Kisah Nyata: Inilah Drama Pernikahan Poligami yang Sempurna dan Sangat Mengharukan

Oleh Moeflich Hasbullah

a

Inilah kisah nyata drama kehidupan yang sangat mengharukan yang patut menjadi renungan, pelajaran dan contoh bagi kita semua. Sahabat dekat saya seorang yang sangat tulus dan ikhlas dalam berdakwah. Sebut saja namanya Ahmad. Usianya masih muda, baru 40 tahun. Dari orang-orang yang saya kenal, belum pernah saya menemukan orang seikhlas dan setulus dia dalam berbuat amal dan kebaikan. Ia tidak pernah merasa dirinya ustadz, tapi jama’ahnya memanggilnya begitu.

Ia berkeliling ke kampung-kampung, dari satu daerah ke daerah lain di Jawa Barat, dari Indramayu hingga Lebak, Banten, mengajak orang pada kesadaran agama dan kini jama’ahnya sudah ribuan. Bedanya dengan ustadz-ustadz lain yang kita kenal adalah bila mereka diundang ke masjid-masjid besar di kota, diundang ke Jakarta, dzikir nasional, datang berduyun-duyun, ustadznya berdiri di mimbar dan duduk di ruang yang nyaman, disorot televisi, populer dan dibayar. Ustadz yang satu ini, jauh dari suasana itu. Ia sendirilah yang datang berkeliling ke daerah-daerah dan kampung-kampung serta pelosok. Dialah yang mendatangi jama’ahnya sendirian tanpa ada yang membiayainya sepeserpun. Hotelnya adalah masjid, surau, tajug atau langgar. Ustadz muda ini membangun jama’ah yang bernama Jama’ah Taushiyah Syaghafan, pusatnya di Bandung. Ia tidak mau dikenal orang, dipuji dan menjadi populer. Popularitas baginya adalah godaan besar dalam berdakwah dan telah banyak merusak niat, mengotori hati dan membelokkan manusia dari keikhlasan berdakwah. Secara rutin, ia mengunjungi dan membina jama’ahnya di kampung-kampung. Tapi jangan salah, jama’ahnya bukan hanya orang-orang kecil. Kelas menengah, orang-orang kaya dan pejabat tinggi juga ada.

Dalam berdakwah, prinsipnya tak pernah mau dibayar sepeserpun. Uang puluhan juta sebagai amplop atau ucapan terima kasih, bahkan mobil dan rumah sebagai hadiah atau penghargaan lain dari orang-orang kaya yang disadarkannya dalam agama semuanya ia tolak. Padahal, ia orang yang kekurangan, jarang punya uang disakunya. Hidupnya benar-benar sederhana dan bersahaja. Penampilan biasa seperti pemuda kebanyakan. Memakai kaos atau kemeja dan tidak memakai asesoris keulamaan. Jauh dari kesan seorang Ustadz atau orang yang punya banyak kelebihan.

Ia sangat berpengaruh pada jama’ah yang dibinanya. Tangisan dan uraian air mata jama’ah adalah biasa saat mendengarkan nasehat-nesehat dan wejangan-wejangannya tentang kehidupan sehari-hari tapi menyentuh. Selain menyadarkan orang, ia juga membantu menyelesaikan masalah-masalah jama’ahnya dengan jalan keluar yang konkrit, tidak hanya nasehat dan anjuran seperti para mubaligh dan ulama lain. Ia juga mengobati berbagai penyakit pada orang yang ia tahu harus dibantu. Ia kuat tidak tidur dan menahan lapar berhari-hari. Ia mengetahui mana makanan yang bisa dimakan olehnya dan mana yang tidak. Itulah kekuatannya dan itulah yang membuatnya berpengaruh pada jama’ahnya, berpengaruh saat memberikan nasehatnya. Ia seorang hamba Allah yang sangat langka dan patut dicontoh. Dibawah ini adalah salah satu kisah menarik bagaimana ia menjawab persoalan jama’ahnya yang dipecahkannya secara konkrit.

* * *

Suatu siang di bulan Desember 2008, di salah satu kumpulan jama’ahnya di sebuah kampung di daerah Subang utara, Jawa Barat, setelah selesai pengajian rutinnya yang saat itu membahas bagaimana membangun keluarga Muslim yang sakinah, ada seorang jama’ah, seorang Bapak berusia sekitar 55 tahun, sebut saja namanya Pak Hasan, ia memohon Ustadz Ahmad untuk bertandang silaturahmi ke rumahnya. Ustadz itu memenuhinya. Ia berniat meneruskan pengajiannya dengan satu dua orang yang masih mengikutinya di rumah Pak Hasan untuk melakukan pembinaan. Hal itu sudah biasa ia lakukan. Setelah pengajian, tidak langsung pulang, melainkan meneruskan pendalaman, bila perlu seharian tau dua hari dan sering tanpa makan. Setelah berada di rumahnya dan air minum tersedia, Pak Hasan membuka pembicaraan pelan-pelan. Seperti ada persoalan berat yang ingin ia tanyakan.
“Pak Ustadz boleh saya menanyakan sesuatu?”
“Ya, masalah apa Pak?”

Sambil agak malu-malu, ia bertanya, “Begini Pak Ustadz. Tadi Pak Ustadz menyinggung juga sedikit masalah poligami yang benar menurut tuntunan agama. Terus terang, ini nyambung dengan yang ada di hati saya. Saya kebetulan berniat menikahi seorang perempuan di desa ini. Saya sudah dekat dengan dia dan bersilaturahmi kepada orang tuanya. Orang tuanya sudah tahu dan menerima niat saya. Tapi, saya bingung menghadapi istri saya. Ia pasti akan menolak dan tidak menyetujuinya. Saya mohon nasehat Ustadz, gimana sebaiknya ya Pak? Saya bingung.”

Ustadz sahabat saya ini segera paham, ia berniat poligami. “Pak, poligami dibolehkan dalam agama. Tapi harus hati-hati, harus benar-benar menjaga niatnya. Niat, cara dan tujuannya harus benar. Naah, niat dan tujuan Bapak menikahi perempuan itu apa? Jangan karena nafsu, hanya karena cantik, menarik, dan perempuannya mau. Atau karena merasa Bapak banyak uang, nanti akan kacau rumah tangga Bapak.”

“Begini Pak Ustadz. Niat saya ingin menolong perempuan itu. Orangnya baik, shaleh, dari keluarga sederhana. Usianya sekitar 36 tahun tapi belum menikah juga. Saya ingin membantunya dengan sekalian saja menikahinya. Insya Allah, saya niatkan sebagai ibadah. Dengan pandangan yang sama bahwa nikah itu ibadah, dia mau menjadi istri kedua, dia siap. Saya juga Insya Allah mampu. Kan tidak salah Pak Ustadz?” Katanya sambil agak malu-malu. “Tapi, bagaimana menghadapi istri saya menurut Ustadz? Dia pasti menolaknya.”

Ustadz ini kebetulan memiliki kemampuan istimewa. Ia seorang yang kasyaf secara ruhani. Atas kemampuan bacaan ruhani seorang mukasyafah, orang modern menyebutnya “the six sense.” Ustadz ini bisa melihat aura seseorang dengan mudah. Dari auranya, ia bisa mengetahui karakter asli seseorang termasuk bohong tidaknya. Aura si Bapak ini bagus, orangnya jujur, agamanya bagus, mendidik istri dan keluarganya juga bagus. Ia berwibawa di hadapan istrinya dan istrinya pun hormat padanya. Ustadz itu tahu, orang ini perlu dibantu. Aura rumahnya pun bagus, ia membaca ada kelancaran atas niat si bapak ini. Disisi lain, si Bapak ini orang berada, kehidupan ekonominya maju.

“Eemh… sebuah niat yang baik dan mulia. Kalau benar niat Bapak seperti itu kenapa harus takut? Masalahnya, bingung menghadapi istri ya Pak? Hehehe … Begini saja, tolong panggil istri Bapak kesini. Insya Allah ada jalan keluarnya.” Dengan senang, deg-degan dan agak takut, si Bapak menuruti. Ia memangggil istrinya ke hadapan Ustadz itu. Setelah berada di ruang tamu, Ustadz menyapa si Ibu yang tadi siang juga hadir di pengajiannya:
“Buu… saya mau bicara, tidak mengganggu kan? Bisa kan Ibu duduk disini?”
“Iya, Pak Ustadz.” Jawab si Ibu yang telah menjadi jama’ahnya rutinnya.

“Begini Bu, jangan kaget yaa… Ibu tenang saja, jangan emosi, ada saya disini. Ada kabar yang mungkin mengagetkan dan tidak enak buat Ibu. Tapi, segala sesuatu bisa dimusyawarahkan dengan baik. Buu…, tadi saya mendengar sendiri dari Bapak. Bapak, suami Ibu ini, punya niat menikahi seseorang. Niatnya baik dan mulia, ia ingin membantunya menolong orang itu. Niat baik itu tidak boleh dihalangi. Menghalangi niat baik seseorang bisa menjadi dosa buat kita. Nah, niat baik itu dari siapapun harus dibantu. Insya Allah menjadi ibadah buat kita selama kita ikhlas membantunya. Dalam hal niat bapak ini, ibu pasti berat, tapi disitulah nilai ibadahnya. Berbuat ikhlas itu berat tapi disitulah keutamaaanya. Nah, bagaimana pandangan dan sikap Ibu? Silahkan jujur dan terbuka disini. Mumpung ada saya, silahkan ungkapkan hati Ibu apa adanya kepada Bapak. Jangan merasa ada paksaan dan jangan merasa terpaksa.” Kata Ustadz meyakinkan.

Si Ibu tentu saja kaget luar biasa. Jantungnya berdetak keras. Ia seperti kena halilintar di siang bolong mendengar penjelasan itu. Tapi, Ustadz itu sangat dihormatinya dan telah mempengaruhi jiwa dan kesadaran agamanya. Pengajiannya selama ini banyak menyadarkan jama’ahnya bagaimana beragama yang benar. Ia sering sekali menekankan pentingnya ikhlas dalam menjalani hidup, menghadapi cobaan dan dalam beribadah. Penjelasannya sederhana tapi menyentuh. Banyak jama’ahnya yang ingin benar-benar berubah.
Si Ibu benar-benar bingung dan berat menjawabnya.
“Pak …  secara syari’at, Mamah tuh gak ada masalah, Mamah nerima itu ketentuan Allah !! Tapi, hati ini gimana yaa..” katanya berat. “Pak, Bapak tuh benar begitu… ? Mencari apalagi sih Pak? Bapak itu ekonomi sudah maju, harta banyak, ke haji sudah, anak-anak sudah punya, mencari apalagi Paaak…?”

Setelah istrinya menjawab, Pak Hasan mengulangi mengutarakan niatnya. Mereka berdua saling jawab, berdialog. Ustadz membiarkan mereka berkomunikasi secara terbuka dan murni tanpa ada rekayasa.
“Bu… tadikan saya sudah membantu menyampaikannya pada Ibu. Bapak sudah mengutarakan niatnya,” sela Ustadz Ahmad, “Insya Allah niat Bapak memang baik. Tapi ingat, Ibu menjawab jangan karena saya. Harus benar-benar jujur yang keluar dari hati ibu. Saya disini hanya membantu saja agar Ibu mengetahuinya. Jangan ada kebohongan dalam rumah tangga. Bisa celaka. Bisa ada akibat yang tidak diinginkan bila bapak memendam niatnya dan tidak terus terang kepada Ibu. Makanya, saya memanggil Ibu. Inikan lebih baik daripada Bapak nanti main belakang. Ya kan Bu?”
“Iya Pak Ustadz.”

Kebetulan, istrinya ini seorang istri yang baik. Suaminya juga sama, memiliki wibawa di depan istrinya. Pak Hasan membimbing agama di keluarganya dengan baik. Secara ekonomi, selama ini si Ibu dan anak-anaknya tidak merasa kekurangan bahkan terbilang lebih dibanding tetangganya sekitarnya. Pengaruh Ustadz itu disitu mengendalikan suasana menjadi terbuka, terus terang dan terkendali. Tidak ada luapan emosi dan kemarahan.

“Maafin Bapak ya Mah… Bapak tidak berniat mengurangi kasih sayang dan perhatian pada Mamah dan keluarga. Tidak. Bagi Bapak, Mamah dan anak-anak tetap nomor satu. Bagi Bapak, keluarga adalah harta yang sangat berharga. Bapak sayang sama Mamah dan anak-anak. Bapak tergerak hati untuk menolongnya. Kebetulan dia mau. Jadi syukur, tidak juga tidak apa-apa. Bapak terserah takdir Allah saja. Niat Bapak mudah-mudahan menjadi ibadah. Mamah ridha kan…?? Gimana Mah, Mamah mengizinkan tidak?”

Si Ibu itu tampak diam, perasaannya berat dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Jadi gimana Buu…? Ibu menerima?” Ustadz menegaskan lagi perlahan.
Sambil berharap-harap cemas, suaminya juga mengulanginya lagi:
“Gimana Mah, keberatan tidak?”

Tiba-tiba, “Khuaa…huu…huu…” Istrinya menangis di pangkuan suaminya, ia meraung dan terisak. Melihat itu, si Bapak pun tak kuat membendung air matanya. Ia pun menangis sambil memeluk istrinya. Keduanya menangis dalam pelukan haru mengekspresikan isi hatinya yang berat. Ustadz pun tak kuat menahan perasaannya. Hati si Ibu tampak sangat berat, tapi ia sedang berjuang mengalahkan beban perasaannya. Dari auranya, Ustadz Ahmad membaca, istrinya ini adalah tipe istri yang taat dan hormat pada suaminya. Ustadz bergumam dalam hatinya: “Biarkan saja pada menangis, memang harus begini prosesnya.”

Setelah tangisnya agak reda, lama si Ibu masih belum menjawab. Lidahnya seolah terkunci. Ia berfikir dan perasaannya bercampur. Menjawab “tidak” ia segan pada suaminya dan khawatir menjadi masalah ke depannya. Sebagai istri, ia bergantung penuh suaminya. Suaminya selama ini adalah suami yang baik. Ia adalah pemimpin rumah tangga yang harus ditaati. Selama ini, ia tidak pernah membangkang. Buat apa rajin ke pengajian kalau ia menjadi seorang istri pembangkang. Ia takut durhaka. Ada juga bayangan ketakutan suaminya ini suatu saat main belakang dengan perempuan lain, bila ia menolaknya. Pikiran dan perasaannya berkecamuk. Ia juga merasa segan pada Ustadz Ahmad yang berwibawa yang telah menjadi penyambung lidah suaminya. Tapi, menjawab “iya,” hatinya merasakan berat. Suaminya dan Ustadz Ahmad masih menunggu. Setelah agak lama, Ustadz bertanya lagi perlahan, “gimana Bu? Ibu bersedia? Rela?”

Dalam kemelut fikiran dan isak tangisnya, akhirnya istrinya menjawab pasrah: “Pak Ustadz, saya pasrah saja pada suami saya. Saya taat pada Bapak sebagai pimpinan rumah tangga. Mudah-mudahan ini menjadi ibadah dan kebaikan saya di mata Allah.”
“Benar bu yaa…?”
“Iya, Pak Ustadz.” Tensinya melemah.
“Yaa… syukurlah… kalau ibu bisa menerima kenyataan ini. Mudah-mudahan Ibu tabah dan kuat menghadapinya. Bu, hidup ini seringkali mengagetkan dan tidak seperti apa yang kita kehendaki. Allah saja sudah mengaturnya seperti itu. Nah, bisa tidak kita ikhlas menerima takdir Allah yang menimpa kita itu? Kalau ikhlas, Insya Allah menjadi ibadah, jaminannya pun Insya Allah surga. Tapi ingat, Ibu berharap ini menjadi ibadah bukan karena saya. Ibadah itu hubungan Ibu langsung dengan Allah. Saya do’akan, Insya Allah, ini menjadi kebaikan ibu karena ibu bisa mewujudkan keikhlasan yang berat ini. Bukan soal Bapak nikah laginya ini, tapi soal keikhlasan dalam urusan apapun.”
“Bu,” sambung Ustadz lagi, “Ibu itu perempuan. Saya tahu, perasaan ibu berat walaupun ibu menyatakan ikhlas dan menerima.”

Ustadz Ahmad berfikir, untuk sementara biarlah tidak apa-apa. Wajar. Ikhlas itu memang berat. Tapi, justru disitulah nilai ibadahnya. Mengalahkan rasa berat yang mengganjal dihati demi kebaikan adalah perjuangan untuk mewujudkan keikhlasan. Itulah pengorbanan berat yang akan mendatang ridha Allah.

“Bu, istri-istri Rasulullah saja merasa berat dimadu. Mereka juga sama perempuan. Tapi mereka bisa mengalahkan perasaannya. Itulah contoh buat kita. Agama juga memerlukan pengorbanan rasa. Kalau tidak ada pengorbanan rasa tidak akan ada keagungan. Mengalahkan rasa berat dan berkorban perasaan demi kebaikan dan demi ketaatan kepada Allah adalah keagungan. Inti perjuangan itukan mengalahkan rasa berat, mengalahkan godaan, mengalahkan egosime. Kalau agama tanpa pengorbanan tidak akan ada ibadah, tidak akan ada perjuangan, tidak akan ada keutamaan. Itulah yang membuat kita tinggi dan mulai di sisi Allah SWT. Naah… mari, usaha mewujudkan keikhlasan dan tekad mengalahkan nafsu itu kita mulai sekarang mumpung ada kesempatan. Jadikanlah ini sebagai ibadah ibu, justru ini ibadah ibu yang besar karena sanggup mengalahkan rasa berat. Ibu bisa saja menolak menjawab “tidak mau” untuk menuruti rasa panas hati ibu, tapi itu hati yang kerdil. Selama niat dan tujuan suami baik, bisa tidak kita justru membantunya bukan malah menghalanginya. Bapak caranya baik kepada Ibu dan ibu membalasnya juga dengan baik. Tanpa terasa, ini adalah saling memberi kebaikan antara Bapak dengan Ibu. Inilah suami istri yang diridhai Allah SWT.”

“Pak,” Ustadz Ahmad menggilirkan nasehatnya pada suaminya yang tampak sedang menyembunyikan rasa senangnya, “ingat Bapak jangan dulu senang dengan penerimaan istri Bapak. Tugas bapak justru lebih berat sekarang. Bapak harus menjaga niat, jangan sampai berubah. Sekali niat Bapak melenceng bukan karena Allah nanti akan menjadi nafsu. Nafsu menggoda kita dengan cara yang sangat halus, sangat tidak terasa. Niat yang lurus akan mengontrol Bapak dari melakukan kesalahan dan kekeliruan. Tapi dasarnya salah dan niatnya nafsu, akan menghancurkan kehidupan Bapak. Sudah banyak contoh Pak, orang yang poligami menjadi hancur keluarganya karena dasar dan niatnya salah. Bapak jangan membayangkan kesenangan, tapi tanggung jawab yang berat di hadapan Allah kelak bila Bapak tidak adil. Adil itu proporsional Pak, terutama dalam rasa, bukan materi. Bapak tidak mungkin adil dalam materi karena Bapak sudah lama berumah tangga dengan Ibu. Ibu sudah banyak menerima nafkah dan materi dari Bapak. Tapi dalam rasa, Bapak harus menjaga keseimbangan. Momen yang baik sekarang ini harus menjadi langkah awal menciptakan keluarga yang lebih baik lagi, yang sakinah mawaddah warahmah. Ini harus menjadi langkah awal Bapak lebih baik lagi berkomunikasi dengan ibu, kalau perlu lebih harmonis lagi, lebih sayang dan lebih perhatian dari sebelumnya. Rumah tangga bapak yang sakinah harus dimulai dari pertemuan sekarang ini, karena langkah ini dimulai dengan cara yang baik. Tidak boleh lagi ada kebohongan atau dusta antara ibu dan bapak. Segalanya bicarakan dengan musyawarah. Jangan berat sebelah. Ingat, tanggung jawab Bapak sebagai kepala rumah tangga semakin berat dengan dua istri. Allah akan meminta pertanggungjawaban Bapak kelak.”

“Ibu,” kata Ustadz Ahmad lagi, “Ibu juga harus menerima kenyataan ini. Ibu harus membuktikan keikhlasan ibu, jangan hanya di mulut. Jangan hanya sekarang karena ada saya, kesananya tidak. Ibu sekarang tidak bisa merasa lebih memiliki Bapak. Ibu harus menerima kenyataan bahwa sekarang ada istri lain yang memiliki Bapak. Ada istri lain yang harus diperhatikan. Ibu harus menerima dan ikhlas dengan pergiliran waktu. Mari saling menjaga, saling memperhatikan, saling menyayangi, saling mengerti dan saling memaafkan diantara kita. Insya Allah rumah tangga Ibu dan bapak akan sakinah.” Sekitar 15 menit Ustadz Ahmad memberikan nasehat pada mereka berdua. Ustadz itu merasa sudah membawa mereka pada rumah tangga poligami, maka ia pun harus benar-benar membekalinya, tidak bisa asal-asalan, jangan kesananya jadi hancur. Mereka berdua khidmat mendengarkan, tidak berani menyanggahnya, karena memang tidak perlu ada yang disanggah.

* * *

Setelah menasehati panjang lebar, Pak Ustadz muda itu kemudian melangkah lagi satu langkah.
“Nah sekarang, calon istri bapak yang baru tolong bawa kesini. Yang manggilnya Bapak. Ibu disini.”
“Panggil Pak Ustadz?” kata suaminya.
“Iya panggil. Bapak harus menjemputnya dan membawanya kesini.”
Dengan air mata yang sudah mengering di wajahnya, si Bapak berdiri dan pamitan pada istrinya dan Pak Ustadz. Ia berjalan dengan hati yang bekecamuk, antara senang dan haru. Bebannya merasa telah terpecahkan dan tidak menyangka kejadiannya akan mengharukan seperti ini. Rumah calonnya tidak terlalu jauh, tak lama ia datang berdua. Perempuan muda itu sebut saja Aisyah, masih dari lingkungan kampungnya.

Saat berjalan, calon istri keduanya kaget, bergetar dan ketakutan. Perasaan bersalah menghinggapinya. Bisa dibayangkan, ia diundang oleh Ustadz Ahmad ke rumah Pak Hasan yang selama ia menjalin hubungan dengannya. Ia merasa akan disidang karena merasa telah mengganggu rumah tangga orang. Apalagi, disitu ada istrinya Pak Hasan. Tapi, ketika menjemputnya, rupanya Pak Hasan berhasil meyakinkannya bahwa ia diundang justru Ustadz Ahmad akan memenuhi harapannya diperistri Pak Hasan.

Begitu masuk rumah, Bu Hasan dan Aisyah saling menatap. Mereka kaget sekali. Hah?? Rupanya mereka saling mengenal. Si Ibu sangat kaget, tidak menyangka sama sekali bahwa calonnya adalah orang yang dia kenal. Sesudah mengucapkan salam, pada kaget, melongo dan hatinya saling bertanya-tanya. Pak Ustadz itu menenangkan.
“Silahkan duduk. Siapa namanya?”
“Aisyah, Pak Ustadz.” Jawabnya pelan.
Perempuan itu wajahnya lumayan tapi tampak sudah berumur. Dengan malu-malu dan ketakutan, ia duduk di sebelah Ustadz Ahmad.
“Begini ya Aisyah… Tenaang yaa… Jangan takut. Ini bukan musibah, ini justru barokah. Pertemuan ini Insya Allah barokah.” Kata Ustadz menenangkan.
“Naah… Aisyah,” kita semua disini sudah mengetahui niat dan keinginan Bapak ini dengan Aisyah. Pak Hasan sudah mengutarakannya kepada Ibu secara terbuka. Ibu sudah mendengar semuanya. Tadi mereka sudah berangkulan saling mengikhlaskan. Walaupun terasa berat, Ibu sudah mengikhlaskan menerima niat Bapak dengan Aisyah.”
Aisyah sangat kaget. Ia bingung dan perasaan tidak menentu mendengar penjelasan Ustadz Ahmad. Rencana, keinginan dan bayangan dinikahi Pak Hasan musnah sejenak disitu. Yang ada adalah perasaan sangat malu pada Bu Hasan.

“Nah, sekarang sudah kumpul. Disaksikan ibu, bapak sekarang silahkan utarakan maksud Bapak kepada Aisyah!” Instruksi Ustadz itu. Sambil merasa berat karena disaksikan istrinya, Pak Hasan berkata, “Neng, maafkan Bapak ya… Bapak ingin mewujudkan niat kita itu. Dari pada kita sembunyi-sembunyi, daripada kita tertutup mendingan terbuka begini. Selesai pengajian tadi, Bapak nanya sama Pak Ustadz Ahmad meminta nasehat jalan keluarnya. Ternyata Pak Ustadz menyelesaikannya dengan jalan seperti ini. Benar-benar diluar dugaan. Tapi, Bapak merasa lega sekarang karena istri bapak sudah mengijinkan. Tapi, Bapak terserah Neng, mau syukur, tidak juga tidak apa-apa. Bagaimana, Neng menerima Bapak tidak?”

Wajah Aisyah tampak pucat dihinggapi rasa malu. Lidahnya terasa berat dan kelu. Ia seolah tak sanggup berbicara, ia merasakan betul berada pada pihak yang salah telah mengganggu keluarga orang. Tapi, ia juga tidak mungkin mendustai perasaannya dan mementahkan apa yang sudah direncanakannya dengan laki-laki yang sudah beristri itu.
“Ayo bu…, dijawab saja, tidak usah malu-malu. Ini adalah kebaikan. Biar menjadi jelas..!” Pinta Ustadz Ahmad.
Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya keluar juga kata-katanya. Matanya berkaca-kaca.…
“Pak Ustadz, saya malu, merasa sebagai pihak pengganggu. Saya benar-benar mohon maaf pada semuanya, terutama pada ibu. Saya pasrah saja, saya ikut saja, pada keputusan bapak dan ibu.”
“Ya sudah,” Ustadz cepat-cepat menukas. Ia memaklumi Aisyah berada pada posisi yang tidak enak. “Tidak perlu merasa malu. Kebaikan sudah dibuka dirumah ini. Aisyah sudah diterima oleh Bu Hasan untuk turut mendampingi Bapak.”
“Sekarang, giliran Ibu bicara sama Aisyah.” Pinta Ustadz Ahmad lagi, “silahkan, ungkapkan perasaan Ibu. Apa yang ingin Ibu sampaikan.”

Si Ibu juga berat, lidahnya terasa kaku. Sangat susah ia megeluarkan kata-kata. Walaupun sudah menerima, perasaannya masih tidak menentu. Ia kemudian menangis lagi. Nafasnya tersengal. Ia sedang berjuang mengalahkan perasaannya. Kedua perempuan ini duduk berhadapan. Ia sudah menyatakan rela atas keinginan suaminya yang berarti ia harus menerima perempuan muda yang ada dihadapannya itu. Kemuliaan perempuan ini lebih besar dari egoismenya memiliki penuh suaminya. Ketaatannya sebagai istri telah mengalahkan nafsunya untuk mengikuti bisikan menolak niat  suaminya. Kerelaan dimadu adalah kekuatan mengalahkan diri sendiri. Dan itu berat. Karena itu hanya sedikit perempuan yang sanggup menerimanya. Kebanyakan adalah perempuan biasa, yang dengan kesadaran umum ia menolak mentah-mentah bahkan tak sungkan-sungkan memilih cerai daripada dimadu. Kekuatan diri dan kebesaran jiwa tidak dibentuk oleh tingkat pendidikan dan pergaulan modern melainkan oleh sikap penerimaan, keikhlasan dan kepasrahan yang tinggi melalui tempaan pengalaman hidup. Bu Hasan sedang menunjukkan kekuatan itu pada perempuan muda dihadapannya. Sambil terisak, ia berkata berat: “Te.. rus… tee… raang… huu…hhuu…hiks….hiks. Ibu  kira bukan Eneng orangnya. Hik…hik…hiks… Ibu sering melihat Eneng. Ibu bukan Eneng… Tapi, ya sudaah… Ibu pesen saja… kita urus sama-sama si Bapak ya Neng… Eneng jangan sayang sama Bapak saja… Eneng harus sayang juga sama keluarga dan anak-anak ya Neeng … hik…hik… hiks…”

Mendengar kerelaan yang diungkapkan dalam suasana haru saat itu, Aisyah bukannya senang, tapi malah tak kuat menahan perasaannya. Ia pun meneteskan air matanya, terharu. Ia menjatuhkan kepalanya pada pangkuan Bu Hasan. Suasana jadi semakin haru.
““Huu … huu…. hiks… hiks…  Maafkan saya Bu… Maafkaan… Sekali lagi ma.. aaaf…!” Jawab perempuan muda itu tersedu-sedu takluk pada kemuliaan hati bu Hasan.
“Ya cukup… cukuuup…” kata Ustadz Ahmad yang juga matanya basah melihat adegan ini, “Alhamdulillah … Pernyataan bersedia sudah pada keluar secara jujur dan terbuka dari ketiga belah pihak. Insya Allah ini akan menjadi awal yang baik dalam membangun rumah tangga. Insya Allah, saat ini Allah sedang menurunkan barokahnya di ruangan ini. Air mata kepasrahan ibu berdua adalah saksi atas turunnya rahmat Allah hari di rumah ini. Alhamdulillah… kita dijauhkan dari suasana amarah dan emosi, tempatnya syetan menyelusupkan bisikan godaannya.”

“Sudaah… bu yaa… antara ketiga pihak ini sudah merelakan.” Kata Ustadz Ahmad.
“Tapi maaf,” pikiran Ustadz itu menghentak lagi, “ini belum selesai. Sekarang saya minta, tolong panggilkan kedua orang tua Ibu alias mertua Pak Hasan. Yang manggilnya Bapak. Tolong harus hadir disini. Bilang saja saya yang memintanya. Mohon dengan sangat gitu!”
“Pak Ustadz, maaf, kenapa mereka harus dipanggil juga?” Pak Hasan nampak keberatan.
“Oh iya, harus!” Tegas Ustadz. “Keluarga harus tahu semuanya biar tidak ada fitnah diantara saudara. Kita sudah mengawali dengan langkah yang baik, dengan keterbukaan. Semua keluarga harus tahu biar tidak ada fitnah dan ghibah dalam keluarga. Caranya harus seperti ini. Para orang tua juga harus dihadirkan untuk memberi tahu dan meminta do’anya.”

Semuanya pada kaget, tak menyangka dengan langkah Ustadz Ahmad. Tapi, karena Pak Hasan yang menginginkan pernikahan ini, ia menuruti juga.
Ketika ia melangkah pergi, Ustad Ahmad memberi tugas juga pada istrinya. “Naah… Ibu. Maaf, tugas Ibu tolong hadirkan juga orang tuanya Bapak atau mertua Ibu. Ibu ini istrinya bapak. Harus lengkap semua supaya pernikahan ini menjadi barokah buat semuanya.”
Si Ibu kaget juga, tapi suasana haru saat itu tidak membuka ruang berfikir, yang ada adalah ketaatan pada Ustadz muda yang meyakinkan ini. “Baik Pak Ustadz,” Bu Hasan pun melangkah pergi menjemput mertuanya.
Orang tua Pak Hasan rumahnya cukup dekat. Sekitar setengah jam sudah tiba. Sedangkan orang tua Bu Hasan agak jauh. Sekitar dua jam Ustadz Ahmad menunggunya. Menjelang maghrib mereka semua sudah kumpul. Drama itu diselang dulu oleh shalat maghrib berjama’ah yang dipimpin oleh Ustadz Ahmad sendiri.

* * *

Orang tua Bu Hasan masih lengkap, sedangkan orang tuanya Pak Hasan tinggal bapaknya. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Yang datang jadi bertiga. Usia mereka rata-rata antara 70-75 tahunan. Selesai shalat magrib berjama’ah, Ustadz Ahmad rupanya masih menugaskan kedua suami istri itu, Pak Hasan dan istrinya, dengan tugas baru.
“Pak, Bu, orang tua Bapak dan Ibu masing-masing sudah hadir. Sekarang maaf, orang tuanya Aisyah juga harus dijemput. Mereka harus dihadirkan. Keduanya harus datang kesini, yang menjemputnya Bapak dan Ibu berdua. Maaf Pak, Bu yaa… harus begitu.”

Suami istri itu kaget dan bingung. Mereka celingukan. Langkah ustadz itu benar-benar diluar dugaan. Ia memberikan tugas berat terutama bagi bu Hasan. “Menjemput mertua calon maru? Mertua istri muda? Aakhh… betapa beratnya,” bayangan Bu Hasan. Bila menggunakan nafsu, ia ingin mengatakan, “enak benar si Bapak! Sudah diizinkan, dijemput lagi oleh Ibu lagi. Kira-kira dong Pak!! Pakai perasaan.” Itulah fikiran yang diliputi hawa nafsu. Tapi tidak begitu menurut kebenaran. Yang benar adalah para orang tua ini memang harus hadir mengetahuinya karena ini pernikahan poligami, yaitu suami beristri menikah lagi dan diizinkan oleh istrinya. Suasana saat itu sudah tenggelam dalam ketaatan pada Ustadz yang mengatasi masalah pelik ini. Langkahnya dari awal sudah meyakinkan. Permintaah Ustadz Ahmad tidak mungkin dibantah dan proses kemuliaan sedang berjalan, tidak mungkin dimentahkan. Tidak mungkin ada penolakan. Kesediaan mereka berdua menerima istri muda harus dituntaskan. Suami istri itu pun berjalan lagi keluar rumah menuruti instruksi Ustadz Ahmad.

Untung rumahnya tidak jauh. Pak Hasan mungkin agak gembira dalam hatinya. Tapi istrinya? Anda bisa membayangkannya sendiri. Ia harus dengan rela menjemput orang tua “pesaingnya,” seorang perempuan muda yang akan mengambil sebagian hati dan cinta suaminya. Tapi, lagi-lagi, perasaan itu tidak muncul, terhapus oleh kaharuan suasana dramatis sejak tadi siang. Malah, saat mulai melangkah, ada sebuah kesadaran halus hinggap ke kedalaman sanubari Bu Hasan: “Kalau saya sudah rela, kenapa harus merasa berat?” Ia pun terus melangkah. Betapa mulianya perempuan itu. Hari itu, kemuliaan dan ridha Allah sepenuhnya milik istrinya. Sepenuhnya berhak disandangkan pada istrinya sebagai pakaian kebesarannya, Bu Hasan yang berhati mulia.

* * *

Sekitar 20 menit, mereka datang berempat. Orang tuanya Aisyah tampak bingung dan tidak mengerti. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka memenuhi saja undangan Pak Hasan dan istrinya yang disebutkannya permintaan Ustadz Ahmad. Kedua orang tua Aisyah mengetahui Ustadz itu sering memberikan ceramah dan menjadi panutan di daerah itu. Ustadz itu misterius karena tak seorang pun dari ribuan jama’ahnya, termasuk di daerah itu, tak mengetahui jelas identitasnya, alamatnya, rumahnya dst. Yang mereka tahu, Ustadz itu datang jauh dari Bandung, masih muda, banyak keanehan, selalu datang sendirian dan tak membawa apa-apa, tidak pernah membawa kendaraan, sering berkunjung ke daerah itu dan memberikan pengajian yang berpengaruh pada jama’ahnya. Setelah itu menghilang. Sering datang lagi dalam waktu yang tidak terduga. Ustadz itu hanya pernah menceritakan bahwa statusnya sebagai pengajar di pergururan tinggi Islam di Bandung, tapi mengaku sebagai orang biasa-biasa saja. Begitulah ia dikenal jama’ahnya di pelosok-pelosok Banjar, Ciamis, Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Cicalengka, Banjaran, Bandung dst, bahkan juga di daerah Jawa Tengah.

Ia berkeliling ke daerah-daerah itu membina jama’ahnya yang sudah ia bangun hingga masyarakat yang lokasinya sulit dijangkau kendaraan dan daerah pegunungan. Masyarakat yang ia bina sudah terikat dan mencintainya karena ketulusannya, kelebihannya dan keanehannya sekaligus. Mereka yakin, ustadz ini bukan orang biasa. Ketika ia tidak ada, mereka merindukannya. Dan ketika Ustadz itu datang, masyarakat saling memberitahu secara otomatis dan tak lama kemudian berkumpul. Saat-saat tertentu, jama’ah yang berkumpul bisa mencapai ratusan yang datang dari berbagai desa. Ustadz itu bila perlu berhari-hari ada di sebuah daerah. Yang jama’ahnya ketahui dari Ustadz Ahmad adalah keanehan tidak pernah mau menerima honor ceramah, kalaupun menerima ia minta langsung dibagikan ke fakir miskin yang ada disitu, jarang makan berhari-hari dan jarang kelihatan tidur. Bila berkumpul dua tiga hari, orang bisa membuktikannya ia tidak tidur selama itu. Yang keluar dari mulutnya selalu nasehat, kalimat-kalimat penyadaran dan ajakan pada kebaikan.

Sambil masuk ke rumah Pak Hasan, mereka berempat mengucapkan salam. Orang tua Asiyah itu semakin bingung melihat anak perempuannya ada disitu. Ada apa gerangan? Jangan-jangan niat Pak Hasan untuk menikahi anaknya terbongkar oleh keluarganya dan jadi masalah. Tempat duduk sudah diatur agar semuanya mendapat kursi. Mereka melingkar di ruang tamu yang saat itu menjadi sempit karena sekitar 15 orang berkumpul. Ada beberapa anggota keluarga Pak Hasan yang turut menyaksikan drama itu sejak awal. Anaknya Pak Hasan pun dihadirkan. Yang satu laki-laki masih usia SD, satu lagi perempuan usia SMA. Hari itu benar-benar hari yang istimewa. Sebuah peristiwa luar biasa dan amat langka sedang terjadi di rumah itu. Saat itu pukul 20.00 lebih 15 menit.

“Nah, alhamdulillah sekarang sudah kumpul semuanya. Kita mulai lagi.” Ustadz Ahmad membuka agenda selanjutnya. Kepada para pasangan mertua, Ustadz Ahmadi memfokuskan pembicarannya.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat. Maaf sebelumnya saya telah mengganggu Bapak dan Ibu semua. Pasti bertanya-tanya, ada apa ini, kan?? Tidak perlu kaget, bapak-bapak dan ibu-ibu semua dikumpulkan disini adalah untuk satu urusan penting. Bapak-bapak dan ibu-ibu adalah satu keluarga besar. Saya meminta waktunya. Ini untuk kebaikan bersama, kebaikan kita semua, terutama keluarga besar Bapak dan Ibu Hasan disini.”

“Begini… Pak yaa…. buu…” Ustadz Ahmad agak tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya, ia senang telah berhasil mengumpulkan para orang tua ini.  Ia kemudian menceritakan yang sudah terjadi dari A sampai Z. “Sekarang, alhamdulillaah…. Pak Hasan sudah siap, Bu Hasan pun  sudah tahu dan ridha walaupun masih terasa berat ya Bu…?? Hehehe….” ujar Ustadz melirik ke Bu Hasan. Bu Hasan hanya tersenyum lirih. “Aisyah pun sudah menerima kesepakatan Pak Hasan dan Ibu. Tadi mereka semua sudah berbicara langsung dan terbuka. Insya Allah ini akan menjadi barokah buat kita semua. Pernikahan ini Insya Allah akan menjadi pernikahan yang penuh barokah. Naah… Tapi bagi saya, pembicaraan dan keterbukaan antara mereka bertiga belum cukup. Untuk itulah saya mengumpulkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya sekarang disini. Begitulah Paak, Buu, ceritanya …”

Para orang tua itu pada kaget. Reaksi para mertua ini berbeda-beda. Ada yang khawatir, ada yang tersenyum, ada yang kesal, ada yang merasa aneh dan sebagainya. Yang jelas semuanya kaget dan merasa aneh dengan peristiwa ini.
“Naah… sekarang Bapak harus meminta ridha para orang tua ini,” kata Ustadz kepada Pak Hasan, “ibu-ibu dan bapak-bapak ini semua adalah orang tua Pak Hasan dan Bu Hasan sendiri. Mertua itu hanya status sosial dan ikatan hukum, hakekatnya adalah orang tua kita sendiri. Kita harus menghormati dan memperlakukam mereka ini sebagai orang tua sendiri. Bapak harus menghormati mereka dengan meminta keridhaan dan memohon do’anya. Do’a orang tua pada anaknya Insya Allah makbul.”
Pak Hasan dan istrinya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Ustadz.
“Pertama, saya minta silahkan kedua orang tua Bu Hasan atau mertua Pak Ahmad yang menyampaikan perasaan dan pesannya kepada Pak Ahmad. Silahkan.”

Kedua orang tua ini bingung. Harus bilang apa? Belum habis kekagetan mereka. Tapi mereka tampak berusaha menenangkan diri. “Terima kasih Pak Ustadz. Saya sungguh tidak menyangka dan tentu saja kaget sebagai orang tua.  Hasan mau menduakan Titi, anak saya. Benar Ustadz, kami sangat kaget. Tapi, yaa… gimana lagi, terserah saja. Titi dan Hasan bukan anak kecil lagi. Mereka sudah pada dewasa. Kami sebagai orang tua merasa tidak berhak ikut campur pada keluarga anak saya. Yang penting, kamu Ti benar-benar siap dan sudah difikirkan matang-matang. Nak Hasan juga harus mikir masak-masak, apa benar-benar sudah siap dan sanggup adil dengan dua istri. Ingat, jangan sampai menelantarkan istri dan anak-anak gara-gara ada istri muda. Ibu dan bapakmu sih begitu saja. Ya bu ya?” kata mertuanya pak Hasan. Istrinya, hanya sedikit bicara dalam bahasa Sunda yang sederhana, datar dan cuek. “Ah, da kamu teh sudah pada tua. Ibu mah terserah saja. Asal jangan ditinggalkan saja sama suamimu. Makanya siap juga, kamu teh mungkin sudah memikirkannya.”

Setelah selesai, kemudian Ustadz Ahmad mempersilahkan mertua Bu Hasan, alias bapaknya Pak Hasan untuk berbicara. Orang tua ini agak lucu.
“Lain, maneh teh bener rek kawin deui? Pan geus kolot. Neangan naon deui atuh?” (Kamu bener mau kawin lagi? Kan kamu sudah tua? Mencari apa lagi?). Mendengar itu, ustadz hanya tersenyum.
“Iya Pak ya, padahal buat saya saja.” Kata Ustadz bercanda.
“Heueuh… pantes keneh keur si Jang Ustad!” (Iya lebih pantas sama nak ustadz).
Dalam suasana haru sejak siang tadi, rupanya hanya itu hiburan yang terdengar. Tapi, suasana haru tidak berubah. Ustadz Ahmad berusaha mempertahankannya.

Setelah itu, dipersilahkan pasangan orang tua Aisyah. Mereka agak kebingungan. Sama dengan perasaan Aisyah, mereka merasa pada posisi yang menganggu keluarga orang lain.
“Kalau Bapak dan istri, benar-benar minta maaf, anak saya telah mengganggu keluarga Pak Hasan dan Ibu. Saya tadi kaget disuruh datang kesini. Saya kira, saya dan anak saya mau disidang. Yaah… saya juga tidak mengerti. Anak saya belum ada jodohnya saja. Takdir Allah mah tidak disangka-sangka. Kalau mau dan sudah bulat siap dinikahi Pak Hasan terserah saja. Saya serahkan keputusannya pada anak saya saja. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendo’akan saja. Sekali mohon maaf pada semuanya, terutama pada Bu Hasan dan keluarganya.”
Terakhir, Ustadz memanggil anak perempuannya Pak Hasan yang masih SMA untuk mendekat. Sebut saja Salma. Anak ini, tahu Bapaknya akan menikah lagi, ketika diberi kesempatan mengungkapkan perasaannya malah menangis. Rupanya, sejak tadi ia menahan perasaannya.
“Khuu… hu….hu…. hiks…hiks….hiks…. Salma mah terserah Mamah sama Bapak aja. Tapi Salma takut Ibu ini galak. Jangan galak aja sama Salma dan adik.”

Ustadz segera menenangkannya. Sambil mengusap-ngusap kepalanya, ia menjelaskan:
“Salma sayang,” ujar Ustadz, “Salma sudah besar. Salma juga harus tahu ya, biar Salma cepat dewasa mengetahui persoalan orang tua. Salma harus menerima kenyataan ini. Do’akan agar Mamah dan Bapak selalu dilindungi Allah yaa…. Agar semua keluarga ini berada dalam kebaikan. Nah, ini harus jadi contoh, bila suatu saat Salma mengalami hal seperti ini, caranya harus seperti ini. Ini yang benar menurut agama.”
“Iya, Pak Ustadz,” jawab anak itu.

“Alhamdulillah… semuanya pihak di keluarga ini, tidak ada yang terlewat, sudah mengetahui dan memberikan pandangan dan persetujuannya. Bapak-bapak dan ibu-ibu keluarga besarm Pak Hasan yang saya hormati, beginilah seharusnya pernikahan poligami dijalankan. Kalau begini prosesnya kan enak ya ngga? Pak Hasan mengutarakan niat baiknya secara terbuka dan baik-baik pada istrinya. Istrinya tahu, menerima dan mengizinkan. Calon istri mudanya bertemu dengan istri pertama, saling merelakan, saling mengerti dan saling mendo’akan. Insya Allah menjadi barokah buat semuanya. Orang tua dari ketiga orang ini pun semuanya mengetahui, diminta do’a restunya, anak pun diajak bicara dan diminta pendapatnya. Tidak barokah bagaimana pernikahan kalau dijalankan seperti ini? Betul tidak Pak? Bu? Kalau orang menjalaninya seperti ini, Insya Allah, poligami tidak akan menjadi masalah, tidak akan buruk dalam pandangan orang dan keluarga bahkan akann mendatang rahmat dan kasih sayang Allah.”

“Banyak orang melakukan poligami dasarnya nafsu, caranya tidak benar dengan sembunyi-sembunyi, membohongi istrinya, berdusta pada keluarganya, perhatian, pemberian dan kasih sayangnya tidak seimbang. Atau, suaminya jujur dan terus terang, istrinya menolak mentah-mentah, pokoknya tidak mau. Akhirnya suaminya menjalaninya dengan sembunyi-sembunyi. Begitu ketahuan, ribut, sakit hati dan cerai. Kacaulah rumah tangga karena jauh dari tuntunan agama. Atau, istrinya menolak dan minta cerai  karena suaminya belum benar sebagai kepala keluarga, tidak memberikan pendidikan agama. Membimbing keluarga dan membahagiakan istrinya saja tidak, sudah ingin kawin lagi. Belum caranya pun salah, tujuannya hanya mengumbar nafsu, tidak terus terang, caranya menyakitkan istri dan seterusnya. Ya wajar istrinya marah, menolak dan minta cerai.”

Panjang lebar Ustadz Ahmad memberikan nasehatnya pada keluarga itu, sekitar satu jam. Soal keluarga, soal amanat, soal keadilan, soal tanggung jawab di akhirat, soal kepasrahan dan keikhlasan, pendidikan anak, rizki dll. Semuanya khidmat mendengarkan. Begitulah ia. Kalau sudah memberikan nasehat sulit berhenti. Kata-katanya terus mengalir. Nasihat-nasihatnya membuat kesadaran agama semakin mendalam, semakin terasa.
“Nah sekarang, tolong berdiri semuanya, berdiri melingkar,” pinta Ustadz Hasan lagi. Para orang tua itu kemudian berdiri berpasangan membentuk lingkaran.
“Pak Hasan, ibu dan Aisyah silahkan salaman berkeliling memohon do’a pada orang tua kita ini satu-satu, sungkem. Mintalah maaf atas kesalahan-kesalahan selama ini sebagai anak, mohonkanlah ampunan dan ridhanya. Mintalah restu akan menjalani rumah tangga baru dengan dua istri. Ayo Pak, Bu… dimulai oleh Pak Hasan.”

Pak Hasan diikuti istrinya dan calon istri keduanya menyalami mereka satu persatu. Dimulai kepada Utsadz Ahmad. Antara orang tua dan anak ini saling berangkulan dan berpelukan. Inilah puncak suasana yang paling mengharukan. Salaman dan pelukan mereka diiringi suara isak tangis. Saat bersalaman dan berangkulan satu persatu mereka semua tidak dapat menahan perasaannya. Akhirnya, semua yang hadir disitu tidak ada yang tidak menangis, semuanya menangis terharu. Ustadz Ahmad pun terisak menangis tak kuat dengan drama itu. Lingkaran itu adalah lingkaran tangisan dan banjir air mata. Semuanya tidak tahan mengekspresikan rasa harunya yang mendalam. Kedua anak Pak Ahmad pun sama. Bukan hanya suara isak tangis dan air mata, tapi kalimat-kalimat do’a dari para orang tua ini keluar dari mulutnya saat mereka merangkul anak-anaknya. Rangkulan dan tangis itu bukan hanya kepada Pak Hasan, bu Hasan dan Aisyah yang akan menjadi istri barunya, tapi juga antara para orang tua sendiri. Mereka saling merestui dan mendo’akan. Kalimat-kalimat do’a bergemuruh di ruangan itu, beterbangan naik ke angkasa, merobek langit dan membocorkan hujan rahmat dan ridha Allah ke rumah itu. Saat tangisan dan do’a para orang tua itu terungkap meridhai anak-anaknya, para malaikat penjaga ‘Arsy seolah pada berebut turun berhamburan menaburkan rahmat-Nya ke rumah itu.

Para orang tua itu sangat merasakan bahwa mereka adalah satu keluarga. Suasana sangat terasa penuh rahmat dan barokah. Yang paling tidak tahan rupanya Asiyah. Baru salaman ketiga, ia mulai lemas, keseimbangannya hilang dan tiba-tiba, “Gedebuk…. gupraak…!” ia jatuh pingsan. Orang-orang kaget. Ada suara tangisan yang mengeras, rupanya dari Ibu kandungnya sendiri. Ia segera memburu dan memeluknya, takut terjadi apa-apa pada anaknya. Tapi Ustadz Ahmad segera menenangkan.
“Biarkan…. Biar….. biarkan Bu!! Tenang saja. Tenang. Tidak apa-apa!! Ia hanya tidak tahan dengan suasana haru ini. Ibu tenang saja, tidak usah khawatir.”
Setelah beberapa menit dipangkuan ibunya, Ustadz melintaskan telapak tangannya di atas muka Aisyah, mengalirkan energi. Perempuan kemudian sadar kembali. Ustadz meminta memberinya minum. Ia dipapah dan didudukkan di kursi. Semuanya kemudian duduk kembali dengan  mata yang pada memerah oleh air mata. Ustadz menenangkan mereka semua dan mengajak mereka bersyukur atas peristiwa yang penuh rahmat dan barokah Allah itu.

Setelah semuanya tenang dan meraih minumannya masing-masing,  Ustadz berkata pada Pak Hasan:
“Naah… sekarang kembali ke Bapak nih. Bagaimana rencana bapak selanjutnya? Jangan dilama-lamakan mumpung suasananya masih hangat.”
Pak Hasan berfikir sejenak kemudian berkata:
“Ustadz, saya mungkin tidak bisa menyelenggarakannya buru-buru. Harus ada persiapan dulu.”
“Oh iyaa.. jelas.” Jawab Ustadz. “Begini saja, akadnya harus secepatnya. Kalau bisa besok. Toh yang diundang hanya keluarga saja dan tetangga dekat. Walimahnya boleh nanti lagi, minggu depanlah.”
“Kalau begitu bisa Ustadz. Insya Allah. Gimana Mah setuju? Neng?” Kata Pak Hasan melirik istrinya dan kepada Aisyah.
Kedua perempuan ini menganggukkan kepalanya. “Iya… terserah Bapak aja. Lagian mumpung ada Pak Ustadz disini, terserah Pak Ustadz saja.” Kata Bu Hasan.
“Terus kami ada permintaan nih. Tolooong…. Pak Ustadz tidak keberatan. Kami mohon Pak Ustadz menghadiri.” Pinta Pak Hasan. “Soalnya, Pak Ustadz ini, biasa.., begitu beres pengajian, tiba-tiba menghilang saja. Susah dicarinya.”
“Insya Allah… Saya akan hadir.”

Akhirnya disepakati, akad nikah diselenggarakan esok harinya. Pak Hasan diminta mengundang semua keluarga, tatangga-tetangga dekat, juga segera mengontak na’ib alias yang akan menikahkannya. Tempatnya di rumah itu juga. Ustadz malam itu tidak pulang, ia ditahan oleh Pak Hasan untuk menginap disitu. Biasanya, ia menolak dan mencari tajug atau langgar bilik yang sepi dan menghabiskan malamnya disitu dengan tidak tidur sampai pagi. Atau, biasanya ia mencari rumah gubuk fakir miskin yang dihuni sepasang kakek dan nenek. Ia bertamu dan menghibur mereka dengan obrolan agama dan nasehat. Ia memberikan uang yang ada disakunya untuk sekadar membeli beras dan ikan asin lalu menyantap bersama fakir miskin itu sambil akrab bercengkrama. Ia ikut mencuci piring, menyapu atau membantu mereka seadanya. Banyak pasangan kakek nenek menganggap tamunya ini orang aneh. Dandanannya orang kota tapi bertamu ke gubuk di kampung yang dihuni orang tua seperti mereka, mau ngobrol semalaman, memberikan nasehat dan mau tidur beralas tikar. Ada sepasang kakek nenek daerah Bandung selatan yang menyebutnya ‘malaikat’ karena keanehannya itu. Ia sangat merindukan orang aneh ini. Begitu datang lagi, kakek nenek itu memeluknya, menangis, karena merasa seperti kepada anaknya sendiri. Anaknya sendiri malah pada sibuk dikota jarang menemuinya. Begitulah, Ustadz itu lebih merasakan kenikmatan di tempat seperti itu daripada di rumah mewah tapi hawanya ia rasakan panas karena banyak dari uang dan harta mereka didapatkan dengan cara yang kotor dan tidak halal.

Esoknya, jam sembilan pagi, keluarga Pak Hasan dan para tetangga dekat sudah hadir. Setelah segalanya siap, acara akad pun dilangsungkan. Ustadz Ahmad sendiri yang diminta memberikan khutbah nikahnya. Pernikahannya sungguh mengharukan dan yang hadir pada berdecak kagum. Mereka tak habis pikir, bagaimana Pak Hasan menikah lagi dengan istri muda, bukan hanya direstui istrinya bahkan hadir dan mendampingi suaminya. Mereka tak habis pikir bagaimana pernikahan poligami bisa seperti itu. Mereka kagum kepada Bu Hasan bisa semulia itu sebagai istri. Tentu saja itu sebuah pemandangan luar biasa. Akhirnya, semuanya memuji Bu Hasan. Rasa kagum dan salut semuanya mengarah kepada Ibu itu. Ustadz pun mendengarkan semua keluarga dan tetangga memuji kesabaran dan ketabahannya sebagai istri. Ialah yang menjadi ratu dan primadona dalam acara itu. Selesai akad, semua orang menyalami mengucapkan selamat. Kekaguman mengalir kepada Bu Hasan atas  kebesaran jiwanya. Ketika yang hadir bersalaman satu persatu, kembali isak tangis terdengar lagi.  Sebuah pernikahan yang sangat mengharukan karena tampak tak seorang pun yang hadir tidak meneteskan air matanya.

“Buu… Ibu sungguh luar biasa. Sabar ya buu…. Ibu yang tabah ya Bu ….” Yang lain terdengar mendo’akan, “semoga Bu Hasan diberi kemuliaan di sisi Allah. Ibu…. Saya salut sama Ibu…” “Buu… Ibu sungguh luar biasa… jarang perempuan seperti ibu. Saya do’akan ibu kuat, sabar dan bahagia.” Mereka juga memuji Ustadz Ahmad. Mereka angkat topi pada ustadz muda itu bisa menghatur pernikahan poligami dengan proses sesempurna seperti itu. Seperti tadi malam, pernikahan itu dibanjiri do’a dan air mata oleh semua tamu undangan yang hadir.

* * *

Selesai acara, Ustadz dan keluarga baru itu berkumpul, ngobrol dan makan siang. Sebagian keluarga dan tetangga ada yang ikut ngobrol dan bertanya tentang riwayat pernikahan itu. Mereka penasaran dan tertarik ingin tahu. Sekitar dua jam kemudian, rumah itu sepi kembali. Maklum, yang hadir hanya keluarga dan tetangga dekat saja, jadi tamu tidak banyak. Ustadz Ahmad merasa tugasnya sudah selesai. Ia berpamitan akan pulang. Pak Hasan dan dua istrinya, orang tuanya, keluarganya dan semua orang yang masih ada, otomoatis berdiri semuanya dan mendekati Ustadz Ahmad. Wajah Pak Hasan tampak sumringah. Ia senang sekali. Bu Hasan sudah berkurang bebannya dan ia semakin bisa menerima. Dan Aisyah, sedang sibuk bekerja beres-beres membantu Bu Hasan. Ia masih tampak kaku di rumah itu. Ia masih sedang menyesuaikan diri dan mengatur perasaannya. Maklum, itu di rumah istri tuanya. Tapi, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesenangannya. Ia tidak menyangka bayangan pernikahannya dengan Pak Hasan terwujud dengan cara penuh maslahat seperti itu. Ini semua tidak terbayang sebelumnya.

Semua keluarga itu tidak ada yang ketinggalan satu persatu mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga pada Ustadz Ahmad. Saat Ustadz tampak sedang berdiri siap-siap, Pak Hasan dan istrinya menghampirinya, mengucapkan kata terima kasih yang terakhir dan menyampaikan sesuatu: “Ustadz, mohon maaf saya tidak bisa memberikan apa-apa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya hanya bisa memberikan ini. Tidak besar sekadar untuk ongkos pulang. Mohon Ustadz menerimanya sebagai tanda terima kasih kami.” Sebuah amplop berisi uang Rp. 5 juta telah disiapkan Pak Hasan dan istrinya. Ustadz itu kaget. Mengetahui begitu, ia duduk lagi dan berkata:
“Pak, Bu, bukan untuk ini saya datang kesini dan membantu bapak dan ibu. Saya sama sekali tidak mengharapkan ini.”
“Tapi, Pak Ustadz …. Ini sekadar ongkos saja. Bukan hadiah atau apa, karena kami tahu, ustadz selalu menolaknya.”
“Sudahlah Pak.” Ustadz segera memotongnya, ia tahu Pak Hasan akan memaksanya agar ia menerimanya.
“Pak, ada orang-orang yang lebih berhak atas uang ini daripada saya. Siapa? Tuuh… orang-orang yang tidak mampu di sekeliling Bapak. Mereka tinggal dekat dan bertetangga dengan bapak. Maaf Pak saya tidak bisa menerimanya.”
“Sudah … begini saja,” Ustad itu menyambungnya, “agar pernikahan ini lebih barokah lagi, agar masyarakat disini mendo’akan keluarga bapak, agar keluarga bapak selamat dan bahagia, begini. Uang ini saya terima, tapi saya mohon bantuan Bapak, Ibu dan Aisyah ya? Tolong Bapak, Ibu dan Aisyah berkeliling ke tetangga-tetangga dan bagikan ini kepada mereka. Yang dekat jangan ada yang terlewat, tapi utamakan keluarga yang tidak mampu dulu. Besar kecilnya terserah silahkan diatur. Mau kan Pak? Bu?” pinta Ustadz, “Ini permintaan saya demi kebaikan bapak ibu semua.”
“Tidak …. Tidak… Pak Ustadz,” Pak Hasan keberatan. “Begini. Mereka itu sudah, sudah ada bagiannya. Tenang Ustadz… Ustadz tidak usah memikirkan itu, saya tahu. Nanti mereka ada bagiannya. Ini benar-benar untuk Ustadz, tolong diterima sebagai ucapan terima kasih kami.”

“Paak….. “ seru Ustadz Ahmad lagi, “Iyaa…. saya menerimanya dan saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan Bapak dan Ibu. Saya tidak menolaknya. Saya menerimanya nih. Tapi, saya ada permintaan pada Bapak dan Ibu. Tolong Bapak dan ibu bagikan uang ini kepada orang-orang miskin dan tetangga yang ada disini. Bapak dan Ibu mau tidak membantu saya?”
Dijelaskan begitu, pengantin baru tidak berdaya. Tidak ada pilihan lain kecuali menuruti permintaannya.
“Yaa… baiklah kalau begitu Ustadz, kami akan melakukannya.” Kedua istrinya pun, menyadari itu sebuah kebaikan, sama-sama bersedia.
“Pak tolong sekarang juga!”
“Sekarang Ustadz?”
“Ya. Mumpung pernikahan bapak masih hangat, tetangga itu semua akan senang dan mendo’akan bapak dan ibu dengan shadaqah ini. Insya Allah, ini akan menjadi barokah buat pernikahan bapak ini. Saya akan menunggu disini, tidak akan pulang sebelum Bapak dan Ibu selesai membagikannya.”

Tak berfikir lagi, mereka setuju. Mereka siap melakukannya. Ketiganya segera keluar rumah berjalan kaki beriringan. Sebuah pamandangan yang sangat indah sedang berlangsung. Pihak keluarga semua dan beberapa tetangga menyaksikannya. Sebuah pengantin baru poligami, berjalan bertiga beriringan. Suami diiringi kedua istrinya yang tua dan yang muda, berbusana muslimah, berjalan kaki membagikan shadaqah berkeliling ke tetangga-tetangganya. Ustadz Ahmad tersenyum puas menyaksikan shooting itu. Keluarga yang dirumah pun sama, senang dan gembira dengan pemandangan itu. Mereka semua menyaksikan dengan tersenyum pengantin hangat itu berjalan mesra sedang beramal atas dorongan Ustadz Ahmad. Semua berfikir, pastilah pengantin itu pengantin yang bahagia dan akan terus bahagia.

Setelah selesai semuanya, barulah Ustadz pamitan pulang. Pemandangan haru tak disangka terjadi lagi. Tak tahan “malaikat” itu akan pergi meninggalkan mereka, ketiga pengantin itu tanpa pikir-pikir memeluk Ustadz muda yang duda itu satu persatu sambil menangis. Mereka sangat sedih dengan kepulangannya. Pelukan itu kemudian diikuti oleh seluruh anggota keluarga yang lain, satu persatu. Tetangga-tetangga yang melihat adegan itu di halaman rumah Pak Hasan, kemudian pada datang dan memburu Ustadz muda itu. Mereka juga tidak ketinggalan, semuanya memeluk, sedih, mendo’akan, memuji dan ada juga yang meneteskan air mata.

Ustadz Ahmad segera menenangkan agar tidak sedih berlebihan. Ia menegaskan ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah orang biasa, kenapa harus sedih. Dan, ia pun toh hanya pulang ke sementara, nanti akan datang lagi. Yang datang, sedih, mengucapkan terima kasih dan menangisinya ternyata banyak sekali. Tetangga itu terus berdatangan satu persatu. Apalagi, jama’ah pengajiannya. Begitu mengetahui Ustadznya akan pulang mereka serentak saling memberi tahu, berkumpul dan menemuinya.  Ustadz itu serasa menjadi selebriti. Ia merasakan haru dan sedih juga tapi harus pergi.

Ustadz itu mulai berjalan dan terus berjalan diiringi lambaian tangan masyarakat dan jama’ahnya. Ketika ia membalikkan badannya pada jarak sekitar 15 meter untuk melambaikan tangan terakhir sebelum ia belok, ustadz itu kaget juga, yang hadir dan melepas kepergiannya diperkirakan lebih dari seratus orang. “Masya Allah, banyak juga,” pikirnya. Ia terus berjalan.

Sambil berjalan, ia merenung, sungguh tak menyangka akan melewati peristiwa drama mengharukan itu. Semuanya terjadi mengalir begitu saja, diawali ketika Pak Hasan mulai curhat kepadanya. Seperti dalam pengajian-pengajian rutinnya, jawaban-jawaban pemecahan masalah itu datang otomatis begitu saja ke dalam hatinya saat Pak Hasan mulai bertanya mengadukan masalahnya. Sambil terus berjalan,“aaaakhh….” pikirannya menerawang, wajahnya menatap langit, kedua tangannya ia angkat ke atas, menarik nafas panjang, “Yaa Allah, terima kasih. Semuanya Engkau yang mengatur.”[]

Bandung, 8 Januri 2009
Dari obrolan seru Ustadz Ahmad dengan penulis
sambil bercengkrama dan minum kopi panas.

About these ads

100 Responses to Kisah Nyata: Inilah Drama Pernikahan Poligami yang Sempurna dan Sangat Mengharukan

  1. FENNYDOANK says:

    Kang feny nongol lgi nih
    Btw, pasti ini artikel menarik, tpi belum sempet baca, salam kangeN AJA nih! lama ga ikutan di forum nya akang!

  2. Adang tea says:

    Maaf sobat saya baru sempet buka-buka web nya, bagus dan sering kontroversi

  3. Kristianti says:

    bagus artikelnya…saya sebagai perempuan juga pengen seperti bu hasan…berat tapi disitulah pahalanya…

  4. ilma says:

    assalamualikum…subhanallah..posisi aisyah seprti aku….kami perlu mencontoh sikap di atas…smuanyadpertmukan…..alhmdulilah…ada kisah yang ku ambil maknanya….wasalam

  5. Dudi says:

    sebarkan lah cerita ini kepada kaum perempuan jaman sekarang…. mudah2 an menjadi berkah buat anda.
    karena kebanyakan wanitan jaman sekarang sudah kurang reda nya.
    semoga yg membaca artikel ini dapat mengambil hikmah dari segala isi cerita ini. amin ya ALLAH
    btw adakah nomer HP ustadz tersebut?
    kalo ada tolong kasih ya saudara ku.
    081273412410 (tolong sms kan saja ke sini)

  6. baroedak says:

    Bismillah. Banyak orang yang mengatasnamakan “SUNNAH” dalam berpoligami. Tapi untuk menuju yang “SUNNAH”, mereka mengabaikan yang ” WAJIB” untuk dihindari sebagai non mahrom (Berkhalwat, berpandang pandangan, bersentuhan). Pilihan adalah konsekwensi. Kalau kita sudah menjatuhkan pilihan untuk menjalankan sunnah, konsekwensinya….kita harus terus istiqomah dan terus berada dalam bingkai sunnah. “DALIH” akan melahirkan “PEMBENARAN”. Tapi “DALIL” akan melahirkan “Kebenaran”. Barakallahu fiikum

  7. Ana says:

    Saya rasa kisah ini tidak layak untuk ditiru. Meski kelihatannya ridho, sang istri sebenarnya terpaksa menerima suaminya kawin lagi. Kecuali sang istri mandul. Istri menerima karena di bawah bujukan ustadz. Yang perlu diperimbangkan matang-2 adalah kehidupan setelah berpoligami. Sangat tidak mudah suami bertindak adil dalam membangun rumah tangga dgn dua istri. Jadi, kesimpulannya, tolong jangan digunakan alasan agama atau sunnah Nabi untuk berpoligami. Saya kira berpoligami merupakan sunnah Rasul yang tidak mudah dilaksanakan oleh seorang muslim pada zaman modern sekarang dan di masa depan. Hanya orang pilihan Tuhan yang dapat berpoligami dengan benar dan adil. Ingat itu … wahay lelaki!

  8. Dee says:

    Saya tidak setuju poligami dengan alasan apapun! apakah kaum lelaki tidak memikirkan perasaan istrinya?!

    Nabi saja menikah lagi ketika Khadijah meninggal…

  9. Ari says:

    assalamualaikum wr. wb.

    Boleh saya minta bantuannya teman-teman forum semua?
    Langsung aja ke maksud saya, Dalam rangka penelitian tentang poligami yang akan dilakukan oleh teman saya yang berasal dari Jerman, kami membutuhkan beberapa nara sumber yang bersedia untuk diwawancarai, yaitu wanita-wanita yang menjadi istri dari suami yang berpoligami.
    Sedianya wawancara tersebut akan dilakukan medio oktober tahun ini.
    Atas bantuan teman-teman semua, sebelumnya saya ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya.
    Jika teman-teman berkenan membantu boleh menghubungi e mail saya: aridwiky@yahoo.com
    Sengaja email tersebut saya publish agar banyak temen-temen forum yang mungkin ikut membaca.

    wassalamualaikum wr. wb.
    salam kenal

    Ari

  10. asep says:

    Heum lagi2 masalah laki2 beristri lebih dari (1) satu, tapi menarik juga jalan ceritanya..mudah2an kisah nyata ya…
    Bagi laki2 yang mampu, saya sarankan memang harus punya cobaan lebih dari satu (istri)…tujuannya jelas untuk menambah besar keimanan(tidak takut menegakan apa yang diperbolehkan oleh islam/karena kafir melarangnya)…dan menguji seberapa besar ke ihlasan seorang istri atas suaminya (laki2 punya kewajiban yg lain didunia ini selain mengurusi keluarganya/dawah dll)..
    saya kira (maaf), kalau ke imanan seorang istri sudah kuat..suami beristri lebih dari 1, malah membuat keuntungan bagi istrinya yang pertama atau yang kesekian karena akan lebih ringan membantu suaminya…maaf

  11. Joerfi says:

    Masya allah…. smoga menjdai kluarga ya sakinah mawaddah warahmah..

  12. ani saidah says:

    Subhanalloh….semoga menjadi keluarga samara. klo boleh…minta identitas/email ustadznya donk….mo konsul nih…

  13. tien says:

    subhahanallah….
    maha suci Allah yg telah mnciptakan bumi & isi nya….

  14. yutunita says:

    alasan yg trlalu mengada2, bntu sesama muslim lainnya kn ga harus dgn kawin lagi?..sebagaian besar cowo kawin lagi pst hanya karena dorongan nafsu, soalnya rata2 istri keduanya lebih cantik dan lebih muda, bener ga??..

  15. Nanda says:

    Insya Allah kemuliaan yg sama besar spt yg dberikan Allah SWT kpd Bu Hasan jg disandang oleh mamaku tercinta. Mamaku jg perempuan yg paling tangguh, beliau jg sangat ikhlas menjalani poligami sktr krg lbh 4 thn sbelum bapakku meninggal. Walaupun aq tau betul hatinya tersayat menangis…
    Semoga Allah meninggikan derajat mamaku, semoga aq msh sempat membahagiakannya.

  16. Desi says:

    Aku hanya bisa berdoa “Ya Allah jadikan jugalah hamba prn seperti ibu Titi yang punya kebesaran hati demi mendapat rahmat Mu ya Allah”. Bagi kaum prn didunia klu boleh berpesan hanya doa dan pengharapanlah yg bisa kita lakukan untuk menghadapi prilaku lk2, seperti kita tahu sebaik apapun niat lk2 untuk berpoligami itu tetaplah menyakitkan kt pr krn didlmnya pasti ada hawa nafsu seprti cerita diatas bagaimana seorang pak Hasan berusaha menutupi kebahagiaannya karena ‘kemenangan’ mendapat restu Ibu Titi untuk berpoligami,namun apalah daya seorang prn melawan hasrat poligami lk2 apalg dizaman seperti ini bg lk2 mau ridho atau tdk istrinya dia tetap pd keinginan “POLIGAMI”atau hanya sekedar “SELINGKUH” dan bagi prnnya mau sktkah atau sdhkah istri lk2 yg ‘diladeninya’ dia tetap pd hawa nafsu untuk bersama suami prn ln. Seperti pd certia diatas meskipun Aisyah turut menangis bersama Ibu Titi tapi dia tetapkan senang menerima rencana Pak Hasan, Syukur Aisyah masih Gadis,sementara dizaman skrg ini prn yg jelas2 sudah punya suami & Anak dengan kecukupan materi dr suaminya masih ada juga yg mau masuk dan mengganggu rmh tgga Prn lain. Jd itulah kenyataanya zaman sekarang, Akhlak sudah bergeser ,manusia tidak ada rasa malunya lagi, kita tdk bs mencegahnya sekali lg hanya bisa berdoa dan berharap kepada ALLAH agar bisa menjadi perempuan seperti Ibu TITI, agar bisa melawan sakit dan sedih krn perlakuan lk2.

  17. ahmad fan says:

    Mana ada mengikuti jalan Alloh jadi binasa ? Kalau mengikuti jalan akal manusia, akal cendekiawan orientalis, ya pasti. Pasti, pasti binasa.

  18. Istiqomah says:

    Subhanalloh…

  19. jul says:

    share y pak..

  20. zenii says:

    ahhhhhhhh..aku ga maau di poligami ;((

  21. agus says:

    allahualam….apa mungkin semua ini terjadi…..ya allah……hampir mirip dengan kisahku…….

  22. Fergie says:

    comment information here to see what else is here . really did it for me is all the interaction among posters at such good info… had to say thanks again! :-)

  23. iPad says:

    I have been meaning to write something like this on one of my blogs and this has given me an idea. Thanks.

  24. This is the best post on this topic i have ever read. I got the same sense from my son when we watched “Spider-Man 3” together, and Peter Parker gets the black suit and becomes the sinister Spider-Man.

  25. I tried to submit a comment earlier, although it has not shown up. I hope to develop a similar writing style to you one day.

  26. Sri says:

    Sakit hati wanita yang dipoligami, tak bisa dibungkam ayat Al Qur’an, wanita terpaksa berkata ikhlas karena takut dosa, meskipun imbalannya sorga rasa sakit itu tidak akan pernah sirna sepanjang hayatnya… bohong besar kalo ada wanita dimadu rela dan rido di belakang mah mewek..

  27. lina says:

    sungguh cerita yg mengharukn………..

  28. alya says:

    hiksz hiksz terharu bgt bacax.. duh ga kuat rasanya aq mjd wanita seprti itu.. mgkn hnya org pilihan yg dpt sprti itu

  29. NeeLan says:

    Subhanallah…

  30. wanita says:

    kami kaum wanita bukan hati fatimah yang bisa menerima dengan keihlasan yang sangat terpuji. nabi mempunyai alasan menikahi kaumnya termasuk dalam golongan tua coba tuh pa hasan suruh kawin sama nenek2 mau ga ?

  31. DWI says:

    50. Hai Nabi, Sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang Termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai PENGKHUSUSAN BAGIMU, BUKAN UNTUK SEMUA ORANG MUKMIN. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  32. naning says:

    subhanalloh, bisakah aku menjadi seorang aishah? atau mjd seorang fatimah yg tak mau dimadu krn calon madunya adlh anak abu jahal. insya Alloh aku bisa walau sgt sgt berat, asal suamiku nantinya adlh seorang yg bertakwa dan berkecukupan secara materi. kuatkan hati hamba ya Alloh…

  33. mochamad asom says:

    assalaamu’alaikum wr wb.

  34. mochamad asom says:

    ada nggak diantara ikhwan2 muda di sini yg mau menikahi nenek2 janda tua. insya alloh pahalanya besar banget… bukankah cinta tidak bersyarat, dia hanya memberi dan memberi. jika anda mengharapkan lebih (dari poligami) apakah itu sebagian dari nafsu, tidakkah hati kita tergerak untuk mencintai/menyayangi nenek tua yg ditinggal mati suaminya, kebutuhan ekonominya belum terpenuhi secara layak. jika anda mampu.. tolonglah mereka dengan lillaahi ta’ala, tolong nikahi mereka dgn segenap hati nurani anda. wallohu a’lam

  35. Hawa says:

    mochamad asom: Setuju banget w.

    Klo qt mo cek lagi, pak hasan kan kaya klo mang murni mo bantu bisa aja kan kasih pekerjaan ato pinjemin modal usaha gtu. Npa musti poligami?
    Pak ustadnya juga tuh, maksa abizzz.

  36. chos says:

    kejadianya di mana pak?? subang utara pagaden/pamanukan?? ustad ahmad perasaan saya kenal

  37. almas fairuz says:

    saya suka sekali artikel ini, terima kasih saudaraku…

  38. bhakti says:

    share Pak … trim ksh …

    Moef:
    Silahkan Bhakti, semoga bermanfaat!

  39. sri sukamti says:

    yah….suami tu cuma titipan alloh…qt jg bakalan meninggal…skt istri liat suami dengan wnt lain…mg aja suami yg poligami benar2 bisa adil biar di akherat ga pincang sebelah kakinya…

  40. yusi says:

    msh bnyak cara lain untuk mengumpulkan pahala…patuh pd suami tdk brarti hrs patuh dngan cara menganiaya diri/hati krn itu jg berdosa….dgn mengizinkan suami menikah lg..krn tdk ada wanita yg bnr ikhlas krn kita cm manusia bkn malaikat….dan warninggg bt wanita2 yg ingin menikah dgn suami orang…jgn jd kan ibadah untuk merebut suami orang…msh bnyak cara lain tuk beribadah,poligami di izinkan jika bs bersikap adil…manusia tdk akan bs adil…krn yg maha adil hanya ALLAH swt…jd jgn salah tafsir dgn poligami,,,bt ppara lelak,,kl memang mau beribadah contoh rasul…menikah dgn jandatua yg memang bnr2 membutuhkan ,,,bkn dgn gadis yg lbh muda dr umur ny,,,jgn jd kan agama sbagai topeng,,,memuaskan hasrat pribadi,berlindung di balik dalil agama,,

  41. lufy says:

    ALHAMDULILLAH, SULIT BAGI SAYA MEMBAYANGKAN HAL INI. SEBUAH BERKAH YANG SANGAT LUAR BIASA.

  42. Faisal_jaya says:

    Ha…ha…haa……di dunia ini ndak ada istri yang mau dimadu….ha..ha..ha..ngawur ni cerita. Subtansi Cerita itu juga patut dikaji ulang…jangan-jangan nanti digunakan kaum adam untuk menjustifikasi poligami. Kaum laki-laki itu…doyannya ngejar “fantasi” makanya akalnya kepada kaum hawa luar biasa. Coba kalau kondisinya yg dibalik, perumpuan “berpoliandri..!!!”…yakinlah segala…. dalil, hadist..hadist mulai dari yg jelas sampai yg samar-samar dikeluarkan buat membatalkan. By The way..kacian deh kamu wahai perempuan….Islam memuliakan kaum mu, tapi kami kaum laki-laki yang menistakanmu…nasib…nasib..

  43. arifah says:

    maha suci Alloh.sy skrng jg pd posisi spt ibu titi tapi suami sy msh dlm niatan..moga sy dpt mcnth keikhlsn ibu titi.memeng sulit n skt tapi sy akn b ush.smg Alloh membantu membimbing klrg kami tetap dlm aturan Alloh.shg qt akn sm2 menikmti surganya Alloh.amien

  44. Ahmad says:

    Penulis tolong sampaikan salam saya buat Pak Ustadz……..mudah-mudahan suatu saat saya dipertemukan dengan beliau dan mengisi Pengajian di tempat saya.

    Kang Moef:
    Boleeh .., kontak saya saja dulu. 08562051200.

    Salam.

  45. yane salam says:

    subhalloh ini cerita.. ini kisah nyata atau kisah fiksi yah ? …kisah yg sangat ideal…

  46. dea says:

    ass..aku minta tolong dengan sangat nich, cantum kan no hp ustad di blog ini . pleas dech

  47. dea says:

    ass..penulis tolong sampaikan salam saya bt pak ustad ahmad . aku kagum sm dia. kapan ya akku bisa bertemu dgn dia. sangat sangat sangat pengen banget silaturami sm pak ustad ahmad.

  48. dea says:

    penulis smpaikan salam ku bt ustad ahmad. aku kagum pada x, kapan aku bs bertemu dgn beliu, aku sangat sangat sangat pengen silatuhrahmi, tlong cantum no hp ak ustad di blog ini pleas dech

  49. dea says:

    tak ada se orang wanita yg mau di madu. itu suatu drama yg konyol, apalagi aku klu dengar suami kawin lagi telingaku langsung panas, paling aku benci yg nma x kt di madu, smoga sabar bu hasan ya smoga tetap menjadi istri yg baik slama x

  50. Moeflich says:

    Dea, boleh, silahkan kontak saya 08562051200.

  51. endy irawan says:

    subhanallah…
    mengharukan sekali ceritanya. saya sampai meneteskan air mata. subhanallah..maha suci engkau ya Allah.

    buat ustadz ahmad, saya ingin menjadi anda. amiin ya Allah..

  52. Nur says:

    Yang perlu diketahui lagi adalah kehidupan Pak Hasan – Bu Hasan – Aisyah selanjutnya sesudah pernikahannya Pak Hasan – Aisyah. Apakah Pak Hasan benar-benar bersikap adil dan Bu Hasan benar-benar ikhlas. Dan sebenarnya kalau niat Pak Hasan menolong Aisyah kan tidak perlu menikahinya…kan ada cara lain. Yang perlu dipikirkan juga bagaimana perasaan anak-anak Pak Hasan melihat ayahnya tiba-tiba menikah lagi. Jadi sebenarnya perlu pengkajian alasan Pak Hasan menikahi Aisyah dengan tujuan ibadah.

  53. Dicky BP says:

    Poligami memang banyak dialami pasangan selebritis seperti Kyai AA Gym , WS Rendra , tapi banyak dari mereka juga yang tidak happy ending apakah karena keberkahan dari Allah tidak ada ?
    Dan Poligami itu ada perkumpulannya lho!!
    Mudah-mudahan bagi mereka yang berani poligami mendapat ridho Allah SWT.
    Amin Yaa Robb

  54. mydea says:

    wah.., seru banget cerita poligami mudah2an banyak perempuan yg berpoliandri biar satu sama satu gitu lho!! jangan para laki2 x aja yg berpoligami

  55. evie says:

    y ALLAH mgkin klo sy tdk akan sanggup jk hrs dipligami………

  56. tom says:

    Saya tercengang membaca artikel ini, seakan tidak percaya apa benar masi ada org seperti Ustadz itu di masa sekarang ini. Walaupun saya non muslim tapi sangat besar keinginan saya untuk bertemu dengan Ustadz tersebut. Semoga Tuhan mengijinkan… Terima kasih TS atas artikel ini,sungguh bermanfaat utk saya

  57. sangat” tercengang ,ada percaya ad gk ,artikel yg sang luar biasa mnguras air mata hik ,salut tuk bu hasan ,iklas memang berat
    tapi dengn berusaha insay allah ada barokhanya .untuk sebuah pelajran yg sangt luar biasa.mksh bgt Ts dah berbgi artikel ini,smg bermanfaat untuk saya dan semua org.

  58. Gerizal says:

    Sebenarnya poligami pada zaman ayah&ibu atau kakek&nenek kita bukanlah masalah besar apalagi sampai di dramasir

    Itu karena adanya UU Perkawinan th 1972, UU dimana Ibu negara merasa cemburu terhadap suaminya. Sebagai Ibu negara, menabrak semua norma agama dan sosial islam, maklumlah waktu itu nilai dan pandangan agamanya berbeda dengan suaminya.

    Karena sampai sejak itu sampai kini, tidak ada yang berani merobah

    Sedangkan negara tetangga kita Malaysia, jauh lebih longar. Apalagi UU Perkawinan yg berlaku di Thailan Selatan, dimana agama suku bangsa Patani adalah Islam yg berbeda dgn kebanyakan masyarakat disana, Juga di Philipina Selatan

  59. Ijin share ya Pak….. Maksaih

  60. mus5wati says:

    saya rasa masih banyak amalan2 dlm islam yg belum kt laksanakan ketimbang memilih amalan pogami yang paling tidak sedikitnya meyakitkan hati isteri dan ibu dari anak-anak kita, zaman Nabi berbeda kondisinya dgn skrng, zaman dulu siar islam baru dimulai dan perlu mempererat persaudaraan melalui pernikahan dan banyak janda yang ditinggal syahid oleh suaminya. di Indonesia ada lembaga resmi yang bs memutuskan seseorang boleh poligami atau tidk yaitu Pengadilan Agama, kenapa tidak mengunakan jalur tsb sehingga yang bs memutuskan boleh atau tidak bukan kita tapi hakim. Islam mengajarkan kita untuk tunduk kepada penguasa dan saya rasa cara-cara tersebut lebih bertanggung jawab dan lebih memberi banyak pembelajaran pada semua pihak, postifnya juga status isteri kedua akan lebih terhormat dan diakui secara resmi

  61. iwan999bton says:

    sangat_sangat menarik.

    terima kasih sudah berbagi cerita yg begitu indah ini..

    salam..

  62. dea says:

    ass,,numpang ngeblok di sini ya, bt para pedangdut organ tunggal mana aja, klu brpakaian jgn trlalu soronok gitu dong!! pakai baju x jgn buka2an, hargailah dangdut lain x, bukankah kita itu negara yg terkenal mayoritas muslim x, coba renungkan baik2 kita merasa malu di pandang naegara lain, bahwa indo nama x bs hancur klu orang2x klu dangdut brpkaian x pd gila2an, kita org indo ga ada harga x sm sekali , klu mau buka2an ada tmpat x , bkn di tempat hiburan yg trbuka bnyk anak kecil yg mnonton, mending joget x enak, musik x kebarat joget x ke timur, pd ngaca dong! indo benar2 hancur, nama dangdut bs rusak dn orang x pd bejadd!! kena orang x yg tdk brtanggung jawab, sungguh mnyangyangkan kita sbgai bangsa indonesia, boleh berpakaian dn joget x yg syah2 aja, ga usah ke barat2an parah!!! klu msih ada yg buka2an tutup aja,

  63. terima kasih … cerita yg indah ….

  64. ijin share ya Pak … terima kasih

  65. kan dar says:

    KOMEN DIATAS GW GA SETUJU TUHH… GW JUGA LAKI” MAN… ASLI, GW JUGA PUNYA PERASAAN, JUJUR KALAW MAU KAWIN LAGI, GW JUGA MAU, CUMA JANGAN BILANG ITU IBADAH. GW GA SETUJU BROO…ITUH MAH AKAL AKALAN ORANG MAU KAWIN LAGI AJA….hahahaaa, BUKAN CARI IBADAH BROO….JAMAN NABI BESAR MUHAMMAD S.A.W, MENIKAHI BANYAK ISTRI FAKTOR NYA : MENYATUKAN AGAMA ISLAM BIAR BERKEMBANG LUAS MENJADI AJARAN AGAMA TAUHID YG BENAR DARI ALLAH S.W.T. YG SEBENARNYA, NABI JUGA MENIKAHI PARA JANDA” DARI SAHABAT ROSULL ALLAH KARENA SEMATA – MATA MENAFKAHI ANAK” YG DITINGGALORANG TUA NYA MENINGGAL KARNA BERPERANG BERJIHAD MEMBELA AGAMA ISLAM, ITU JUGA ANAKNYA BANYAK BROO…KAN SUSAH KLW IBUNYA CARI MAKAN SENDIRI . BANYAK SIH ANAK NYA.. ITU NAMANYA BUKAN NAFSU. TAPI KALAU MAU CARI IBADAH COBA DEH JANGAN KAWIN LAGI, KASIAN ADA YG TERSAKITI. APA ITU BUKAN DOSA KALAW MENYAKITI SESAMA MAHLUK HIDUPP…… PIKIR SAJA BRO,

  66. i'm moeslem and i love peace says:

    ya Allah msh ada juga yg komentar negatif, padahal artikel tersebut jelas2 ingin mengangakat martabat seorang wanita. gak sedih liat wanita yg tinggal serumah tp tanpa ikatan, atau cuma nikah siri yg gak jelas hukum nya. atau mau ikut2 an aborsi apabila sudah kebablasan. cam kan itu wahai kaum wanita. kan uda diberi pilihan sama ustadnya, klo tidak setujukan juga gak di paksakan. berarti wanita tersebut lebih ridho klo suaminya SELINGKUH, daripada berterus terang.

  67. irma says:

    Kalau pak Hasan niatnya benar-benar ibadah, maka dia akan mencarikan jodoh buat bu Aisyah, bukan malah mengawininya. Kalau perlu, jodohkan bu Aisyah dengan ustadz Ahmad yang masih duda………………

  68. Mas Noers says:

    subhanalloh…….

  69. ramlah says:

    laki-lakipunya seribu macam alasan untuk mendapatkan yang di ionginkannya, poligami bukan untuk orang jaman sekarang, wanita slalu mengalah bagaimana jka istri yang poligammi, , si suami rela gak??
    ustad sekalipun gak berhak berkilah dengan alasan membantu, toh masih banyak jalan lain… .

  70. fujiyama says:

    subhanallah
    semuanya atas izin allah
    perjuangan mengalahkan keegoisan,perasaan..

  71. gkjelas says:

    weee….sy baca komen di sini.cw2 nya kyknya ud siap di madu nih….mau dong kawin 3 hahahaha…..siapa sih yg iklas kalau suaminya tidur dgn perempuan lain di depan matanya…..ibadah macam apa ini….?sini deh biar sy maduin hahahaha……iklas ya kalau ngak masuk neraka loh,sy mapan jg,kuat jg,masi muda jg :P

  72. semua nya sdh jelas, dn saya setuju dgn ini, smoga berkah buat kaum mukmin, amin…

  73. renni says:

    bagaimana pun aku tdk setuju dgn poligami,,,
    kelak yg akan jd korban anak2 dari hsl pernikahan itu,,
    akan timbul kecemburuan???
    mengapa di islam membolehkan poligami,,
    pan bisa membantu orang dengan meringankan beban hidupnya,,
    tidak harus menikahinya,,
    yg ada membantu buat istri muda tapi menyiksa batin buat istri tua,,,

  74. ayuspita says:

    SETUJU ATAU TIDAK SETUJU, HIKMAHNYA HANYA DAPAT DICAPAI DENGAN KEIMANAN BUKAN AKAL MANUASIA!!!
    BAGI ORANG YANG BERIMAN TELAH DIWAJIBKAN UNTUK MASUK ISLAM SECARA KAFFAH(KESELURUHAN), KISAH NABI DAN ISTRINYA MERUPAKAN SURI TAULADAN BAGI KITA YANG HARUS KITA SADARI BAHWA MEREKA MAMPU BERKORBAN DENGAN HARTA DAN JIWA SESUAI DENGAN KEWAJIBAN KITA SEBAGAI MUSLIM DALAM ALQURAN UNTUK BERJUANG DENGAN HARTA DAN JIWA DEMI AGAMA.
    MEMANG WANITA YANG RELA DI POLIGAMI ADALAH WANITA PILIHAN YANG MEMPUNYAI KEIMANAN YANG HEBAT, NAMUN PERTANYAANNYA, APAKAH KITA ENGGAN MENJADI WANITA PILIHAN? APAKAH KITA ENGGAN MEMPUNYAI KEIMANAN YANG KUAT HANYA KARENA MENGIKUTI AKAL DAN NAFSU!
    SEDANGKAN NAFSU ADALAH KENDARAAN SYETAN, MAUKAH KITA TERJEBAK DAN BERKELAKUAN SEPERTI SYETAN YANG SELALU MENGENDARAI HAWA NAFSU.
    DARI PADA MEMPERMASALAHKAN NIAT SUAMI UNTUK APA DIA MENIKAH LAGI… LEBIH BAIK KITA AMBIL HIKMAH DARI SEMUA ITU! TOH KITA JUGA TIDAK INGIN KITA SEBAGAI WANITA KALAU SUAMI KITA TIDAK MENIKAH LAGI TAPI MEREKA BERMAIN GILA DENGAN WANITA LAIN DI BELAKANG KITA… BUKANKAH ITU MENJADI KERUGIAN YANG LEBIH BESAR?
    SEPANJANG BUKAN KARENA HOBBY DAN NIAT YANG TIDAK MASUK AKAL, LEBIH BAIK KITA MENCOBA UNTUK MENJADI WANITA PILIHAN…
    KITA JANGAN TAKABUR SEOLAH KITA TAHU BAHWA ITU BURUK, MENYAKITKAN DAN SEBAGAINYA… INGAT ITU ADALAH HAL YANG GAIB YANG KITA TIDAK TAHU…
    HANYA ALLAH YANG MAHA TAHU…
    KITA JALANI SAJA HIDUP SESUAI ATURAN AGAMA, ITU YANG MENGANTARKAN KITA KEPADA KEBAHAGIAAN DI DUNIA DAN DI AKHIRAT…
    BUKTIKANLAH OLEH KALIAN SENDIRI DENGAN PERKUAT SERTA BUKTIKAN KEPADA ALLAH AKAN SEBERAPA BESAR KEIMANANMU!!!

  75. Kiranaandilucya, says:

    Kisah menarik…Tak terasa air mataku ikut menitik…

  76. hanya wanita bodoh yang mau dimadu,

  77. bahterasajak says:

    Islam itu monogami. Poligami merupakan pintu darurat. Jadi dari kisah di atas apanya yang darurat? Kesannya maksa biar bisa berpoligami. Kalau memang ingin mencarikan jodoh, carikan saja laki-laki atau pemuda yang mau menikahinya. Satu hal lagi, untuk yang ingin berpoligami, tidak hanya segi syariah agama yang harus diperhatikan tetapi sisi sosial juga. Benar, Pak Hasan menolong, tetapi sisi lain juga menyakiti.Maaf, kalau ada yang kurang berkenan dengan komentar ini.

  78. lalalape says:

    mendingan jadi janda dr pda di mdu

  79. Asep Umbaran says:

    isi cerita bagus tuk contoh bagi yg merasa dirinya beriman ,akan tetapi ada juga di antara pembaca yg tak setuju dgn poligami walaupun kita terangkan apapun bagi yg tak Beriman tetap aja menolak namun kiranya bagi rekan2 yg se Iman se agama Islam memang tuk menuju Ridho Alloh dan makin di sayangi Nya kita harus kuat dan tabah konsekwensi nya kita harus taat apa perintah dan aturan yg telah di tetapkan Alloh S.W.T, ke Imanan mau ningkat harus mau di Uji Oleh nya bagai petinju aja pingin kuat dan menang dalam pertandingan harus mau menerima pukulan mau tak mau kalau lah kuat pasti kita bisa menang.jadi Di dunia ini bagi manusia adalah tempat latihan dan ujian kalaIman kita kuat syorgalah balasan nya bagi yg tak kuat neraka lah tempatnya ,memang jalan ke syorga penuh dgn duri kenapa karena agar kita selalu hati2 dalam melangkah agar jangan menyalahi atas apa yg Alloh perintah dan larangan nya ,kalau ke neraka bagai jalan tol tak ada rintangan hingga kita terlena maut senantiasa menjemput Ayo mari kita tingkan ke imanan kita dgn banyak menambah ilmu agama dan senantiasa mengamalkan nya walaupun terasa berat karena setan selalu menggoda dgn segala cara , janganlah segala sesuatu di samakan yg kita lihat senang belum tentu bahagia yg susah belum tentu merana mendingan kaji dan tela ah diri kita sendiri yg penting bagaimana kita hidup berguna bagi orang lain hehe wasalam prikitiw

  80. nenk says:

    Bagi istri yang sabar ketika dipoligami betapa nikmat yg sangat besar dy dapatkan,,,pujian,kemulian dan doa kebaikan manusia berikan kepadanya atas kesabarannya,,,itu adalah nikmat yang Allah tunjukkan didunia kepadanya, dan kita tidak akan pernah tau nikmat terbesar apalagi yang akan Allah berikan kepada istri yg bersabar kelak diakhirat??

  81. arafik says:

    assalamualaikum…..

    afwan anna numpang lewat….massyaalloh kisah seperti ini bukanlah satu atau dua kali anna saksikan,,,terlebih dengan hadirnya sosok malaikat yang mengiringinya….semoga menjadi bahan renungan,,,”mastna wa stulasta wa ruba`.”

  82. Nugie says:

    Cerita yang menarik. Alhamdulillah. Tapi yang lebih menarik adalah respon yang berbeda dari para pembaca, sekalipun mungkin sama-sama mengaku muslim. Wallahu’alam.

    Ada yang menerima dengan lapang dada “halal” nya poligami, ada yang berkelit dengan beribu alasan, sesuai nalar dan gengsinya, ada yang menolak mentah-mentah bahkan mungkin kufur dengan ayat-ayat Allah. Astaghfirullah.

    Saya hanya ingin berdoa semoga Allah SWT menurunkan hidayah-Nya bagi mereka yang belum bisa membedakan mana perkara halal dan haram di dalam Islam. Dan, khususnya bagi mereka yang masih benci dengan Islam.

    Bagi yang ridho dengan ketentuan Allah, semoga tetap istiqomah.

  83. fenny says:

    hueks, bicara tentang poligami, dan membaca semua argumen yang menyetujui poligami bener-bener bikin muntah! Kayak kalo pada ngomongin dosa putih, bohong putih, sesuatu yang pada dasarnya salah tapi di buat bagaimana caranya agar terlihat benar.

  84. yanto says says:

    jangan pada banyak komen yg jelas nikmati saja kisahnya toh kita bisa ambil hikmah nya

  85. actorias says:

    kalau mau menolong kenapa harus di kawin ? Tolong aja, kalau kita memberi justru tangan kanan tidak perlu tau. Kalau kita punya anak perempuan dimadu bgmn ?

  86. robin says:

    alhamdulilah,, aku jadi pengen ni poligami yang baik… jadi pengen punya banyak istri nih… kapan ya hukum Indonesia memperbolehkan poligami secara syah seperti di Timur tengah

  87. arti says:

    wah critanya lebih menonjolkan kelebihan ustadznya…..tp kalau dibaca para ikhwan pasti termotivasi poligaminya….

  88. Disunjun says:

    Pak Moeflich, ada tdk kisah nyata wanita poliandri…. Kalau ada di upload Pak…. Karena saya melihat di sekitar saya ada beberapa wanita yg poliandri tanpa sepengetahuan suaminya….

  89. AW says:

    saya secara prbadi tdk setuju…..mendingan di ceraikan dari pada poligami,,,,,(walau saya telah beristri 3 kali dan saya memilih menceraikannya dari pada poligami) ,,,tetap perasaan wanita biarpun dlm hati kecilnya ngak mungkin mau,,,,,biarpun dengan alasan ibadah ,,,semua bisa dilakukan dengan tdk harus mengawininnya….thanks

  90. love jesus says:

    IsssasSssss amit amit..m..kedok doang nama y suami penghianat…;jijai baca y

  91. 1 kisah nyata yang sangat mengharukan, keridhoan dan keiklasan seorang istri yang mengagumkan, bisakan kita sperti itu?..insyaallaah, bila itu memang sdah takdir maka tak seorangpun bisa melawannya, termasuk diriku…

  92. ijin share ya pa, trimakasih.

  93. Irma property says:

    Jangan terlalu berlebihan dalam menilai seseorang yang menganut poligami … kita manusia punya peran nya masing masing ,…. Kita jalankan saja peran yang kita dapat kan dan ketahuilah hanya manusia yang tertentu yang mampu menjalanininya … InsyaALLAH yang menjalani kehidupan poligami tidak melenceng dari poligami itu sendiri …. menurut saya lebih baik poligami dari pada suami melakukan zina/perselingkuhan yang akan mendatangkan azab bagi keluarga … lihat lah sekarang ini begitu banyak nya kesempatan untuk melakukan maksiat …ALLAH memberikan kita pilihan …, kita manusia yang dapat menentukan mana yang terbaik buat kita …. yang terpenting segala apa yang kita jalani sudah kita fikirkan dan sudah siap untuk menerima baik dan buruk nya …. mudah2an niat baik akan berbuah baik …

  94. kisah nyata yang sangat-sangat mengharukan
    izin copy ya sob. tks

  95. AMIN says:

    KALAU SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT (INDONESIA) MENOLAK POLIGAMI SAYA KIRA PERLU DI AMAKLUMI. KARENA BUDAYA KITA MEMANG BELUM MENDUKUNG KE SANA. MASYARAKAT MELIHAT ISTRI TUA PASTI PUNYA “KEKURANGAN”. SEMENTARA LAKI LAKINYA SUDAH DICURIGAI MEMENTINGKAN NAFSU ATAS NAMA IBADAH. ITULAH REAITANYA. SEBAB ITULAH BAGI PELAKU POLIGAMI HARUS MEMBERIKAN BUKTI TERBAIK. BAHWA POLIGAMI MEMANG MENGUNTUNGKAN SEMUANYA. JANGAN MALAH SEBALIKNYA. DENGAN DEMIKIAN KEDEPAN HARAPANNYA POLIGAMI YANG MEMANG DIBOLEHKAN SECARA AGAMA CITRANYA SEMAKIN BAIK.

  96. pratini says:

    Ustadz Ahmad Manusia berhati mulia seperti malaikat

  97. Pojok says:

    Waduhhh…. dapet 1 aja susah banget nich…

  98. ruar says:

    Saya hanya bisa bilang salut dengan pak ustadz. Beginilah kontroversi jaman sekarang. Banyak perempuan jaman sekarang yg pasti tidak ingin dimadu, sebenarnya bukan alasan ga ingin dimadu tetapi alasan gengsi, materi dan ingin menguasai suaminya. Jika suaminya bukanlah ahli agama, wajar lah ga mau dimadu, karena jelas suaminya aj belum tentu masuk syurga, tetapi bagi suami yg tanda-tanda agamanya tinggi, sebenarnya ga ada alasan buat perempuan tersebut tidak mau dimadu. Mau alasan ga alasan, konspirasi tetap ditangan Allah, jika tidak mau di madu kenapa masuk Islam, sekalian murtad saja. Klo mau Allah ga ridho ya jangan masuk Islam, maka bersenang-senanglah anda di dunia yg dimana tidak tempat anda di akhirat. Nabi muhammad itu termasuk nabi yg hanya memiliki istri yg sedikit, sedangkan nabi2 sebelumnya istri mereka sudah tidak bisa di itung dengan tangan. Seharusnya bersyukurlah dengan datangnya nabi muhammad. Nabi Muhammad datang sebagai penutup para Nabi bukan untuk menghilangkan poligami tetapi sebagai petunjuk bagi kaum yg berakal, agar perempuan2 yg dimadu pilihlah suami yg diridhoi Allah/penghuni syurga agar saat di poligami tidak merugikan diri sendiri juga. Yang ditakutkan jika suaminya bukanlah ahli syurga, yaitu perangainya mengajarkan kebusukan dan sang istri ikut dengan itu tentulah si istri akan ikut masuk neraka. Nah bagi perempuan yg ingin masuk syurga maka carilah suami yg membawa kesyurga, mending di poligami oleh laki2 ahli syurga daripada monogami dengan laki2 ahli neraka. Pilihan ada di TANGAN anda, anda punya otak maka gunakan otak, anda juga punya rasa maka gunakan rasa yg benar. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 658 other followers

%d bloggers like this: