HARUN TARMI: SOSOK TENTARA MULTIDIMENSI

Oleh Moeflich Hasbullah

 

IMG_20170911_105346

Seorang Bugis kelahiran Sidrap tahun 1932, berwatak keras yang selalu berontak pada keadaan yang dipandangnya tak sesuai dengan idealismenya. Sikap kerasnya tanpa kompromi yang membuatnya tak bertahan lama dalam karir militernya. Sifatnya, menurun pada anak-anaknya terutama anak laki-lakinya yang kedua, yaitu Kafil Yamin Abdillah (Sarjana Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djari Bandung yang berkarir menekuni dunia jurnalistik, dari Aceh Post, Lampung Post, Media Indonesia, hingga media berbahasa Inggris The Jakarta Globe, The Jakarta Post, IPS Bangkok dan World Universities). Pangkat terakhir Harun Tarmi hanya Letnan Dua setelah meminta pensiun dini tahun 1970an karena sering konflik dengan atasannya, berkelahi dan berbulan-bulan bermusuhan, setiap bertemu mereka adu jotos alias beradu fisik. Harun Tarmi tak suka ditundukkan apalagi oleh lawan yang pengetahuannya lebih rendah darinya.

Sebagai tentara pembaca buku dan pemegang sabuk beladiri Yudo membuatnya percaya diri untuk tak tunduk pada apa yang tidak benar dalam pandangannya. Pada masa bujangan, ia kabur merantau dari Makasar ke Jawa karena gagal meminang gadis Sulawesi yang keluarganya mensyaratkan puluhan kerbau sebagai mahar yang tak sanggup dipenuhinya. Watak merantau Bugis yang bersenyawa dengan kekecewaan hidup, kemudian mendorong minatnya untuk bekerja menjadi TNI Divisi Siliwangi yang kemudian ditugaskan menumpas pemberontakan Darul Islam (DI) Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Uniknya, mungkin karena darah keislaman Makassar yang diajarkan keluarga dan “trah” Kahar Muzakkar dan Jenderal M. Yusuf, justru membuatnya menjadi TNI yang bersimpati pada perjuangan Darul Islam. Kartosuwiryo pun dikaguminya yang “telah mempersiapkan sebuah negara Islam dengan konsep-konsepnya yang lengkap dan matang tentang kenegaraan,” katanya pada saya suatu saat tahun 1980an. Harun berkesimpulan begitu, karena rupanya dalam proses operasi penangkapan DI/TII, ia menemukan Qanun Asasi-nya Darul Islam Kartosuwiryo dan membacanya yang membuatnya terkesan karena saat itu Republik Indonesia belum matang berdiri Berbekal simpatinya pada DI yang memperjuangkan Islam, selama operasi militer, ia malah sering diam-diam melepaskan tentara-tentara DI yang ditahan dari penjara pada malam hari.

Harun Tarmi pun pengagum sosok Soekarno. Ia sering bercerita antusias pada anak-anaknya bila bicara tentang Presiden Soekarno terutama kehebatan pidatonya. “Bila Bung Karno datang ke sebuah kota untuk berpidato Moeflich, huuuh …. ribuan massa rakyat sudah memenuhi jalan raya sejak subuh dini hari, menunggu dengan sabar dan mengelu-elukannya,” kenangnya suatu saat pada saya sebagai putranya yang ketiga.

scan0037 - Copy

(Penulis saat menikah tahun 1998 didampingi Ibu Euis Bahiyah dan Bapak, Harun Tarmi)

Saat ditugaskan oleh Divisi Siliwangi di daerah Cililin Kabupaten Bandung tahun 1958, disitulah ia bertemu dengan Euis Bahiyah, seorang gadis berstatus guru anak ajengan KH. Arifin yang kemudian dinikahinya tanpa kehadiran pihak keluarga Sulawesi. KH. Arifin adalah anaknya Haji Mukhtar, lurah pertama Desa Rancapanggung Kecamatan Cililin di zaman kolonial, beristri empat dan kekayaan tanahnya sangat luas. Haji Mukhtar adalah anaknya Haji Nasir, petani kaya di Rancapanggung. Haji Mukhtar adalah seorang yang memiliki ilmu dan kharisma yang tinggi sehingga tak mudah diatur dan ditundukkan oleh bupati bawahan Belanda.

KH. Arifin sendiri adalah Ajengan Ahli Ilmu Falak di Rancapanggung Cililin yang tak memiliki pesantren kecuali madrasah pengajian di belakang rumahnya. Pada awal abad ke-20, Arifin dikirim ayahnya ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan ngelmu di tanah suci mempelajari Agama Islam sekelompok dengan Buya Hamka. Sepulang dari Haramayn (Mekkah-Madinah) setelah remaja, dan hingga setelah menikahi istrinya, Fathonah, santri Arifin meneruskan belajar agamanya ke beberapa pesantren di Jawa Barat dan Jawa Tengah hingga kemudian menjadi ajengan di Cililin. Hingga meninggalnya, KH. Arifin (tahun 1990-an) tidak pandai berbahasa Indonesia (Melayu) karena sikap antinya terhadap pemerintah kolonial Belanda, yang kemudian berlanjut tidak sukanya pada pemerintah merdeka yang bukan dari golongan ulama dan Soekarno yang memusuhi ideologi Islam. Anak ke-6 KH. Arifin inilah, Euis Bahiyah, yang berjodoh dengan Harun saat ia ditugaskan di Cililin.

Kabur dari Makasar pantang kembali. Harun tak pernah pulang hingga mempunyai anak yang sudah besar-besar dan menjadi sarjana. Harun relatif berhasil dalam pendidikan ketujuh anak-anaknya. Semua anaknya, kecuali yang bungsu, adalah sarjana. Harun adalah tentara pencinta ilmu. Ia mengkoleksi lengkap dan membaca buku-buku favoritnya karangan Prof. KH. Hasby Ash-Shiddieqy dan buku-buku A. Hassan Persis, terutama Soal Jawab 4 Jilid. Berbekal pengetahuan agamanya, di Cibeureum Cimahi Bandung, tempat ia tinggal, tahun 1970an, Harun menjadi ustadz yang menyelanggarakan pengajian rutin anak-anak di masjid dekat rumahnya dengan warna faham modernis yang sering bentrok dengan tetangga.

Harun Tarmi pun seorang seniman. Ia pandai memainkan alat-alat musik terutama gitar, suling dan drum band. Ia pun seorang penyanyi yang mampu berbahasa Jepang dan Belanda standar dari pengalaman karirnya sebagai tentara. Suaranya bagus dan merdu yang menurun kepada anaknya yang kedua, Kafil Yamin. Harun pernah bergabung dengan sebuah orkes Melayu tahun 1950an. Ia pun pendengar dan penikmat lagu-lagu Oldies: Perry Como, Matt Monroe, Elvis Presley, Angelbert Humperdink, Andy William, Frank Sintra, Patty Page, Connie Francis dll. Darah seninya menurun kepada ketiga anak-anak lelakinya dengan perbedaan karakternya masing-masing.

Saya dan kakak saya banyak sekali hafal lagu-lagu Barat oldies itu di luar kepala hingga terbawa sampai mahasiswa karena sudah terbiasa diperdengarkan oleh Bapak saya di rumah sejak SD-SMP.

Mengenang Bapakku, Thalib Harun Tarmi,
“Allahu yarham. Allahummaghfirlii waliwali dayya, warhamhumaa kamaa rabbayaani shaghiiraa.” Aamiin ya Allah ya Rabaal ‘Alamiin.
____________________

Foto-foto kenangan saat Bapak, Harun Tarmi, menjadi ustadz mengajar anak-anak mengaji tahun 1970an di Cibeureum Cimahi:

Pengajian rutin di rumah:

Pangajian Apa

Pangajian Apa1

Acara Drama Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW:

scan0031

cedc

cd

 

Pengajian apa2
7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: