Mencari Keseimbangan Hidup

 

???????????????????????????????????????????????

Seorang laki-laki dewasa, agak kurus, berbuat kurang ajar pada seorang orang tua berbadan besar ditempat ramai. Ia memukul kepala orang tua itu tanpa sebab (Sunda: ngadegungkeun). Orang tua itu sontak marah, Ia merasa terhina di depan banyak orang. Sambil marah ia bertanya: “Apa-apaan kamu? Kurang ajar sama orang tua?” Merasa dihina, ia marah habis-habisan. Kata-kata kasarnya keluar dan membalas memukul kepalanya lagi bahkan menantangnya berkelahi. “Anak kurang ajar!” Ketika sedang marah-marah dengan suara keras, anaknya datang. Setelah tahu, anaknya itu pun memarahinya juga, dengan kata-kata lebih kasar lagi merasa orang tuanya dihina. Ia menempelengnya dengan keras” “Plaaak …!” Anehnya, pemuda itu diam saja, tak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam, menangis matanya basah dan menyadari perbuatannya dan meminta maaf. Tapi, rupanya maaf tak cukup, balasan hinaan dan pukulan dia terima. Setelah memohon-mohon maaf dengan sangat dan cukup lama, redalah marah orang tua itu. Ia memaafkan tapi ia mengingatkan agar jangan berbuat kurang ajar lagi pada orang lain. Orang tua dan anaknya itu pun pergi.

Seseorang memperhatikan peristiwa itu disekitarnya. Setelah drama itu selesai, orang itu penasaran. Ia mendekati dan bertanya kepada pemuda itu, kenapa melakukan itu dan kenapa waktu dimarahi dan dihina habis-habisan diam saha. Mereka ngobrol berdua. Berceritalah pemuda itu,

Rupanya ia seorang ustadz yang sangat dicintai jemaahnya, setiap ceramahnya menyentuh dan apa yang diceramahkannya dia berusaha keras melakukannya. Karena itu mungkin ceramah-ceramahnya memiliki kekuatan karena sudah mengamalkannya terlebih dahulu sebelum mengingatkan orang lain. Ceramahnya yang menarik, selalu menyentuh dan menyadarkan jama’ahnya, membuatnya sangat disukai, digemari dan dipuji-puji terus. Setiap berkata-kata, orang terpana, kagum dan memuji, betapa hebatnya ustadz yang satu ini. Tapi justru, itulah yang meresahkannya selama ini.

Ketaksukaannya dipuji pun membuatnya lebih disukai lagi. “Beda dengan ustadz-ustadz lain,” kata seorang jama’ah. Dia dikenal sangat tawadhu. “Saya tidak suka dan paling takut kalau dipuji, karena itu milik Allah, saya ini siapa? Orang yang banyak kelemahan.” Katanya. “Kalau memuji, pujilah Allah bukan manusia.” Pernah ketika menasehati orang, karena kagum dengan kesadaran yang mendalam dan kalimat-kalimatnya yang menyentuh, orang yang dinasehatinya memuji-mujinya. Ustadz itu berhenti dan mengingatkan: “Heei … kalau sedang mendengarkan pengajian atau menerima nasehat itu, perhatikan nasehatnya bukan muji-muji orangnya. Saya jadi terganggu dan itu tidak perlu.” Dia sering menasehari orang, anehnya, orang-orang mau saja mendengarkannya. Ia merasa kata-katanya biasa-biasa saja, tapi kenapa orang banyak yang selalu memujinya. Ia sering menaseti orang tapi jarang orang mau dan berani menasehatinya. Yang dia dengar tentang dirinya selalu pujian, kekaguman dan rasa suka orang.

“Terus apa hubungannya dengan kejadian tadi?” tanya orang itu.

“Saya ini manusia biasa, bukan Nabi bukan malaikat. Selama ini, hidup saya gak seimbang. Setiap saya bicara, yang saya terima dari orang hanya pujian dan pujian saja. Selama ini pun, hidup saya hanya nikmat dan nikmat saja, hati saya hanya senang dan senang saja. Ini salah. Sebagai manusia biasa hidup saya harus seimbang. Orang boleh menyukai saya, tapi orang juga harus tidak menyukai saya, harus ada yang memarahi saya, ada yang menasehati saya dan sebagainya. Nabi saja yang begitu mulia banyak yang mengina, apalagi saya? Saya bingung berhari-hari memikirkan itu. Saya tak enak dan gelisah menerima pujian-pujian, sanjungan dan rasa suka orang, takut membuat saya menjadi sombong dihadapan Allah. Semakin saya banyak bicara semakin banyak orang suka pada saya. Saya banyak menasehati orang, tapi nasehat orang pada saya mana? Saya banyak menerima rasa suka orang, tapi sentimen dan kebencian orang mana? Saya sering dipuji tapi yang merendahkan dan menghina saya mana? Saya ini manusia biasa, selama ini hidup saya tak seimbang, saya gak mau hidup begini, saya takut celaka, takut jadi sombong padahal saya tak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa.”

“Terus yang tadi apa?” tanya orang itu lagi.

“Saya tak menemukan cara bagaimana agar keseimbangan itu saya dapatkan. Bagaimana agar ada orang yang memarahi, merendahkan dan menghina saya. Gak tahu, tadi saya merasakan saja, saya harus menghinakan orang tua itu agar ia menghina saya.”

“Subhanallaah ….:” kata orang itu, “jadi tadi memukul orang tua itu sengaja?”
“Iya.”
“Lalu?”
“Saya mendapatkan apa yang saya cari. Hidup saya merasa seimbang sekarang, saya puas.”
“Tadi tampak menangis, itu kesakitan karena dipukul?”
“Bukan. Pukulan-pukulan dan tempelengan itu tidak ada yang terasa sedikitpun.”
“Lalu kenapa menangis?”
“Itu tangisan bahagia. Saya gak kuat, tadi saya bahagia sekali menerima semua perlakuan tadi, mendapatkan apa yang saya cari.”
“Subhanallaah …. pantas tadi tidak bereaksi sedikitpun, rupanya itu yang sedang dirasakan.”
Orang itu semakin heran. Aneh, kok ada orang seperti itu.

“Terus, semua ini maksudnya apa?”

“Kan tadi sudah dibilang, hidup ini harus seimbang Pak. Saya mencari keseimbangan dan tadi mendapatkannya. Hidup yang tak seimbang pasti bermasalah, orang yang hidupnya tak seimbang pasti celaka. Sumber semua masalah dan kecelakaan manusia adalah ketidakseimbangan hidupnya. Ada yang terlalu menuruti rasio pikirannya, terlalu mengikuti perasaannya, ada yang terlalu mengikuti hawa nafsunya, ada yang terlalu mengikuti semangat agamanya, dst. Semua yang terlalu terlalu itu salah. Manusia harus berusaha semuanya harus seimbang. Itu kesempurnaan hidup. Tuhan menciptakan semua ciptaan-Nya atas dasar hukum keseimbangan. Saya gak mau hanya menerima pujian dan sanjungan, itu salah. Saya bukan Nabi bukan malaikat, saya ini manusia biasa yang semua itu harus diterima secara seimbang. Itulah kewajaran.”

Laki-laki itu berdiri, mengucapkan salam dan pergi. Orang yang bertanya itu hanya diam terpaku. Bingung dan bengong.[]

3 Responses to Mencari Keseimbangan Hidup

  1. dadik says:

    Ijin share Ustadz

  2. nasar azis says:

    Kisah yang sangat inspiratif, menyentuh dan memberikan makna kehidupand yang seimbang. Terima kasih.

  3. kakipromo says:

    kisah yang sungguh menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: