Mengatasi Derita Jiwa yang Tak Kunjung Sirna

Oleh Moeflich Hasbullah

a

Sering resah, gelisah, jenuh, tak menentu? Bingung mengatasi persoalan? Masalah tak tahu pemecahannya? Sudah berusaha berdo’a, sabar, pasrah dan tawakal tapi persoalan tak hilang-hilang? Jawabanya, salah cara mengatasinya! Bacalah ini, Insya Allah membantu!!

__________________

Penderitaan jiwa, berat maupun ringan, sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia di zaman modern ini. Sadar atau tak sadar, banyak orang merasakan penderitaan dan rintihan dalam batinnya. Terhibur dalam keramaian tapi tersiksa dalam kesunyian. Tertawa bersama teman, menjerit dalam kesendirian. Menemukan orang yang tepat untuk curhat sulit, orang tua tidak mengerti, kawan dekat tak bisa memberi solusi. Sudah terkuras energi, usaha tak ada bukti. Kemana harus pergi? Pada siapa harus mencari?

Posisi lumayan tinggi tapi orang tak tahu isi hati. Kedudukan terhormat tapi orang tidak tahu hati melarat. Jabatan terpandang tapi orang tak tahu hati meradang. Merasa sebagai orang kaya, punya perusahaan, banyak harta, istri cantik, dihormati orang, tapi hidup tak ada ketenangan. Uang banyak dan berkecukupan tapi orang tidak tahu hidup selalu resah dan gelisah. Pendidikan tinggi, ilmu luas, tapi ketaatan agama tak ada peningkatan, merasa pintar tapi tak punya teman dekat, hidup merasa sendiri dan pusing oleh masalah, pada Tuhan tak ada kedekatan, ada sesuatu yang hilang dalam diri. Ketenangan batin adalah barang mahal, kenikmatan hidup jarang dirasakan, bahagia entah dimana.

Problem ini dirasakan termasuk oleh orang-orang yang taat menjalankan kehidupan agamanya sehari-hari. Dalam keramaian seperti tak ada masalah, tapi dalam kesendirian batinnya menjerit karena masalah tak hilang-hilang, beban perasaan terasa berat, stres oleh pekerjaan yang menumpuk, jodoh tak kunjung datang, uang dan materi berlimpah tapi tak ada ketenangan hidup, makanan di rumah tak pernah kekurangan tapi tak ada kenikmatan. Bingung serasa hampir memecahkan kepala, tak tahu harus bagaimana dan harus kemana. Akhirnya, tak betah di rumah, semua orang dianggap tak mengerti, asing dengan diri sendiri, hidup serasa tak bermakna.

Untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini, umumnya orang melakukan tiga berikut ini: Pertama, refresing dalam berbagai bentuknya seperti rekreasi, hiburan, nonton, olah raga, jalan-jalan, kumpul-kumpul menghabiskan waktu, nongkrong di café atau belanja menghabiskan uang. Kedua, menyibukkan diri dalam berbagai aktifitas yang diharapkan bisa melupakan problem-problem hidupnya untuk sementara. Ketiga, menghukum dirinya sendiri dengan duduk berjam-jam depan komputer menghabiskan waktu dengan main game seharian, chatting semalaman mencari orang yang bisa menghibur, atau yang paling populer sekarang, fesbukan. Ditulislah status-status yang berisi kalimat-kalimat indah, puisi atau curhat yang mengkespresikan penderitaan jiwa yang sedang dialaminya: tentang kehampaan hidup, ketiadaan cinta, kesendirian, kekecewaan dan lain-lain. Seperti sedang berpuisi padahal sedang menggelisahkan dirinya sendiri. Dengan cara-cara itu semua, ia berharap penderitaannya akan berkurang atau hilang. Tapi kenyataan tidak, masalah tetap saja lestari, muncul dan muncul lagi. Saat jalan-jalan dan kumpul dengan teman masalah lupa sejenak, tapi ketika pulang menerjang lagi. Akhirnya, mencari hiburan adalah tindakan salah kaprah. Mengapa? Jawabannya mudah, karena yang menderitanya jiwa tapi yang diobatinya fisik. Sumber masalahnya dalam batin, tapi yang dilakukan tindakan-tindakan lahir. Yang merasakannya hati tapi jawabannya adalah fikiran atau tindakan-tindakan rasional. Ibaratnya, motor rusak dibawa ke puskesmas, sakit gigi datang ke bengkel, demam pergi ke tukang jahit. Akhirnya, masalah tidak hilang-hilang!

Mengatasi penderitaan jiwa dengan bentuk-bentuk hiburan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang kita dapatkan dari hiburan hanyalah kegembiraan atau kesenangan sesaat yang ketika pulang ke rumah atau kembali pada kesendirian, derita-derita itu datang lagi. Begitulah seterusnya. Karena sudah menjadi sistem kesadaran yang berlangsung lama, akhirnya penderitaan muncul terus-menerus. Derita-derita itu tak hilang-hilang dan sangat menyiksa.

Tidak Tepat Terapi

Salah terapi membuat masalah tidak sembuh-sembuh sehingga penderitaan datang terus-menerus. Setiap masalah yang dialami manusia ada sebab dan akarnya sendiri-sendiri. Karena itu, proses penyembuhannya pun berbeda satu sama lain. Penyembuhan dengan pendekatan agama secara umum, misalnya dengan memperbanyak dzikir, shalat sunat atau sabar dan tawakkal tidak akan menyelesaikan masalah karena itu semua tidak mengungkap akar-akar masalahnya. Ibaratnya, harusnya datang ke dokter spesialis tapi kita datang ke dokter umum.

Mengatasi kesulitan dan masalah hidup bukan dengan sabar dan tawakal atau dengan wirid/dzikir sekian ribu kali, istikharah, puasa senin-kamis, tahajjud atau baca asma ul-husna dengan bilangan tertentu. Semua praktek itu untuk menenangkan jiwa bukan untuk menyelesaikan masalah. Banyak mengingat Allah dengan berdzikir itu untuk menenangkan hati: “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub” (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang). Mengingat Allah beda dengan menyelesaikan masalah. Banyak orang rajin berdzikir tapi mental buruknya tetap saja tidak hilang, banyak orang shalatnya rajin tapi ketika mengejar keinginan tetap saja menghalalkan segala cara, banyak orang sabar dan tawakkal tetap saja jodohnya tidak datang, orang rajin puasa sunat tapi tetap saja kesadaran hidupnya rendah. Bukan ritual agamanya yang salah, tapi antara masalah dengan penyelesaian tidak nyambung. Bukan ibadah yang salah, tapi pengobatan tidak tepat.

Shalat sunat, puasa sunat atau dzikir adalah ibadah tambahan untuk melengkapi atau menyempurnakan ibadah-ibadah wajib yang banyak kekurangannya atau yang kita kerjakan tidak maksimal. Ibadah-ibadah sunat itu kita laksanakan sebagai ketaatan pada nabi untuk mencontoh perilaku dan kebiasaan beliau sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah). Kalau pun berdampak pada berkurangnya beban masalah atau kesembuhan penyakit, itu karena kasih sayang Allah saja, bukan oleh ibadah-ibadah itu. Beridabah kepada Tuhan bukan untuk tujuan menyelesaikan masalah. Masalah tidak selesai dengan ibadah.

Bagaimana Mengatasi Masalah yang Tepat?

Ketika penderitaan-penderitaan jiwa menghimpit seseorang pengobatannya bukan dengan memperbanyak dzikir, wirid atau membaca asma ul-husna, apalagi refreshing ke tempat-tempat hiburan. Yang seharusnya dilakukan adalah banyak merenung mencari sebabnya, menghisab diri (introspeksi) atas semua kesalahan, dosa, pembangkangan dan pelanggaran-pelanggaran agama yang pernah dilakukannya. Tapi, ini agak sulit. Tidak mudah orang menemukan dan menyadari kesalahan-kesalahannya sendiri. Maka, satu-satunya cara carilah orang yang bisa memberikan nasehat!! Tanyakanlah mengapa masalah demi masalah datang tak habis-habisnya, kemudian duduk, diam dan dengarkan orang yang menasehati kita.

Orang yang diminta nasehat harus orang yang tepat: yang bersih hatinya, lurus hidupnya, jernih pandangannya, taat agamanya, satu kata antara hati dan perbuatannya, bisa menguasai hawa nafsunya dan tidak mencintai dunia. Dan yang penting dicatat, bukan orang (termasuk kiayi atau ahli hikmah) yang memberikan resep-resep instan agar masalah cepat selesai, tapi yang bisa menguraikan kesalahan-kesalahan kita, membeberkan kelemahan dan kekurangan kita yang semua menjadi penyebab yang tidak disadari (hijab ruhani) munculnya masalah-masalah dalam diri kita, lahir maupun batin.

Mencari orang seperti itu tidak susah bila ada kemauan. Malas atau membayangkan sulit mencarinya adalah penghalang pertama dari kesembuhan. Cara untuk menemukan orang seperti itu adalah dengan menghidupkan kepekaan hati atau qalbu kita: siapakah dalam lingkungan pergaulan kita, atau yang pernah kita kenal atau kita dengar memiliki atau paling dekat dengan sifat-sifat yang disebutkan di atas. Kuburkanlah status sosial kita saat mencari orang seperti itu, jauhkanlah kesombongan karena kebenaran tak ditemukan melalui gengsi dan keangkuhan. Semakin mampu kita menguburkan egosime dan kesombongan, semakin rendah memandang diri sendiri, semakin merasa diri penuh dengan kelemahan dan kekurangan bahkan kehinaan, Insya Allah, “antena” kita makin kuat untuk menangkap sinyal dimana orang yang layak memberikan nasehat itu berada. Orang yang tepat itu tak selalu berhubungan dengan ketenaran, usia, sebutan kiayi, ustadz dan sebagainya.

Bila sudah menemukan, datangi lalu pintalah nasehatnya. Tanyakanlah mengapa kita selalu banyak masalah. Tanyakanlah mengapa kita terpuruk, mengapa kita jatuh, mengapa kita stres, mengapa kita tidak dihormati orang, mengapa sulit mencari jodoh, mengapa anak-anak di rumah tidak hormat dan sulit diatur dst. Tanyakanlah kesalahan dan keburukan apa yang kita lakukan. Ketika nasehat diberikan, praktekkanlah rumus 3D: duduk, diam, dengarkan! Hanya itu yang patut kita lakukan saat mendengarkan nasehat. Janganlah pernah membantah nasehat dengan penjelasan dan kata-kata, dengan pikiran, dengan argumen, bela diri dan apologi. Bila itu ditunjukkan, itulah penghalang kedua dari kesembuhan.

Penyakit umum kita adalah membantah nasehat dan banyak menjelaskan. Buanglah jauh-jauh kedua sifat itu. Argumen dan penjelasan diperlukan dalam kegiatan diskusi bukan saat menerima nasehat. Salah satu problem akut manusia modern adalah sulitnya menundukkan hati untuk mendengarkan nasehat dengan rendah hati, tawadhu dan pengakuan kesalahan. Bila rumus 3D itu dijalankan, Insya Allah, jawaban dari persoalan-persoalan hidup yang kita rasakan akan berkurang kemudian hilang. Mengapa? Karena kita melakukan secara tepat tiga hal: benar memahami masalah diri, benar kemana kita harus datang, dan benar apa yang harus kita lakukan. Tepat identifikasi masalah, tepat cara/metoda dan tepat langkah, pasti akan mendatangkan tepat hasil.[] Wallahu’alam! (Kontak penulis: 08562051200).

5 Responses to Mengatasi Derita Jiwa yang Tak Kunjung Sirna

  1. Firman says:

    Subhanallah… mohon do’a restunya serta dukungannya agar saya juga kita semua tetap selalu mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah Swt…

  2. Dwi widyawati says:

    Subhanallah…semoga ku mendapat hidayah dari Allah SWT lewat tulisan blog ini…..sejak mimpi bertemu rosulallah Muhammad SAW yang ke-2 kalinya hidupku penuh dengan kegelisahan, atau mungkin memang sebelumya sudah selalu gelisah?? sepertinya pikiran saya spt benang ruwet yg perlu diurai satu-satu…dengan diantar suami pergi ke ustad, kyai hingga dukun berkedok kyai dan mendapat amalan2 serta rampe2nya hingga saat ini ku belum mampu mengatasi kegelisahan hati. Ada banyak kejadian dan kejangalan yg kurasakan dari mimpi bertemu rosulallah di makam, mimpi mengikuti rosulallah ke pengajian hingga mimpi orang-orang disalib serta melihat mahluk halus layaknya manusia biasa…menangis itu yg selalu aku lakukan walau aku bukan orang penakut namun sekarang sering ketakutan dengan hal-hal gaib……

  3. Subhanallah… mohon bantuannya agar saya juga bisa mendapatkan titik terang dari semua derita batin saya ini…secepatnya.

  4. AstaughfirulLah,
    trxta smw yg sya lKukn slma nie slh.
    Dr cra 3D t0e sya fham,btpa sngat kurang skali sya memhami sgla prs0alan yang tak pernah selsai n mlah mNmbahkn mslh.

  5. Moeflich says:

    Alhamdulillah … semua oran yg membaca tulisan di atas, kemudian mengontak saya mengadukan masalahnya dan saya pertemukan dengan org yang tepat, semua merasa bersyukur masalahnya teratasi. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,847 other followers