi keunikan pandangan agama masing-masing.

2. Pluralisme agama memiliki dasar yang lemah
Pragmatisme yang mendasari pluralisme agama adalah sebuah cara berpikir yang tidak tepat. Demi keharmonisan maka mengganggap semua agama benar adalah mentalitas orang yang dangkal dan penakut. Selanjutnya, relativisme kebenaran adalah sebuah pandangan yang salah. Penganut relativisme agama tampaknya sering tidak bisa membedakan antara relativisme dalam hal selera (enak/tidak enak, cantik/tidak cantik), opini (UK Petra akan semakin maju/mundur) dan sudut pandang (ekonomi, sosiologi) dengan kemutlakan kebenaran. Kebenaran itu mutlak, sedangkan selera, opini dan sudut pandang memang relatif.

3. Penganut pluralisme Agama seringkali tidak konsisten
Penganut pluralisme agama sering menuduh golongan yang percaya bahwa hanya agamanyalah yang benar (sering disebut eksklusivisme atau partikularisme dalam teologi Kristen) sebagai fanatik, fundamentalis dan memutlakkan agamanya. Padahal dengan menuduh demikian, kaum pluralis telah menyangkali pandangannya sendiri bahwa tiap orang boleh meyakini agamanya masing-masing secara bebas. Jika seorang pluralis anti terhadap kaum eksklusivis maka ia bukanlah pluralis yang konsisten. Dalam realita, kita menemukan banyak pluralis yang seperti itu dan memutlakkan pandangan bahwa ”semua agama benar”. Kaum pluralis seringkali terjebak dalam eksklusivisme baru yang mereka buat yaitu hanya mau menghargai kaum pluralis lainnya dan kurang menghargai kaum eksklusivis.

4. Pluralisme agama menghasilkan toleransi yang semu
Jika kita membangun toleransi atas dasar kepercayaan bahwa semua agama sama-sama benar, hal itu adalah toleransi yang semu. Toleransi yang sejati justru muncul sebagaimana dikatakan Frans Magnis Suseno, ”meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya, saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya gembira bahwa Anda ada, saya bersedia belajar dari Anda, saya bersedia bekerja sama dengan Anda.”

5. Kritik terhadap pluralisme agama John Hick
Jika ”The Real” atau Allah-nya Hick memang melampau konsep yang baik atau yang jahat, mengapa Hick justru menggunakan kriteria ”kekudusan” untuk mengetahui seseorang itu sudah diselamatkan atau tidak diselamatkan? Ini adalah sebuah kriteria yang bisa kita pertanyakan keabsahannya. Selanjutnya, bagi Hick, keselamatan adalah transformasi moral akibat perubahan pusat kehidupannya dari diri sendiri kepada ”The Real” (Allah, Brahman, Tao). Hal ini mencerminkan teologi yang tidak berdasarkan Alkitab, walaupun Hick sendiri mengaku Kristen. Teologi alkitabiah menunjukkan bahwa keselamatan bukan hasil perilaku etika atau moralitas tertentu tetapi kebenaran Allah di dalam karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib yang kita terima secara cuma-cuma melalui iman (Roma 3:28-30; 10: 9-10; Mat. 26:28). Keselamatan dalam konsep Kristen juga berbeda dengan keselamatan dalam Islam karena Al Qur’an menyatakan bahwa keselamatan adalah hasil sinergi antara iman dan amal manusia (Q.S.Al Baqarah 25).

Kesimpulan
Pluralisme agama dalam pengetian teologi-filosofi memiliki banyak kelemahan dalam logika dan konsistensi teologi. Selain itu berdasarkan epistemologi Alkitab, kita harus menolak pandangan ”semua agama menuju pada Allah dan semua agama menyelamatkan”. Orang Kristen perlu berani mengakui perkataan Yesus “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Sikap demikian bukanlah fanatik tetapi konsisten. Fanatik adalah mempercayai sesuatu atau seseorang tanpa bersikap kritis terhadapnya. Seseorang yang belum pernah belajar semua agama tetapi terburu-buru mengatakan semua agama pada dasarnya sama justru adalah orang yang fanatik terhadap pluralisme agama. Akhirnya, tentu saja kita perlu menerima pluralisme agama secara sosial, tetapi pluralisme agama dalam kategori teologi-filosofi harus kita tolak dengan tegas.

DAFTAR PUSTAKA TERPILIH
Geisler, Norman L. Baker Encyclopedia of Christian Apologetics. Grand Rapids: Baker, 1999.
Hick, John. “Ketidakmutlakan Agama Kristen” dalam Mitos Keunikan Agama Kristen, Eds. John Hick dan Paul F. Knitter. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
Corduan, Winfried. A Tapestry of Faiths: The Common Threads Between Christianity and World Religions. Illinois: IVP, 2002.
Eds. Okholm, Dennis L. dan Philips, Timothy R. Four Views on Salvations in a Pluralistic World. Grand Rapids: Zondervan, 1995.
Netland, Harold. Encountering Religious Pluralism: The Challenge to Christian Faith and Mission. Illinois: IVP, 2001.
Lumintang, Stevri L. Teologia Abu-Abu Pluralisme Agama. Malang: Gandum Mas, 2004.
Sen Chang, Lit. Asia’s Religions: Christianty’s Momentous Encounter With Paganism. New Jersey: P&R, 1999.
Suseno, Frans Magnis S.J. Menjadi Saksi Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk. Jakarta: Obor, 2004.
Carson D. A. The Gagging of God: Christianity Confronts Pluralism. Grand Rapids: Zondervan, 1996.

__________________
Tulisan ini disampaikan dalam seminar bagi guru-guru Pendidikan Agama Kristen Se-Surabaya di GKI Darmo Satelit, Surabaya pada tanggal 24 Februari 2007. Penulis adalah hamba Tuhan yang melayani sebagai dosen mata kuliah etika dan filsafat agama di Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) serta Kepala Pusat Kerohanian (Campus Ministry) di Universitas Kristen Petra, Surabaya.

5 Responses to Apakah Kristen Mengakui Pluralisme Agama??

  1. dadan daniswara says:

    semua agama baik, tapi kebenaran hanya yang kita yakini.

  2. sisri says:

    hindari perdebatan agama, kejar kedamaian hidup dan masuk surga…….

  3. Widodo Darto Wiyono says:

    lakum dinukum waliyadiiin…

  4. Kenapa sebagian besar muslim/ah mendasarkan suka/tidak suka sesama,
    cinta/benci, pro/kontra semata-mata hanya karena SAMA/BEDA AGAMA ?
    Apakah inilah hakekat daqwah/syiar islam yang sebenarnya ? YAITU harus meng-islam-kan sesama, baru muslim/ah bisa bersikap tulus,
    minus curiga berlebih (kata Gus Dur: ketakutan pada diri sendiri)
    BUKTInya, jarang bantu sesama non islam, ulama pun jarang menghimbau ! sampai2 hadist nabi yang mengimbau mencintai anak yatim
    diMAKNAi /ditindak lanjuti oleh muslim/ah dgn mencintai KHUSUS dan HANYA TERVATAS pada yatim muslim saja (kecuali mau muallaf) ?
    Beda dgn agama lain yg selama ini bantu korban bencana, orang miskin/susah, misalnya lewat KURBAN 2 Milyar extra joss, mudik gratis,
    mau beri kesempatan lewat ajang pencarian bakat misalnya, biarpun BEDA AGAMA. Gak seperti rhoma irama yg nikmati sendiri trilyunan
    royalti lagu2 ciptaannya TAPI ga pernah kasih kesempatan, malah nimbrung nambah royalti lewat ajang pencarian bakat yg
    diadain non muslim.

  5. nindot says:

    susah kalo tau beda agama di larang itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: