Haji Mukhtar Desa Rancapanggung Cililin dan Sejarah Islam di Wilayah Bandung

Oleh Moeflich Hasbullah
Dosen Sejarah Islam UIN Bandung

.

Uyut Haji Muhtar - Copy

Menemukan foto keluarga di zaman kolonial, foto jajaran Pengurus Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin Bandung tahun 1930. Yang dilingkari merah adalah Kepala Desa Rancapanggung, Rd. Haji Mukhtar dari tahun 1930 sampai 1942, ketika pendudukan Jepang baru mulai. Keterangan foto ditemukan di website Pemerintahan Desa Rancapanggung – Cililin.

Menurut situs desa itu, pada tahun 1930, di Jakarta terbentuk Fraksi Nasional dalam Dewan Rakyat yang beranggotakan sepuluh orang dan diketuai oleh M. Husni Thamrin dengan tujuan menjamin tercapainya kemerdekaan nasional dalam waktu yang sesingkat mungkin. Bersamaan dengan peristiwa itu, Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin Bandung, baru mempunyai seorang Kepala Desa bernama Rd. H. Mukhtar tanpa ada pemilihan namun diangkat langsung oleh masyarakat dengan pertimbangan dilihat dari wibawa dan pengaruhnya yang kuat di mata pemerintah kolonial Belanda.

Daerah Rancapanggung tahun 1930an, belum memiliki kantor pemerintahan desa dan pasar desa. Rd. H. Mukhtar bin Haji Nasir diangkat menjadi Kepala Desa Rancapanggung yang berlokasi di pinggir Jalan Raya Rancapanggung seluas kurang lebih 4.000 M demi untuk kepentingan masyarakat umum, Desa Rancapanggung khususnya dan pada umumnya se-kecamatan Cililin, maupun di luar kecamatan Cililin. Bupati Bandung saat itu adalah R.A.A. Wirantakusumah V (Dalem Haji), masa pemerintahan 1920-1921 dan 1935-1942. Masa pemerintahan Kades Haji Mukhtar tahun 1930 – 1942 ini persis sama dengan masa kepemimpinan R. Oto Iskandar Dinata sebagai Ketua Umum Paguyuban Pasundan (1930-1942).

Menurut sejarah lisan dari anak keturunannya, Rd. Haji Mukhtar adalah anaknya seorang petani kaya raya bernama Haji Nasir dari kampung Salem, Bongas (sekarang sudah terendam Danau Saguling) yang ketika meninggalnya, warisan kekayaannya semuanya turun ke anak tunggalnya yaitu Haji Mukhtar. Tanah, sérang dan kebunnya sangat luas berhektar-hektar. Sebutan “Raden” pada Mukhtar kemungkinan Haji Nasir adalah keturunan keluarga elit saat itu (abad ke-19) di Rancapanggung yang terlihat dari tingkat kekayaannya. Kekayaan Haji Mukhtar digambarkan oleh masyarakatnya saat itu dengan ungkapan: “Domba jeung mundingna gé pasiran sareng artosna gé petian. Teu ngarusak pajeg, malahan pasar Rancapanggung ogé taneuhna kénging mésér anjeuna” (Domba dan kerbaunya banyak bertebaran di bukit pasir dan uangnya pun berpeti-peti. Tapi tetap membayar pajak dan tanah pasar Rancapanggung pun beliau yang membeli dan diwakafkan).

Uyut Haji Muhtar - Copy-horz - Copy - Copy

Rd. Haji Mukhtar beristri empat dan memiliki anak hanya dari istri pertama dan kedua. Tiga istrinya dari daerah sekitar Rancapanggung dan istri keempatnya dari daerah Lembang, Bandung. Menurut penuturan seorang cucunya yang dulu sering diasuhnya, Haji Anah, “Lamun kilir ka Lémbang, aki teh sok naék kuda nu jangkung badag diaranan si Mayang éta kuda téh.” Istri-istri dan anak-anak Haji Mukhtar rata-rata sudah menunaikan haji ke Mekkah yang menunjukkan tingkat kemakmuran ekonominya sehingga selalu disebut “haji” di depan namanya. Dari istri pertama Mukhtar, lahir dua anak. Haji Muna salah satu anaknya, memiliki dua anak lagi, Haji Halimah dan Haji Mahmud, sedangkan dari istri keduanya, yaitu Haji Aisyah (mbu), memiliki 4 anak yaitu Haji Arifin, Haji Komala (Umah), Haji Zainuddin (Haji Jen) dan Haji Ening.

Haji Arifin dan Buya Hamka

Dari istri keduanya, Aisyah alias mbu, Haji Mukhtar meninggalkan anak yang menjadi ulama/ajengan ahli ilmu Falak di Rancapanggung, yaitu Haji Arifin (1907 – 1997). Haji Arifin adalah kakek saya sendiri dari garis ibu. Sebagai anak lurah zaman kolonial alias keturunan elit/bangsawan, Arifin setamat sekolah rakyat, pernah akan dimasukkan ke sekolah Belanda tetapi tidak lulus karena ketatnya ujian penyaringan. Haji Mukhtar kemudian memberangkatkan dua anak laki-lakinya, Arifin dan Zainuddin, menunaikan haji ke Mekkah pada tahun 1927.

Dalam perjalanan hajinya, mereka sekawan dengan Abdul Malik Karim Amrullah berasal dari Maninjau, Minangkabau, Sumatra Barat, dalam satu rombongan. Abdul Malik Karim Amrullah ini kemudian dikenal dengan Buya Hamka. Arifin dan Hamka adalah sebaya, usianya hanya beda satu tahun. Arifin lahir tahun 1907, Buya Hamka lahir 1908. Mereka berangkat haji tahun 1927 saat usianya masih pada muda, Arifin 20 tahun, Hamka 19 tahun. Dalam Wikipedia tentang Hamka dituliskan, “Selama di kapal, ia amat dihormati lantaran kepandaiannya membaca Al-Quran. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan ajengan. Dalam memoarnya, Hamka mengenang dirinya ditawari kawin dengan seorang gadis Bandung yang memang telah menawan hatinya, tetapi ia menolak. Sewaktu itu, kata Hamka, biasa saja orang menikah di atas kapal.” Apakah gadis Bandung itu tawaran Arifin kepadanya sebagai kawan perjalanannya? Wallahu a’lam.

20190220_103606 - Copy (2)

Seperjalanan haji (?)

Situasi zaman kolonial dan sangat jauhnya perjalanan, membuat jama’ah haji Nusantara termasuk Hamka, Arifin dan Zainuddin, tidak hanya menunaikan ibadah haji tetapi mukim bertahun-tahun di Mekkah belajar ilmu agama. Haji Hamka dan Haji Arifin adalah sahabat perjalanan haji. Keduanya sama-sama menjadi ahli ilmu agama yang saling mengakui keilmuannya. Haji Hamka lebih mendalami tafsir Qur’an. Ketekunannya membaca dan kemahirannya dalam menulis dan berbahasa, membuatnya menjadi ulama besar dan sastrawan terkemuka. Hamka melahirkan karya besarnya seperti Tafsir Al-Azhar 30 Juz yang diselesaikannya dalam tahanan saat dipenjara oleh Soekarno, dan banyak menulis karya-karya lain seperti Sejarah Umat Islam empat jilid, Tasawuf Modern dan karya-karya sastra berupa novel seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijck. Hamka banyak menulis karya dalam berbagai disiplin ilmu meliputi agama, sastra, filsafat, tasawuf, politik, sejarah dan kebudayaan.

Sedangkan Haji Arifin mendalami ilmu tauhid, ilmu fiqh, tasawuf, ilmu falak dan pengobatan. Ia tidak memiliki aktifitas organisasi Islam, membaca buku-buku selain kitab dan menulis bahasa Indonesia. Arifin lebih me-lokal. Di keluarganya, Haji Arifin meninggalkan karyanya Kalender Saeneng-eneng (kalender abadi) berdasarkan penguasaan ilmu falaknya yaitu sistem penanggalan Tahun Fiil (Tahun Gajah), Tahun Hijriyah dan Tahun Masehi. Selama hidupnya di Desa Rancapanggung Cililin, setiap memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri, beliau selalu melakukan rukyat sendiri dan tidak pernah mengandalkan pengumuman dari pemerintah. Hasil penentuan rukyatnya menjadi pegangan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Selain menjadi tempat bertanya tentang ilmu agama masyarakat di desanya, Haji Arifin juga ahli pengobatan penyakit kuning (hepatitis). Setiap anggota keluarga dan masyarakat yang datang berobat penyakit kuning kepadanya, disembuhkannya melalui minuman air putih yang dido’akannya.

Beberapa tahun sepulang haji dari tanah suci, konon, ketika Buya Hamka sebagai tokoh Muhammadiyah, karir politiknya di Masyumi dan keulamaannya makin cemerlang, pernah menawari Haji Arifin sebagai kawan seperjalanan hajinya untuk menduduki sebuah jabatan politik tetapi Arifin menolaknya karena selain tak menyukai Soekarno yang dianggapnya sebagai pemerintahan pro-PKI, tak pandai berbahasa Indonesia, juga ingin berkonsentrasi dalam dakwah di masyarakat dan mendalami tasawuf.

Lurah Haji: Kekecualian Sejarah?

Menatap foto klasik itu, Kades Rancapanggung yang seorang haji, juga anak-anaknya yang bergelar haji, mengembangkan imajinasi sejarah saya lebih jauh tentang peranan haji zaman kolonial dan islamisasi di wilayah Bandung khususnya daerah Cililin. Yang tadinya hanya menikmati foto jadi tulisan panjang tentang islamisasi di kampung halaman uyut saya sendiri.

Kepala Desa pada masa kolonial seorang haji sesungguhnya merupakan “kekecualian sejarah” (historical exception) karena umumnya haji-haji zaman kolonial tidak jadi bawahan Belanda, melainkan mengurus pesantren, menjadi ulama/kyai bagi masyarakatnya dan mengajar ngaji. Yang menjadi bawahan langsung pemerintah Belanda adalah para bupati, pangreh praja di Jawa dan uleebalang di Aceh. Sedangkan para haji, guru ngaji dan kyai umumnya besikap anti Belanda karena kesadaran anti kolonial yang didasari kesadaran keagamaan mereka. Tentu saja tidak semua, karena di Sunda, Haji Hasan Mustapa (1852-1930), penghulu Bandung, yang juga haji, ulama besar, sastrawan sufi, juga bukan hanya bawahan Belanda bahkan sahabatnya Snouck Hurgronje. Hasan Mustapa banyak memberikan informasi tentang masyarakat pribumi kepada sahabatnya, Penasehat Pemerintah kolonial Belanda itu.

haji_hasan_mustofa_001

Tetapi, situs Desa Rancapanggung menyebutkan Rd. Haji Mukhtar “dilihat dari wibawa dan pengaruhnya yang kuat di mata kolonial Belanda,” menjadi sangat mungkin. Posisi Haji Mukhtar, seperti halnya Haji Hasan Mustapa, menjadi unik dalam sejarah santri era kolonial di Indonesia. Sisi lain kemungkinan haji menjadi lurah, karena Cililin sejak lama dikenal sebagai kota santri, dimana Rd. Haji Mukhtar adalah salah satu produknya yang sepulangnya dari tanah suci masih nyantri ke beberapa pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Cililin memang sudah lama mendapat julukan “gudang santri dan pabrik haji.” Kota Santri adalah istilah yang diberikan kepada kota-kota yang memiliki banyak pondok pesantren, termasuk wilayah Bandung bagian barat. Menurut data Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat, terdapat lebih dari 450 pesantren yang ada di Bandung Barat yang kebanyakan tersebar di wilayah bagian selatan.

Sejarah Islamisasi di Wilayah Bandung

Banyaknya jumlah pesantren tak terlepas dari nilai historis dakwah Islam abad ke-17 yang dibawa ke wilayah Cililin yang dikembangkan oleh salah ulama sufi asal Banten yang ada garis keturunan ke Cirebon dan Demak, bernama Muhammad Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf. Muhammad Syafi’i dikenal dengan sebutan Pangeran Atas Angin yang makam ziarahnya terdapat di Pesantren Dawuan, Cijenuk, Cililin hingga sekarang. Kemudian, Syekh Abdul Manaf adalah ulama yang meninggalkan situs ziarah, Makam Mahmud di Cigondewah. Kedua ulama ini bertugas menyebarkan Islam di wilayah Bandung selatan ketika Kesultanan Banten diperintah oleh Sultan Maulana Yusuf abad ke-16 (1568-1580) dan Kesultanan Cirebon diperintahkan oleh Panembahan Ratu.

Tulisan Rifkiyal Robani dalam situs Santripedia, tampaknya bersumber tradisi lisan, menjelaskan bahwa nama-nama desa di wilayah Kawedanaan Cililin semuanya berasal dari suasana-suasana persinggahan islamisasi yang dilakukan oleh Syekh Muhammad Syafi’i. Menurutnya, utusan dari Keraton Banten yang pertama kali bermukim di daerah Cililin adalah ulama sufi pengembara yang bernama Muhammad Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf. Kedua orang itu semula singgah di tempat yang nyaman sambil mengajarkan ajaran Islam. Nama tempat tersebut sampai sekarang diberi nama Sindangkerta. Sindang berarti berhenti, Kerta berarti nyaman atau aman yang sekarang telah menjadi Kecamatan Sindangkerta, sebelum Gunung Halu.

Dari Singdangkerta, pindah ke sebelah utara untuk meneruskan ajaran agama Islam dan singgah di suatu tempat. Nama tempat yang baru ini diberi nama Kampung Panaruban. Panaruban berasal dari takarrub berarti mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Di Panaruban dimulailah mengajarkan agama Islam melalui dzikir. Suara dzikir tersebut oleh masyarakat sekitarnya terdengar bergema yang dalam bahasa Sunda disebut “ngagerendung”. Lama kelamaan kampung Panaruban berubah menjadi kampung Gerendung. Kata Gerendung ini bisa juga dari kata gerendeng dalam bahasa Sunda, yang berarti suara yang halus, dzikir khafi (dzikir pelan).

Kampung Gerendung makin lama makin ramai didatangi oleh para santri yang akan menuntut ilmu agama. Akhirnya berkumpullah para santri di kampung itu. Tempat berkumpulnya para santri tersebut dinamakan “Jenuk”. Jenuk berarti kumpul, yang dikenal dengan istilah Batur Jenuk Balarea artinya “semuanya orang disini saudara.” Sekarang nama kampung itu berubah menjadi Cijenuk hingga kini.

Perkembangan pesantren Cijenuk makin semarak terutama bila mengadakan peringatan Maulid Nabi. Macam-macam jenis makanan dihidangkan termasuk kue basah. Pembuatan kue basah berasal dari kampung sebelah utara Cijenuk sampai sekarang kampung tersebut diberi nama Citalem (Talem berarti wadah kue basah). Citalem sekarang menjadi sebuah desa. Pada waktu itu belum menggunakan peralatan hidangan makanan dari bahan-bahan hasil dari teknik industri seperti rantang, gelas kaca, dan cerek. Untuk mewadahi air minum, sayur daging, tuak enau (teres berarti lahang). Panerasan berarti tukang “nyadap”. Selalu mempergunakan “katung” yaitu lodong pendek. Katung yang lebih pendek lagi diberi nama “mangkok” atau “bekong”. Pembuatan katung ini dari suatu kampung yang terletak sebelah barat Cijenuk. Nama kampung ini sampai sekarang diberi nama “Cipongkor.” Pongkor artinya lodong pendek atau katung. Sekarang Cipongkor menjadi Kecamatan.

Setelah berlangsung lama, datang lagi seorang ulama sufi dari Cikundul Cianjur yang berpangkat Wedana Dalem (Wedana Keraton). Orang ini diberi julukan Eyang Sangga Wadana hingga kini. Sangga Wedana ikut bermukim di Cijenuk sampai ia mengakhiri hayatnya, dan dimakamkan di makam Cijenuk bersama atau berdekatan dengan makam Mohammad Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf.

Para santri Cijenuk yang mandiri menyebarkan ajaran Islam. Dikenal ada empat orang santri yang berdakwah mengembangkan Islam. Yang pertama, bernama Nayaganta yang mendirikan Pesantren di pinggiran Sungai Cipatik. Sampai sekarang tempat tersebut diberi nama Nunuk yang berarti berkumpul. Yang kedua, bernama Nayaguna mendirikan pesantren di pinggiran Sungai Citarum. Tempat itu sekarang diberi nama Kampung DepokDepok berarti pemukiman atau Padepokan. Adapun kampung pinggiran sungai tersebut berkembang menjadi sebuah desa yang diberi nama Desa Citapen yang berasal dari kata Citepian. Yang ketiga, Nurasidi seorang penulis Al Quran. Ia mendirikan Pesantren Bongas terkenal dengan julukan “Ulama Bongas”. Setelah berakhir hayatnya dimakamkan di puncak bukit “Pasirpogor Cililin”. Yang ke empat, mendapat julukan Dalem Kemuludan mendirikan Pesantren di Cinengah Gunung Halu, dan seterusnya. Demikian penelusuran Rifkiyal Robani. Walaupun masuk akal, untuk membenarkannya diperlukan sumber-sumber penguat berupa naskah-naskah.

Kaitan antara Cililin sebagai kota santri, banyaknya haji dan pesantren hingga ke sejarah islamisasi yang dikembangkan Syekh Muhammaf Syafi’i dan Syekh Abdul Manaf sejak abad ke-17 memerlukan penelusuran sejarah yang lebih mendalam lagi dengan sumber-sumber naskah yang dapat dipercaya. Mudah-mudahan ke depan semakin tergali oleh generasi berikutnya para pecinta sejarah.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: